KPU, Pemilu 2029: 70 Persen Didominasi Generasi Z dan Milenial, Saatnya Anak Muda Pimpin Golkar Makassar, ini Kata Pengamat Politik

0
FOTO: Kantor Sekretariat DPD II Partai Golkar Makassar yang terletak di jalan Lasinrang, Kelurahan Mangkura, Rabu (18/1/2023)
FOTO: Kantor Sekretariat DPD II Partai Golkar Makassar yang terletak di jalan Lasinrang, Kelurahan Mangkura, Rabu (18/1/2023)

LEGIONNEWS.COM – MAKASSAR, Partai golkar kota Makassar, Saatnya dipimpin anak muda, Guna menambah tingkat elektabilitas partai yang berlambangkan pohon beringin rindang itu.

Pasalnya, Demokrasi Indonesia sedang mengalami perubahan demografis yang signifikan.

Proyeksi untuk Pemilihan Umum (Pemilu) 2029 menunjukkan bahwa suara pemilih muda, terutama Generasi Z dan milenial akan mendominasi, diprediksi mencapai 60 hingga 70 persen dari total daftar pemilih.

Advertisement

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Anggota KPU, August Mellaz, dalam sambutannya pada Rapat Koordinasi PPID KPU Tahun 2025, di Jakarta, pada Minggu (20/12/2025).

Mellaz menekankan bahwa ledakan demografi ini menempatkan Generasi Z, yang tumbuh di era digital, sebagai penentu arah kebijakan bangsa di masa depan.

DPD II Golkar Makassar bakal menggelar Musyawarah Daerah (Musda) dalam waktu dekat ini.

Partai golkar di kota Makassar memiliki sejumlah kader partai merupakan generasi Z dan milenial, Mereka diantaranya, Andi Nurhaldin, Andi Suharmika Hasir dan Eshin Usami Nur Rahman

Andi Nurhaldin saat ini Ketua DPD Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Sulawesi Selatan. Ia pernah tercatat sebagai anggota DPRD Kota Makassar Periode 2020-2024.

Kemudian, Ada nama Andi Suharmika Hasir, Ia merupakan anggota DPRD Kota Makassar 2 periode.

Lalu, ada Eshin Usami saat ini anggota DPRD Kota Makassar, Ia tercatat sebagai Bendahara Fraksi Golkar.

Ketiganya merupakan anak dari poitisi senior partai golkar di Sulawesi Selatan, Bila tiga generasi muda kader golkar ini maju dalam Musda mendatang, Tentunya ketiga kader muda itu memenuhi syarat pencalonan karena memiliki, Prestasi, Dedikasi, Loyalitas, dan Tidak Tercela (PDLT).

Pengamat politik dari Profetik Institute, Asratillah mengatakan sangat terbuka untuk dipimpin oleh anak muda, termasuk figur seperti Andi Nurhaldin, Andi Suharmika dan Eshin Usami.

Namun kata Direktur Profetik Institute itu, Persoalan utamanya bukan terletak pada usia, melainkan pada kapasitas kepemimpinan, pengalaman organisasi, kemampuan membangun komunikasi politik, serta sejauh mana mereka mampu menyatukan kader.

“Dalam politik, usia muda tidak otomatis berarti minim pengalaman, sebagaimana usia senior tidak selalu menjamin kemampuan memimpin. Karena itu, ukuran yang paling relevan adalah kompetensi, integritas, dan kemampuan menggerakkan organisasi,” ujar Asratillah, Ahad (10/10/2026).

“Saya melihat momentum pergantian kepemimpinan setelah Munafri Arifuddin meninggalkan Golkar sebagai kesempatan untuk mengevaluasi regenerasi di tubuh partai,” tutur Direktur Profetik Institute.

Dikatakannya, Golkar Makassar membutuhkan pemimpin yang tidak hanya mampu menjaga stabilitas organisasi, tetapi juga menghadirkan energi baru dan memperluas keterlibatan generasi muda.

“Nurhaldin, Suharmika dan Eshin Usami dapat menjadi bagian dari pembicaraan regenerasi tersebut. Namun, ketiganya perlu dinilai berdasarkan rekam jejak, basis dukungan kader, pengalaman mengelola organisasi, serta gagasan konkret untuk membawa Golkar Makassar menghadapi tantangan politik ke depan,” katanya menjelaskan.

Di sisi lain, Kata Direktur Profetik Institute ini, Ketiganya juga harus memahami bahwa memimpin partai politik bukan pekerjaan yang sederhana.

Ketua partai harus mampu mengelola perbedaan kepentingan, menjaga soliditas antarkader, membangun hubungan dengan struktur partai di tingkat atas, serta merawat jaringan politik hingga tingkat kecamatan dan kelurahan.

“Apalagi, Golkar Makassar sedang memasuki masa konsolidasi menjelang Musda. Artinya, siapa pun yang kelak memimpin harus mampu memastikan bahwa pergantian kepemimpinan tidak menimbulkan perpecahan atau menyisakan kelompok kader yang merasa tersisih,” beber Asratillah.

“Saya kira, regenerasi yang sehat bukan berarti menyingkirkan kader senior demi memberi tempat kepada anak muda. Yang dibutuhkan adalah pertemuan antara pengalaman generasi senior dan inovasi generasi muda,” tambah Direktur Profetik Institute.

Dijelaskanya, Kader senior memiliki pengetahuan tentang sejarah, jaringan, dan mekanisme organisasi, sedangkan kader muda dapat membawa pendekatan baru dalam komunikasi politik, pemanfaatan teknologi, serta pengorganisasian pemilih.

Kombinasi keduanya dapat menjadi kekuatan apabila dibangun atas dasar kesetaraan dan visi bersama, bukan hubungan patronase yang membuat kader muda hanya menjadi pelengkap kepemimpinan.

Pada akhirnya, Golkar Makassar layak dipimpin oleh anak muda apabila mereka mampu menunjukkan kapasitas, memperoleh kepercayaan kader melalui mekanisme organisasi yang demokratis, dan menawarkan arah kepemimpinan yang jelas.

Nurhaldin, Eshin Usami maupun Suharmika perlu diberi ruang yang sama untuk menunjukkan kemampuan mereka, tanpa mengabaikan kandidat lain yang juga memiliki rekam jejak dan dukungan organisasi.

“Musda seharusnya menjadi arena adu gagasan dan kapasitas, bukan pertarungan usia atau sekadar perebutan jabatan. Sebab, ukuran keberhasilan seorang ketua bukanlah seberapa muda usianya ketika terpilih, melainkan seberapa kuat organisasi yang ia bangun dan seberapa jauh manfaatnya dirasakan oleh kader serta masyarakat Makassar,” kunci Direktur Profetik Institute ini. (LN)

Advertisement