Belum Ditetapkan sebagai Tersangka, Ormas Islam Kembali Tanya Perkembangan Kasus Babi Guling JRM

FOTO: Tangkap Layar dari Whatsapp Grup (WAG) Pilkada & Pileg Toraja 2024 anggota fraksi Golkar DPRD Sulsel John Rande Mangotan
FOTO: Tangkap Layar dari Whatsapp Grup (WAG) Pilkada & Pileg Toraja 2024 anggota fraksi Golkar DPRD Sulsel John Rande Mangotan
Advertisement

LEGIONNEWS.COM – MAKASSAR, Organisasi Masyarakat (Ormas) Islam terus menyoroti perkembangan kasus ‘Babi Guling’ yang menerpa anggota fraksi partai Golkar DPRD Sulsel, Jhon Rande Mangontan, yang saat ini tengah masuk penyelidikan di Direskrimsus Siber Polda Sulawesi Selatan (Sulsel).

Sebelumnya, Forum Ummat Islam Bersatu (FUIB) yang diketuai Ustadz Muchtar Daeng Lau, meminta Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Selatan untuk segera menetapkan JRM sebagai Tersangka dalam kasus dugaan penistaan agama.

Kini ormas Islam lainnya kembali mendesak agar Penyidik Siber Polda Sulsel segera menetapkan JRM sebagai Tersangka.

Asosiasi Ruqyah Syariah Indonesia (ARSYI) Sulsel misalnya. Melalui Ketuanya Ustadz Ichwan Al Jufri, S.PD.I mengatakan soal dugaan ujaran kebencian yang di lakukan oleh Jhon Rande Mangontan (JRM) salah satu anggota DPRD Sulsel kepada ummat Islam, tidak pantas untuk dibela. Dirinya pun merasa sangat aneh jika penyidik pada Polda Sulsel tidak menetapkan yang bersangkutan sebagai tersangka.

Advertisement

“Saya rasa perbuatan JRM ini tidak pantas untuk dibela dan rasanya sangat aneh jika Polda Sulsel sampai sekarang tidak menentukan tersangka atas dugaan pidana tersebut,” ujar Ustadz Ichwan Al Jufri.

Menurutnya seluruh saksi telah di periksa, mulai dari pihak pelapor, saksi pelapor serta seluruh saksi ahli.

“Saya menerima infomasi bahwa dalam pemeriksaan saksi ahli, semua sangat memberatkan saudara JRM dan jika hal ini benar adanya maka akan menjadi tanda tanya besar jika Polda tidak segera melakukan gelar perkara dan menentukan tersangka dalam kasus ini,” tambah Ketua ARSYI Sulsel ini.

Disampaikan oleh ormas Islam ini meminta kepada pihak Polda Sulsel untuk dapat membantu ummat memberi efek jera kepada orang orang yang menyebarkan kebencian kepada agama apapun.

“Kepolisian jangan menjadi institusi yang dianggap takut kepada sosok JRM apalagi menjadi institusi yang dianggap berusaha membantu orang orang penyebar ujaran kebencian kepada suatu agama,” terang Ustadz Ichwan.

“Kalau dilakukan pembiaran tentu dampaknya bisa sangat merusak institusi polri. Oleh nya itu kami minta kepada pihak Polda untuk segera mengumumkan tersangka dalam kasus ini,”

“Kami juga akan segera berdiskusi dengan pihak pelapor dalam hal ini ketua umum Brigade Muslim Indonesia (BMI). Untuk segera membuat laporan ke propam jika penanganan kasus ini semakin lambat,” tegas Ichwan.

Untuk diketahui JRM, merupakan legislator dari Fraksi Golkar asal Daerah Pemilihan (Dapil) Tana Toraja.

Kasus ini bergulir di Polda Sulsel usai dirinya mengunggah sebuah yang diduga mengandung SARA dalam sebuah grup WhatsApp pada Senin (18/3/24) lalu.

Unggahan dinilai mengandung SARA. Saat diunggah masih dalam suasana Bulan Suci Ramadhan 1445 Hijriyah.

Pesan tersebut berisikan ajakan berbuka puasa dengan gambar babi guling. Pesan dari John itu pun langsung menimbulkan ketidaknyamanan dan menuai protes berbagai pihak, termasuk dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Menurut Zulkifli, sebagai anggota Dewan, John seharusnya memberikan contoh yang baik dalam penerapan nilai-nilai toleransi antarummat beragama.

Ketua Harian BMI Sulsel, Muhammad Hanif, berharap Polda Sulsel dapat segera menaikkan status hukum JRM ke tahap penyidikan.

“Kita berharap JRM ini segera ditetapkan sebagai tersangka,” tegasnya.

Adapun JRM, dalam klarifikasinya kepada media, mengatakan ajakan berbuka puasa itu tidak ditujukan untuk warga Muslim yang sedang menjalankan puasa Ramadhan, melainkan warga Nasrani yang berpuasa menyambut Paskah.

“Jadi, intinya, kami bahas survey, baik polling dan survey menyangkut Pilkada, dan kami bawa dalam candaan. Kalau tidak salah tujuh orang, dan candaan itu cair dan hidup,” ujarnya, dilansir dari Ramapos.com.

“Lalu saya kirim babi guling dan tulis buka puasa, tapi tidak ada bahasa saya tentang saudara saya Muslim, karena puasa dikenal juga di agama Kristen, apalagi dalam suasana menyambut Paskah,” jelasnya.

John juga mengaku telah meminta maaf, dan mengklarifikasi langsung dengan anggota grup WA yang merasa tidak nyaman dengan unggahannya.

“Saya menjawab juga bahwa kalau tersinggung, saya minta maaf. Tapi, jujur saya tidak ada niat ke situ. Saya chat pribadi juga, jelaskan yang lebih detail tentang orang Kristen puasanya ada yang rutin setiap Jumat,” katanya.

“Agar tidak diperpanjang, dan dalam menyambut bulan suci Ramadhan, dan menyambut Paskah, saya secara pribadi mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kekhilafan saya yang membuat saudara dan orangtua saya, kaum Muslim memunculkan amarah pada saya,” kata John.

“Karena apapun alasannya, saya masih banyak tugas dan tanggung jawab saya untuk menyelesaikan janji politik saya hingga berakhir di tahun ini. Semoga janji politik saya untuk memperjuangkan beberapa rumah ibadah, termasuk masjid, akan saya tuntaskan,” jelasnya. (LN)

Advertisement