Dari Makassar ke Jakarta, Duet Ardyansyah–Ananda Fauzi Bawa Semangat Intelijen Profesional dan Humanis

0
FOTO: Presidium Pusat Alumni Ikatan Senat Mahasiswa Hukum Indonesia (ISMAHI), Illank Radjab, S.H., saat memberikan orasi dihadapan ribuan pemuda makassar di Monumen Mandala Trikora, Sulawesi Selatan.
FOTO: Presidium Pusat Alumni Ikatan Senat Mahasiswa Hukum Indonesia (ISMAHI), Illank Radjab, S.H., saat memberikan orasi dihadapan ribuan pemuda makassar di Monumen Mandala Trikora, Sulawesi Selatan.

LEGIONNEWS.COM – JAKARTA, Presidium Pusat Alumni Ikatan Senat Mahasiswa Hukum Indonesia (ISMAHI), Illank Radjab, S.H., menaruh perhatian terhadap formasi baru di jajaran Direktorat Intelijen dan Keamanan (Ditintelkam) Polda Metro Jaya. Ia menilai komposisi kepemimpinan yang menempatkan Kombes Pol Ardyansyah sebagai Ps. Dirintelkam dan AKBP Ananda Fauzi Harahap sebagai Wadirintelkam merupakan formasi strategis yang memiliki nilai tersendiri, baik dari sisi pengalaman penugasan, karakter kepemimpinan, maupun kedekatan sosial dengan masyarakat.

Menurut Illank, kedua figur tersebut memiliki rekam pengalaman di lingkungan intelijen Sulawesi Selatan. Kehadiran keduanya dalam satu formasi di Polda Metro Jaya menjadi perhatian tersendiri, sekaligus membawa kebanggaan bagi masyarakat Sulawesi Selatan.

Menariknya, kedua figur tersebut memiliki julukan yang tumbuh dari pengenalan dan interaksi sosial masyarakat. AKBP Ananda Fauzi Harahap dikenal di kalangan aktivis dan masyarakat dengan sebutan “Panglima dari Timur”. Sementara Kombes Pol Ardyansyah dikenal oleh warga dan kelompok pemuda Sulawesi Selatan dengan julukan “Panritanya Polisi”.

Advertisement

Bagi Illank, kedua julukan tersebut menghadirkan personifikasi kepemimpinan yang menarik. Panglima dari Timur merepresentasikan kesan ketegasan dan kepemimpinan, sedangkan Panritanya Polisi menggambarkan kesan kebijaksanaan, kearifan, serta kemampuan memahami dinamika sosial masyarakat.

“Terus terang, kami mengenal dinamika dan karakter masyarakat Sulawesi Selatan. Kami memahami bahwa dunia intelijen bukan hanya membutuhkan kecerdasan membaca informasi, tetapi juga insting, keberanian, ketenangan, kemampuan membangun komunikasi, dan kepekaan memahami manusia. Karena itu, ketika melihat dua figur ini berada dalam satu formasi, kami melihat perpaduan pengalaman dan karakter yang menarik,” ujar Illank.

Ia menggambarkan keduanya sebagai duet strategis yang mempertemukan ketegasan dengan kebijaksanaan, insting dengan kecermatan, serta profesionalitas dengan empati.

“Kalau boleh saya ilustrasikan, ini seperti mempertemukan dua karakter dalam satu ruang pengabdian. Panglima dari Timur dan Panritanya Polisi. Ada ketegasan dalam membaca keadaan, ada kebijaksanaan dalam memahami persoalan, serta kemampuan membangun hubungan sosial. Inilah yang saya sebut sebagai duet strategis jebolan pengalaman intelijen Sulawesi Selatan,” ungkapnya.

Lebih jauh, Illank mengatakan bahwa Makassar dan Sulawesi Selatan menyimpan pelajaran penting tentang bagaimana membangun hubungan antara aparat dan masyarakat. Karakter masyarakat yang dinamis, kuat dalam identitas sosial, serta menjunjung tinggi nilai siri’, ada’, dan marwah mengajarkan bahwa kepercayaan tidak dapat dibangun hanya melalui kewenangan, tetapi harus dirawat melalui sikap, keteladanan, komunikasi, dan penghormatan.

