
LEGIONNEWS.COM – MAKASSAR, Seluruh Kawan-Kawan yang bersolidaritas mengaku kecewa dengan pihak manajemen Rumah Sakit Islam (RSI) Faisal di Makassar, Sulawesi Selatan. Pasalnya, saat digelar aksi unjuk rasa pada Rabu (4/11/2026), pihak RSI Faisal menjanjikan akan mempertemukan pengunjuk rasa dengan direktur rumah sakit tersebut.
Ia menyebutkan, Irham Tompo, perwakilan RSI Faisal mengatakan kepada salah satu rekan massa aksi unjuk rasa Andi Rahmat Saleh mengatakan bersedia memfasilitasi pengunjuk rasa dengan pihak Direktur Utama RSI Faisal dan Pimpinan Yayasan Kalla Group untuk menyelesaikan masalah terkait tak adanya upaya medis dari rumah sakit Islam itu saat almarhum Sopyan mengalami pendarahan di betis akibat tusukan badik.
“Dia [Irham Tompo] menjanjikan akan memfasilitasi pengunjuk rasa. Saya juga sempat menghubungi yang bersangkutan, tetapi hanya menyampaikan bahwa tadi siang sedang melaksanakan rapat dengan yayasan. Sementara kami, perwakilan keluarga dan juga saksi, masih menunggu kejelasan terkait persoalan ini,” ujar Muh. Khaidir Mu’tashim, Kamis (5/11).
Untuk diketahui, Rabu (4/11), Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Wija To Bone yang terdiri dari Solidaritas Kerabat Korban, KEPMI Bone dan Kerukunan Pemuda Arung Palakka 21 (KAPAK 21) menggelar aksi unjuk rasa di RSI Faisal di Jalan AP Pettarani, Makassar. Dalam aksi tersebut, Muh. Khaidir Mu’tashim selaku Ketua Umum DPP KEPMI Bone bertindak sebagai Jenderal Lapangan.
Massa Aksi secara tegas meminta kepada Irham Tompo untuk tidak mempengaruhi para pengunjuk rasa dengan iming-iming biaya kedukaan bagi keluarga korban dan menutupi biaya aksi unjuk rasa.
“Saya secara tegas meminta saudara Irham Tompo untuk tidak jangan mempengaruhi massa aksi dengan segala iming-iming untuk biaya kedukaan bagi keluarga korban dan menutupi biaya aksi unjuk rasa. Secara tegas saya sampaikan untuk dihentikan,” pungkas Andi Rahmat Saleh.
“Ini soal nyawa manusia. Biaya uang duka dan semacamnya bukan solusi. Yang kami ingin tegaskan di pihak manajemen rumah sakit, hal-hal seperti itu tidak diulang lagi,” tambah Khaidir.
“Kemudian, mereka dokter jaga dan perawat yang saat almarhum Sopyan dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan upaya medis dan tidak dilakukan harus diberikan kejelasan dari mereka atas dasar apa hingga mereka tidak melakukan upaya penyelamatan terhadap korban penikaman,” tegas Muh. Ferdiansyah ( Kerabat Korban ).
Khaidir juga menegaskan bahwa sebagai orang Bugis pihaknya memegang filosofi Taro Ada Taro Gau, yang bermakna bahwa setiap perkataan harus sejalan dengan perbuatan.
“Sebagai orang Bugis, kami memegang filosofi Taro Ada Taro Gau. Apa yang diucapkan harus dibuktikan dengan perbuatan. Kami sudah memberikan ruang dan waktu kepada pihak RSI Faisal untuk menunjukkan itikad baiknya. Namun, sampai saat ini kami belum mendapatkan kejelasan. Kami menilai pihak RSI Faisal seolah-olah hanya bermain-main dalam menyikapi persoalan ini, sementara keluarga korban masih menunggu kepastian dan pertanggungjawaban,” ungkap Khaidir.
Terkait hal itu, awak media telah menghubungi Irham Tompo. Kepada media, Irham melalui pesan WhatsApp miliknya meminta awak media menghubungi Rony Rachim selaku Humas RSI Faisal Makassar.
Irham hanya mengirim pesan salah satu nomor kontak WhatsApp yang disebutkannya sebagai kontak milik Humas rumah sakit.
“Nomor kepala huamsuku kk [Wartawan],” tulis Irham Tompo, Kamis petang.
“Kepala Humas RS Faisal, Rony Rachim,” katanya dalam pesan WhatsApp itu.
Sejak Kamis petang, Rony Rachim hingga malam hari belum membalas pesan WhatsApp awak media untuk dikonfirmasi.
Ketua DPP KEPMI Bone, Muh. Khaidir & Ketua KAPAK 21, Andi Emmang kepada media mengatakan kami bersama seluruh WIJA TO BONE akan kembali turun untuk menggelar aksi unjuk rasa kembali di RSI Faisal.
“Kalau tidak ada itikad baik dari pihak manajemen RSI Faisal, yah kami akan kembali menggelar aksi unjuk rasa,” katanya.
Sebelumnya, Aksi unjuk rasa ini dipicu oleh dugaan kuat kelalaian pelayanan medis oleh pihak manajemen dan tenaga medis RSI Faisal dalam menangani pasien berstatus gawat darurat yang berujung pada meninggalnya pasien tersebut.
