Di Unpad, Taruna Ikrar Dorong Mahasiswa Farmasi Kuasai AI, Genomik, dan Bioteknologi

0

LEGION NEWS || BANDUNG — Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., memberikan kuliah tamu bertajuk “Perkembangan Ilmu Farmasi di Era Artificial Intelligence (AI) dan Precision Medicine” dalam rangkaian Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran (Unpad) Tahun Akademik 2026/2027 di Bandung, Kamis (13/8/2026).

Kegiatan yang dihadiri ribuan sivitas akademika Unpad, mulai dari mahasiswa baru, mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan hingga jajaran pimpinan universitas tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan transformasi dunia farmasi dan kesehatan kepada generasi baru. Dalam kegiatan itu, Taruna Ikrar turut didampingi jajaran pejabat eselon I, II, dan III di lingkungan BPOM RI.

Rektor Universitas Padjadjaran Prof. dr. Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, Sp.M(K)., M.M., M.Kes., Ph.D. dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran Kepala BPOM RI di tengah sivitas akademika Unpad. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlangsung semakin cepat menjadi tantangan sekaligus peluang bagi perguruan tinggi untuk terus memperkuat pendidikan, penelitian, inovasi, dan kolaborasi lintas disiplin.

Advertisement

Kehadiran Kepala BPOM dalam rangkaian penerimaan mahasiswa baru juga memberikan perspektif kepada mahasiswa mengenai hubungan erat antara ilmu pengetahuan, inovasi, industri, kebijakan publik, dan regulasi. Perguruan tinggi memiliki posisi strategis untuk melahirkan generasi ilmuwan dan profesional yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi mampu menghadirkan solusi terhadap berbagai persoalan kesehatan masyarakat.

Di hadapan ribuan sivitas akademika tersebut, Taruna Ikrar memaparkan perubahan besar dunia kesehatan dan kefarmasian seiring pesatnya perkembangan Artificial Intelligence, big data, genomik, bioteknologi, dan precision medicine. Perubahan tersebut, menurutnya, akan memengaruhi hampir seluruh tahapan pengembangan obat, mulai dari identifikasi target terapi, penemuan kandidat obat, penelitian praklinik dan klinik, hingga pemantauan keamanan obat setelah digunakan masyarakat.

Menurut Taruna, generasi baru farmasi harus mempersiapkan diri menghadapi transformasi tersebut. Kompetensi kefarmasian masa depan tidak cukup hanya bertumpu pada pemahaman mengenai obat, formulasi, produksi, dan pelayanan kefarmasian, tetapi perlu diperkuat dengan kemampuan memahami data, teknologi digital, biologi molekuler, genetika, serta pemanfaatan AI secara bertanggung jawab.

“Artificial Intelligence bukan untuk menggantikan manusia, tetapi menjadi instrumen yang memperkuat kemampuan manusia dalam mengambil keputusan berbasis ilmu pengetahuan dan data. Mahasiswa farmasi hari ini harus mempersiapkan diri menjadi ilmuwan dan tenaga profesional yang mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut,” ujar Taruna.

Taruna menjelaskan, salah satu potensi besar AI dalam ilmu farmasi adalah kemampuannya menganalisis data dalam jumlah sangat besar secara lebih cepat. Teknologi ini dapat membantu peneliti melakukan pemodelan molekul, memprediksi interaksi obat dengan target biologis, mengidentifikasi kandidat senyawa potensial, serta mendukung desain penelitian dan pengembangan obat secara lebih efisien.

Namun, Taruna mengingatkan bahwa kecepatan inovasi teknologi harus berjalan beriringan dengan keselamatan pasien, validitas ilmiah, integritas data, etika penelitian, dan pengawasan regulator. Kemajuan teknologi tidak boleh menjadi alasan untuk menurunkan standar keamanan, khasiat, dan mutu obat.

“Teknologi boleh berkembang sangat cepat, tetapi keselamatan masyarakat tidak boleh dikompromikan. Inovasi harus memiliki bukti ilmiah yang kuat, data yang dapat dipertanggungjawabkan, dan memenuhi standar regulatori,” tegasnya.

Selain AI, Taruna menyoroti perkembangan precision medicine atau kedokteran presisi sebagai salah satu lompatan penting dalam pelayanan kesehatan modern. Pendekatan tersebut memungkinkan terapi semakin disesuaikan dengan karakteristik individual pasien, termasuk profil genetik, biomarker, lingkungan, dan faktor gaya hidup.

Menurutnya, perkembangan tersebut membuka peluang terciptanya terapi yang semakin tepat sasaran dan berpotensi memberikan hasil pengobatan yang lebih optimal. Karena itu, ilmu farmasi masa depan akan semakin terintegrasi dengan bidang genomik, bioinformatika, diagnostik molekuler, bioteknologi, serta pengelolaan data kesehatan.

Transformasi ini sekaligus menjadi tantangan bagi perguruan tinggi untuk terus memperbarui pendidikan dan penelitian kefarmasian. Kampus dituntut menghasilkan lulusan yang tidak hanya menguasai ilmu dasar dan profesi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, inovatif, multidisiplin, serta memahami perkembangan teknologi global.

Taruna juga mendorong Fakultas Farmasi Unpad untuk terus memperkuat penelitian yang dapat diterjemahkan menjadi inovasi dan produk yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Ia menekankan pentingnya kolaborasi Academic, Business, dan Government (ABG) untuk mempercepat perjalanan hasil penelitian dari laboratorium menuju hilirisasi dan pemanfaatan oleh masyarakat.

Dalam ekosistem tersebut, perguruan tinggi menjadi sumber ilmu pengetahuan dan inovasi, industri berperan dalam hilirisasi dan produksi, sedangkan pemerintah membangun kebijakan dan sistem regulasi yang memastikan inovasi dapat berkembang tanpa mengabaikan perlindungan masyarakat.

Taruna mengajak mahasiswa baru Fakultas Farmasi Unpad untuk tidak sekadar mengejar prestasi akademik. Sejak awal memasuki perguruan tinggi, mahasiswa didorong membangun rasa ingin tahu, kemampuan riset, penguasaan teknologi dan bahasa asing, jejaring internasional, serta keberanian menghasilkan inovasi.

“Mahasiswa yang masuk Fakultas Farmasi pada 2026 akan menghadapi dunia yang sangat berbeda ketika mereka lulus nanti. Karena itu, jangan hanya belajar untuk menjawab ujian. Belajarlah untuk menjawab persoalan kesehatan masyarakat dan menciptakan inovasi yang dibutuhkan masa depan,” pesannya.

Kuliah tamu tersebut sekaligus menjadi momentum bagi ribuan sivitas akademika Unpad untuk melihat bahwa ilmu dan profesi farmasi sedang berada di tengah transformasi besar dunia kesehatan. Integrasi antara ilmu farmasi, Artificial Intelligence, precision medicine, genomik, bioteknologi, dan teknologi digital diperkirakan akan semakin menentukan arah penemuan dan pengembangan obat serta pelayanan kesehatan pada masa mendatang.

Melalui rangkaian PMB Fakultas Farmasi Unpad Tahun Akademik 2026/2027, mahasiswa baru diharapkan memperoleh perspektif sejak awal bahwa pendidikan tinggi bukan semata perjalanan memperoleh gelar, melainkan proses mempersiapkan diri menjadi generasi ilmuwan dan profesional kesehatan yang adaptif, berintegritas, serta mampu melahirkan inovasi agar Indonesia semakin berdaya saing di tingkat global.

Advertisement