LEGIONNEWS.COM – Mantan pejabat Badan Intelijen Negara (BIN), Kolonel Inf. (Purn) Sri Radjasa Chandra, Hadir dalam podcast Neopolitika yang dipandu Refly Harun
Sri Radjasa merupakan purnawirawan perwira TNI Angkatan Darat. Dia juga penulis dan pengamat intelijen yang sering memberikan analisis mengenai isu politik, hukum, dan keamanan nasional di Indonesia.
Dalam podcast Neopolitika Sri Radjasa mengungkapkan, Bahwa Presiden Prabowo telah mengetahui ijazah milik Joko Widodo atau Jokowi “Palsu’.
Hal itu diketahuinya, Saat dipanggil ke Kertanegara, Kediaman Presiden Prabowo Subianto di Jakarta. Ia di Kertanegara bertemu dengan Menteri Sekertaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi.
Selain itu juga ada juga Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Angga Raka Prabowo.
“Saya sempat dipanggil ke Kertanegara kemudian dihadapkan Mensesneg waktu itu sama Wamenkomdigi,” ungkap Sri Radjasa dalam podcast Neopolitika bersama Rafly Harun seperti dilihat dan didengar, Sabtu (7/11/2026).
“Prasetyo sama, Waktu itu…sama Angga,” ucapnya.
“Angga Prabowo,” jawab Rafly Harun.
“Jadi ada satu pertanyaan yang buat saya mungkin ada suatu hal yang harus disampaikan kepada publik,” tutur mantan pejabat BIN itu ke Rafly Harun.
“Bahwa ketika saya tanyakan.. pak..apakah, Prabowo tahu kalau ijazah Jokowi palsu?” tanya Sri Radjasa kepada Mensesneg.
“Jelas pertanyaan saya, dia bilang tahu,” ungkap Sri.
“Kenapa Prabowo tidak berbuat apa-apa?” tanya Sri ke Mensesneg.
“Sudah pak dia bilang…Prabowo sudah mengingatkan Kapolri, Agar tidak melakukan kriminalisasi dalam kasus ijazah palsu… Buktinya kita dikriminalisasi,” kata Sri ke Rafly Harun.
“Dia tahu [Prabowo] ijazah Jokowi palsu, Menurut?” tanya Rafly Harun.
“Menurut Mensesneg,” jawab mantan pejabat BIN itu.
Dalam kesempatan itu Sri mengatakan Presiden telah memerintah agar Kapolri saat itu Lystio Sigit Prabowo untuk menyelesaikan persoalan itu, Mengingat bangsa ini telah terbelah.
Dalam podcast Neopolitika itu Sri mengatakan dirinya menganggap sepertinya Prabowo satu frekuensi dengan Joko Widodo.
“Kemudian kasus kasus kedepan, Juga Prabowo tetap diamkan. Saya akhirnya berpikir bahwa ini jangan jangan antara Jokowi dengan Prabowo nih satu frekuensi, Kenapa saya bilang begitu karena sama sama punya otoritarian personality,” katanya.
“Saya khawatir juga jangan jangan komitmen Prabowo dengan Jokowi. Prabowo hanya dijadikan pemangku kerajaan,” beber Sri.
“Kalau dalam terminologi monarki yah, Prabowo itu hanya pemangku kerajaan yang tugasnya, Hanya mengantar putra mahkota jadi raja nantinya,” sambung Sri.
“Kalau ini yang terjadi, Waah…rusak, Jangan jangan nih pak Prabowo berpikir yang penting gua jadi Presiden, Seperti itu.” katanya. (LN)

