“Pelajaran dari Makassar, kami percaya, bahwa menjaga keamanan bukan hanya tentang keberanian menghadapi ancaman, tetapi juga kemampuan memahami masyarakat. Ketegasan harus memiliki kebijaksanaan, insting harus disertai kecermatan, dan profesionalitas harus berjalan bersama empati,” tegasnya.

Menurutnya, tantangan keamanan Jakarta sebagai pusat pemerintahan, ekonomi, dan aktivitas sosial nasional membutuhkan kepemimpinan intelijen yang adaptif. Perkembangan teknologi informasi, dinamika sosial, potensi konflik, serta perubahan pola interaksi masyarakat menuntut kemampuan deteksi dini yang semakin presisi.

Ia menilai kekuatan intelijen tidak semata-mata diukur dari seberapa cepat informasi diperoleh, tetapi juga dari kedalaman memahami informasi, kecermatan membaca konteks, dan kebijaksanaan menerjemahkannya menjadi langkah profesional.

“Intelijen harus memiliki mata yang tajam membaca keadaan, pikiran yang jernih mengurai persoalan, langkah yang terukur mengambil keputusan, dan hati yang peka memahami manusia. Sebab, ancaman tidak selalu datang dengan suara keras, dan persoalan masyarakat tidak selalu hadir melalui laporan resmi,” tuturnya.

Illank juga menilai formasi tersebut relevan dengan semangat Polisi Bersama Masyarakat. Baginya, keamanan tidak dapat dibangun hanya melalui pendekatan struktural dan kewenangan aparat. Keamanan membutuhkan kepercayaan, partisipasi, komunikasi, serta kolaborasi yang berkelanjutan antara kepolisian dan seluruh elemen masyarakat.

Masyarakat, lanjutnya, bukan sekadar objek pengamanan, melainkan mitra strategis dalam menjaga stabilitas. Dalam konteks ini, intelijen memiliki posisi penting sebagai jembatan komunikasi antara negara dan realitas sosial masyarakat.

“Polisi Bersama Masyarakat bukan sekadar slogan kelembagaan. Ini adalah cara pandang dalam membangun keamanan. Polisi harus hadir, mendengar, memahami, dan membangun kepercayaan. Ketika masyarakat merasa menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan, maka deteksi dini dan pemeliharaan stabilitas akan memiliki fondasi sosial yang lebih kuat,” jelasnya.

Ia berharap pengalaman dan karakter kepemimpinan yang dibawa kedua figur tersebut dapat memperkuat tradisi kerja Ditintelkam Polda Metro Jaya yang profesional, akurat, adaptif, humanis, serta tetap menjunjung tinggi hukum dan hak-hak masyarakat.

Bagi Illank, perpindahan ruang pengabdian dari daerah ke ibu kota bukan sekadar perubahan wilayah tugas, melainkan kesempatan membawa nilai-nilai baik dari pengalaman sebelumnya untuk menjawab tantangan yang lebih luas.

“Jangan hanya membawa nama besar dari daerah, tetapi bawalah nilai pengabdian yang telah ditempa oleh pengalaman. Sebab, ukuran keberhasilan seorang perwira bukan pada julukan yang melekat padanya, melainkan pada manfaat, keteladanan, dan rasa aman yang dapat dirasakan masyarakat dari kehadirannya,” tegasnya.

Menutup pernyataannya, Illank menyampaikan bahwa kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan terhadap figur-figur yang pernah hadir dan mengabdi di tengah mereka hendaknya menjadi motivasi untuk terus memberikan kontribusi terbaik bagi institusi dan masyarakat yang lebih luas.

“Panglima dari Timur dan Panritanya Polisi dalam satu formasi pengabdian. Dari Makassar membawa pengalaman, di Jakarta melanjutkan tanggung jawab. Kami percaya, ketajaman membaca keadaan harus berjalan bersama kebijaksanaan memahami manusia. Sebab, intelijen yang hebat bukan hanya mampu membaca ancaman, tetapi juga mampu merawat kepercayaan. Itulah makna sesungguhnya Polisi Bersama Masyarakat,” tutup Illank Radjab. (*)

Advertisement