Kudeta 10 November yang Gagal, Dana Makar Rp60 T Libatkan Mahasiswa dan influencer untuk Jatuhkan Prabowo

0
FOTO: Joko Widodo dan Prabowo Subianto.  (Kolase) 
FOTO: Joko Widodo dan Prabowo Subianto.  (Kolase) 

LEGIONNEWS.COM – Pernyataan terbuka pendiri Astronacci International Group Profesor Gema yang melontarkan tudingan keras terkait kasus dugaan penyadapan ilegal yang menyasar Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah tokoh.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Kamis (5/11/2026), Gema mengaitkan kasus penyadapan tersebut dengan dugaan upaya makar dan sabotase terhadap program pemerintah.

Ia bahkan menyebut ada dugaan aliran uang sebesar Rp25 triliun dari mafia koruptor untuk menghancurkan arah kebijakan ekonomi pemerintahan Prabowo.

Advertisement

“Jadi gini guys, gema cerita besar soal kasus penyadapan presiden prabowo,” dia bilang ini bukan penyadapan biasa tapi makar.

Ceritanya begini menurut dia, ada kelompok yang mau presiden turun dalam dua tahun, jadi mereka bayar uang muka sekitar 25 triliun, dan total biayanya katanya 50 sampai 60 triliun.

“Bayangin kayak proyek besar, ada yang patungan modal, ada yang jadi pelaksana, ada yang jadi pembeli hasilnya,” tapi dia tidak nyebut nama pendana secara jelas

“Penyadapan ini adalah makar bagian dari skandal uang muka 25 triliun yang dibayarkan oleh mafia koruptor dalam rangka menghancurkan grand design probonomics The Fishing Game yang pernah gua share tahun lalu,” kata Gema.

Caranya menurut dia dua jalur, pertama menyadap telepon pejabat supaya tahu rencana pemerintah lebih dulu, kedua membayar orang seperti artis, influencer, mahasiswa, dan ekonom buat terus menyebar berita jelek tentang pemerintah

tujuannya katanya supaya rakyat tidak percaya pemerintah, terpecah belah, lalu presiden turun dan diganti orang yang sudah disiapkan, dia bahkan bilang rencananya meledak 10 november 2026

Menurutnya, penyadapan dilakukan untuk mengetahui rencana proyek pemerintah sebelum dijalankan, sehingga pihak tertentu bisa menyiapkan upaya sabotase.

Gema menilai kondisi tersebut berpotensi memicu ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah, memperlebar polarisasi, hingga mendorong tuntutan agar Presiden Prabowo turun dari jabatannya.

Ia juga menuding sejumlah pihak, mulai dari artis, influencer, mahasiswa hingga akademisi, dibayar untuk menyebarkan narasi negatif terhadap pemerintah.

“Lalu alatnya apa? Mereka membayar oknum artis, influencer, mahasiswa, ekonom, akademisi, social media user,” ujarnya.

Gema kemudian menyebut tiga kelompok yang menurutnya menjadi pihak yang berseberangan dengan pemerintah, yakni mafia dan koruptor, oligarki asing maupun lokal, serta elite global Barat.

Ia juga mengajak pendukung pemerintah untuk bersatu dan memboikot pihak-pihak yang dianggap menyebarkan narasi untuk menjatuhkan pemerintahan.

Dalam pernyataannya, Gema bahkan menggunakan diksi keras dengan menyebut perlunya membinasakan pihak yang dianggap sebagai pengkhianat jika tidak mau bersatu.

Ia juga memperingatkan masyarakat agar tidak terlibat dalam dugaan proyek makar yang ia sampaikan.

“Jangan tergabung di dalam proyek makar seperti ini karena kamu bisa berpeluang kena hukuman seumur hidup atau hukuman mati,” kata Gema.

caranya menurut dia dua jalur, pertama menyadap telepon pejabat supaya tahu rencana pemerintah lebih dulu, kedua membayar orang seperti artis, influencer, mahasiswa, dan ekonom buat terus menyebar berita jelek tentang pemerintah

tujuannya katanya supaya rakyat tidak percaya pemerintah, terpecah belah, lalu presiden turun dan diganti orang yang sudah disiapkan, dia bahkan bilang rencananya meledak 10 november 2026. (*)

Advertisement