Prof. Dra.Herawaty Abbas Raih Gelar Guru Besar Universitas Hasanuddin

0
FOTO: Prof. Dra. Herawaty Abbas, M.Hum., M.A., Ph.D. Guru Besar Bidang Ilmu Kesusastraan, Fakultas Ilmu Budaya.
FOTO: Prof. Dra. Herawaty Abbas, M.Hum., M.A., Ph.D. Guru Besar Bidang Ilmu Kesusastraan, Fakultas Ilmu Budaya.

LEGIONNEWS.COM – MAKASSAR, Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., mengukuhkan Prof. Dra.Herawaty Abbas, M.Hum., M.A., Ph.D., Sebagai Guru Besar melalui Rapat Paripurna Senat Akademik Terbatas dalam rangka Upacara Pengukuhan dan Penerimaan Anggota Dewan Profesor, Rabu (26/8/2026).

Prof. Dra.Herawaty Abbas, M.Hum., M.A., Ph.D., meraih gelar Guru Besar Bidang Ilmu Kesusastraan, Fakultas Ilmu Budaya

Judul: “Kesusastraan Australia sebagai Ruang Dialog Budaya: Membaca Identitas, Memori, Keberagaman, dan Harmoni Kemanusiaan dalam Dunia yang Majemuk”.

Advertisement

Salah satu manfaat terbesar kajian kesusastraan Australia adalah kemampuannya membantu memahami keberagaman. Australia merupakan negara yang dibangun melalui perjumpaan berbagai kelompok budaya (masyarakat aborigin, keturunan Eropa, migran Asia, komunitas Timur Tengah, dan berbagai kelompok diaspora lainnya.

Novel Promising Azra karya Helen Thurloe memperlihatkan identitas bukan sesuatu yang kaku dan tunggal, melainkan sesuatu yang terus dibentuk melalui interaksi sosial.

Sastra berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan budaya yang berbeda. Melalui karya-karya Australia, mahasiswa Indonesia dapat memahami kehidupan masyarakat yang secara geografis dekat, tetapi secara budaya sering kali kurang dipahami. Sebaliknya, kajian sastra membuka peluang bagi terjadinya dialog antara pengalaman Indonesia dan Australia.

Sastra berperan membangun harmoni sosial. Melalui penelitian terhadap karya Australia, ditemukan bahwa berbagai konflik sosial seringkali berakar pada kegagalan memahami pengalaman orang lain. Diskriminasi muncul ketika manusia tidak mampu melihat kemanusiaan dalam diri orang yang berbeda. Sastra bukan sekedar kajian tentang teks, melainkan kajian tentang manusia dan masa depannya. (*/mir)

Advertisement