Antara Syahid dan Mati

0
FOTO: Ilustrasi Perang Uhud
FOTO: Ilustrasi Perang Uhud.

Oleh Hasyim Arsal Alhabsi-Direktur Dehills Institute

LEGIONNEWS.COM – OPINI, Dalam nalar materialisme yang mendasari strategi militer modern seperti yang dipraktikkan oleh Israel dan AS kematian adalah titik henti yang absolut. Bagi mereka, sebuah pergerakan adalah mesin, dan pemimpin adalah unit pemroses sentralnya. Ketika unit itu dihancurkan, sistem akan mengalami kegagalan total (total system failure).

Pandangan ini lahir dari filosofi yang memandang kehidupan hanya sebatas biologi dan kekuasaan sebatas hegemoni fisik. Oleh karena itu, bagi para penjahat dan pencari kekuasaan duniawi, kematian adalah momok yang menakutkan, sebuah akhir dari ambisi dan runtuhnya rantai komando.

Advertisement

Namun, terdapat sebuah anomali besar yang gagal dipahami oleh laboratorium intelijen Barat: dialektika kematian dalam perspektif Iran dan garis perjuangan Ahlul Bait. Di sini, kematian tidak dipahami sebagai reduksi biologis, melainkan sebuah transformasi energi yang dahsyat.

Bagi mereka yang berada di barisan “kebaikan” dan kebenaran, kematian bukanlah kehilangan, melainkan keindahan yang dinantikan. Jika bagi Israel kematian pemimpin adalah “pukulan berat” yang mematikan sel-sel dalam tubuh organisasi, bagi Iran, kematian seorang pemimpin justru menjadi oksigen yang menghidupkan kembali sel-sel yang mulai lesu.

Ada perbedaan fundamental antara “mati” dan “syahid”:

• Mati (Bagi Penjahat):

Adalah hilangnya pengaruh. Kematian gembong kejahatan menciptakan kekosongan kekuasaan, demoralisasi pengikut, dan berakhirnya sebuah era kezaliman. Di sini, kematian adalah pengurang.

• Syahid (Bagi Pejuang):

Adalah penggandaan pengaruh. Darah yang tertumpah tidak hilang ke bumi, melainkan berubah menjadi narasi, mitos, dan bahan bakar ideologis yang tak tertandingi. Di sini, kematian adalah pengali.

Israel dan sekutunya sering kali terjebak dalam “kesalahan kalkulasi ontologis”. Mereka berpikir bahwa dengan melenyapkan raga, mereka melenyapkan gagasan. Padahal, dalam tradisi intelektual dan spiritual Islam, Ahlul Bait, raga hanyalah wadah sementara. Ketika wadah itu pecah di jalan Tuhan, esensinya yakni ruh perjuangan terlepas dan merasuk ke dalam kesadaran kolektif umat.

Logika ini berakar kuat pada tragedi Karbala. Secara militer, Imam Husain as “kalah” di padang pasir. Namun secara historis, kesyahidannya menjadi energi nuklir spiritual yang meruntuhkan pilar-pilar kekuasaan tirani selama berabad-abad. Bagi Iran, setiap pemimpin yang gugur adalah “Husain baru” yang memastikan bahwa pergerakan tidak akan pernah berhenti, melainkan justru mendapatkan akselerasi yang lebih masif.

Kekuatan sebuah bangsa atau pergerakan tidak diukur dari seberapa canggih persenjataannya, melainkan dari seberapa besar mereka “mencintai kematian” demi sebuah prinsip. Bagi musuh-musuh Iran, ketakutan akan kematian adalah kelemahan terbesar mereka. Sebaliknya, bagi para pejuang di jalan ini, ketidak-takutan akan kematian adalah senjata pamungkas yang tidak memiliki penawar.

Kematian pemimpin di pihak ini tidak memukul kekuatan, melainkan melahirkan kekuatan yang sangat besar dan berubah menjadi energi yang tak terkalahkan. Musuh mungkin bisa menghancurkan sel-sel fisik, namun mereka justru memperkuat “jiwa” dari tubuh pergerakan tersebut.

Pada akhirnya, pertempuran Iran dan AMIS bukan sekedar tentang kekuasaan dan pengaruh, melainkan benturan antara dua persepsi tentang eksistensi. Di satu sisi, ada mereka yang menganggap kematian sebagai akhir dari segalanya; di sisi lain, mereka yang memandang kesyahidan sebagai awal dari kemenangan yang abadi. Selama musuh-musuh itu belum mampu memahami rahasia di balik “keindahan kematian” bagi orang-orang baik, mereka akan terus terjebak dalam labirin kekalahan yang tak berujung.

Jadi, kematian bagi pemimpin AMIS adalah kematian yang menakutkan. Makanya “tidak boleh terjadi” kalau perlu direkayasa untuk terus “hidup” dengan berbagai cara.

Kesyahidan pemimpin bagi Iran justru adalah cita-cita yang tinggi, paling sempurna, dan indah. Mengumumkan secepatnya adalah penting dan energinya sangat dibutuhkan.

Itu bedanya.

Advertisement