
LEGIONNEWS.COM – MAKASSAR, Gunakan pakaian adat Bugis berwarna biru saat upacara penurunan duplikat Bendera Merah Putih dalam rangka peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia. Senin sore (17/8/2026) tuai spekulasi politik.
Wali Kota, Munafri “Appi” Arifurddin dan Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham hadir dalam acara tersebut.
Appi tampil mengenakan jas tutu berwarna biru dongker yang dipadukan dengan sarung sabbe corak labba, yakni sarung sutra khas Bugis dengan perpaduan warna biru, kuning, dan oranye.
Penampilan tersebut turut memperkuat nuansa budaya dalam rangkaian peringatan kemerdekaan di Kota Makassar.
Direktur Profetik Institut, Asratillah menyebutkan terlalu dini menilai setelan biru yang dikenakan Wali Kota Makassar pada momen penurunan bendera HUT RI di lapangan Karebosi itu langsung dibaca sebagai pesan politik bahwa ia akan berlabuh ke Partai Demokrat.
“Saya kira terlalu cepat jika setelan biru yang dikenakan Appi pada momen penurunan bendera HUT RI langsung dibaca sebagai pesan politik bahwa ia akan berlabuh ke Partai Demokrat. Dalam politik memang simbol memiliki makna, tetapi simbol tidak boleh langsung diperlakukan sebagai deklarasi.” ujar Asratillah. Selasa (18/8/2026).
“Baju biru bisa merupakan pilihan busana, tetapi dalam situasi politik Sulsel yang sedang cair, publik tentu mempunyai ruang untuk menafsirkannya. Karena itu, yang menarik bukan warna bajunya semata, melainkan konteks politik yang membuat sebuah warna tiba tiba menjadi bahan pembicaraan.” katanya.
Direktur Profetik Institut, melihatnya lebih tepat sebagai sebuah political signal yang masih bersifat ambigu.
“Appi mempunyai sejarah kedekatan politik dengan Demokrat dalam sejumlah kontestasi sebelumnya. Karena itu ketika ia tampil dengan warna biru, wajar jika muncul asosiasi dengan Demokrat.” tutur Asratillah.
“Tetapi sinyal politik baru mempunyai makna kuat apabila diikuti tindakan politik yang konsisten, misalnya komunikasi intensif dengan elite Demokrat, kehadiran dalam agenda partai, atau pernyataan terbuka mengenai pilihan politiknya. Tanpa rangkaian tindakan tersebut, warna biru masih berada pada wilayah simbolik,” katanya.
Asratillah menjelaskan, Dalam konteks komunikasi politik, justru ambiguitas semacam ini dapat menguntungkan Appi. Ia tidak perlu buru buru memberikan penjelasan yang definitif. Ketika tidak ada pernyataan resmi mengenai kepindahan partai, ruang interpretasi tetap terbuka.
“Ini membuat publik, elite partai, dan aktor politik lain terus memperhatikan langkahnya. Dalam politik, strategic ambiguity kadang menjadi instrumen untuk mempertahankan ruang manuver ketika seseorang sedang menghitung berbagai kemungkinan politik.” imbuh Direktur Profetik Institut.
Katanya, Kalau kemudian dikaitkan dengan Demokrat, peluang kedekatan itu tentu secara politik bukan sesuatu yang mustahil.
“Appi memiliki rekam jejak hubungan politik dengan Demokrat dan basis sosial politik di Makassar yang tidak bisa diabaikan. Namun saya kira terlalu dini mengatakan bahwa setelan biru tersebut adalah tanda resmi kepindahan.” beber Direktur Profetik Institut itu.
Politik kepartaian membutuhkan negosiasi, kepentingan, dan kalkulasi yang jauh lebih kompleks daripada simbol pakaian. Kita perlu melihat siapa yang ditemui Appi, agenda politik apa yang dibangun, dan keputusan apa yang kemudian diambil.
“Jadi saya membaca foto Appi dengan setelan biru itu sebagai pesan yang terbuka untuk ditafsirkan, bukan sebagai deklarasi politik.” katanya.
Dijelaskannya, Jika nanti muncul langkah politik yang mengarah kepada Demokrat, maka publik bisa melihat foto tersebut sebagai salah satu simbol awal dari proses itu.
“Tetapi jika Appi memilih tetap berada di Golkar atau mengambil jalan politik lain, warna biru tersebut tetap dapat dipahami sebagai bagian dari penampilan pada momentum kenegaraan. Dalam politik, tanda yang paling kuat bukan warna pakaian, melainkan keputusan politik yang akhirnya diambil.” kunci Direktur Profetik Institut. (LN)
