Massa aksi menilai, penanganan terhadap pasien gawat darurat seharusnya menjadi prioritas utama tanpa dihambat oleh kendala administratif maupun prosedur yang berbelit-belit. Kelalaian ini dianggap sebagai bentuk penanganan medis yang sangat buruk dan mencederai nilai-nilai kemanusiaan.
Dalam tuntutannya, Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Wija To Bone bersama Kerukunan Pemuda Arung Palakka 21 menuntut beberapa poin tegas kepada manajemen RSI Faisal Makassar:
PERTAMA: Pertanggungjawaban Hukum dan Moril: Menuntut pihak manajemen RSI Faisal untuk bertanggung jawab secara penuh atas kelalaian penanganan medis pasien gawat darurat yang berujung pada kematian.
KEDUA Keterbukaan Informasi: Mendesak transparansi dan keterbukaan pihak manajemen RSI Faisal terkait Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan pasien gawat darurat.
KETIGA, Evaluasi Total: Mendorong evaluasi menyeluruh terhadap kinerja tenaga medis serta manajemen pelayanan Rumah Sakit Islam Faisal Makassar agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
KEEMPAT, Meminta pihak DPRD kota makasar untu kelakukan rdp untuk menerbitkan rekomendasi penutupan rumah sakit jika pihak rs faisal di anggap melakukan sebuah pelanggaran yg fatal sehingga menyebabkan korban meninggal dunia.
Koordinator Aksi menegaskan bahwa jika tuntutan ini tidak diindahkan dan tidak ada komitmen nyata dari pihak rumah sakit dalam kurun waktu yang ditentukan, massa aksi akan kembali turun ke jalan dengan gelombang gelombang massa yang lebih besar serta menempuh jalur hukum.
Penyebab Unjuk Rasa di Rumah Sakit Milik Kalla Grup
Andi Muhammad Reza AF, mengungkapkan saat dirinya bersama dua rekannya M. Iksan Novriansyah dan Sahrul Ramadhan membawa Sopyan Korban (23 tahun) Mahasiswa pelayaran asal kabupaten Bone.
Ketiganya membawa Sopyan ke rumah sakit Islam Faisal Makassar. Mahasiswa pelayaran itu terluka parah akibat luka tusuk di Jalan Boulevard, Panakukkang, Makassar Selasa, 27 Oktober 2026, sekitar pukul 04:00 WITA pagi.
Sopyan lalu dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Islam Faisal Makassar. Ia kehilangan banyak darah.
“Saat peristiwa itu saya bersama dua rekan saya membawa Sofyan ke rumah sakit islam faisal Makassar,” ujar Muhammad Reza.
“Disana (RS Islam Faisal) tidak ada upaya tindakan medis untuk menyelematkan Sofyan yang mengalami kehilangan banyak darah,” ungkapnya.
Menurut, Muhammad Reza pihak medis rumah sakit Islam Faisal yang berjaga saat itu Selasa (27/10) hanya menyuruh agar korban (Sopyan) untuk dibawa ke RS CPI.
“Selain tidak membawa pasien masuk ke dalam IGD bahkan kami melihat tidak ada tindakan medis terhadap Sopyan untuk memperbaiki kondisinya. Misalnya memasang infus ataupun tindakan tindakan awal untuk pasien darurat,” ungkapnya.
“Mereka hanya menyuruh kami untuk membawa korban ke rumah sakit CPI, bukan itu saja kami berharap ada ambulan dan perawat yg ikut sampai ke cpi tetapi itu juga kita tidak disiapkan,” Muhammad Reza menambahkan kisahnya, Selasa (3/11/2026).
Ditempat yang sama Andi Rahmat Saleh menyayangkan rumah sakit Islam Faisal itu. Dirinya pun meminta secara tegas agar rekaman CCTV di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Selasa, 27 Oktober 2026.
“Saya sampaikan secara tegas disini. Untuk rekaman CCTV di IGD rumah sakit islam faisal tidak dihapus, Untuk memastikan informasi yang disampaikan 3 rekan Sofyan saat membawanya untuk diselamatkan,” tutur ketua KAPAK 21 itu.
“Rumah sakit islam faisal itu type B, Bukan sekelas klinik atau puskesmas. Mereka bisa lakukan langkah tanggap menyelamatkan korban penikaman. Kan yang ditikam bagian betis, bukan di daerah vital seperti sekitar perut korban,” tambah pria yang biasa disapa Andi Emmang ini.
Andi Emmang menjelaskan dirinya bersama Ketua Umum DPP KEPMI Bone, Muh. Khaidir Mu’tashim, telah menemui Manajemen Rumah Sakit Islam (RSI) Faisal guna menuntut pertanggungjawaban atas dugaan kelalaian penanganan terhadap pasien gawat darurat (korban penikaman) yang berujung fatal hingga meninggal dunia.
“Usai pertemuan salah satu manajemen berupaya untuk memberikan solusi. Akan memberikan uang duka kepada keluarga korban. Tentu kami menolak ini persoalan nyawa manusia,” katanya.
“Dengan kasus saya menganggap suatu keteledoran pihak medis rumah sakit. Tidak ada upaya langkah tanggap menyelamatkan nyawa manusia,” kesal Andi Emmang saat itu. (LN)
























