
LEGIONNEWS.COM – Pernahkah kita membayangkan bagaimana seorang ulama besar yang berada di perantauan menulis surat kepada seorang pembesar di kampung halaman? Isinya bukan hanya sekadar kabar dan salam, tetapi juga nasihat spiritual, titipan hadiah, hingga urusan pinjam-meminjam barang pusaka.
Itulah yang terjadi dalam sebuah surat yang ditulis oleh Syekh Yusuf al-Makassari (1626-1699), ulama sufi termasyhur dari Gowa, Sulawesi Selatan, kepada Karaeng Karunrung, seorang wazir atau patih yang disegani.
Karaeng Karunrung bernama Abdulhamid Karaeng Koronrong, putra dari Karaeng Pattingalloang, bergelar Sultan Mahmud dari Kesultanan Tallo. Putri perempuannya bernama Daeng Mattena atau Karaeng Bonteramboe atau Karaeng Bonto Rombang.
Syekh Yusuf menulis surat ini di Banten pada 1084 H/1673 M. Dalam suntingan Tudjimah (1977), naskah folio 116-123 ini menurut Abu Hamid milik Daeng Takalia, qadi Gowa, lalu diberikan kepada Hamka pada 1955. KITLV melalui Achjarnis menulis ulang naskah ini pada 1971. Andrew C. Peacock dalam Arabic Literary Culture in Southeast Asia in the Seventeenth and Eighteenth Centuries (2024) melampirkan naskah ini dari Martin van Bruinessen. Perpustakaan Nasional RI juga menyimpan salinannya secara digital di khastara.perpusnas.go.id bernomor Katalog ID 2695240.

Syekh Yusuf memulai suratnya dengan pujian yang sangat panjang dan indah kepada Karaeng Karunrung. Ia menyebutnya sebagai “tuan kami yang alim, arif, sempurna, wali akhlak, dan teladan yang diridhai”. Bahkan, Karaeng Karunrung dijuluki sebagai raja dari semua kerajaan, seperti purnama di kerajaan Selon, dan kiblat para tokoh utama.
Syekh Yusuf mengagumi Karaeng Karunrung sebagai sosok yang memadukan syariat (hukum lahir) dan hakikat (esensi batin). Ia menyebutnya sebagai pemimpin yang sempurna.
Setelah salam dan pujian, Syekh Yusuf mengungkapkan isi hatinya yang sangat rindu bertemu dengan Karaeng Karunrung. Namun, Allah belum mengizinkan pertemuan itu terjadi.
“Hati kami telah tertarik kepada tuan, dan Allah mengetahui hal itu,” ungkapnya dalam sepucuk surat.
Menariknya, Syekh Yusuf menyebutkan beberapa utusan dan hadiah yang dikirimkan, tetapi ada satu yang tidak sampai.
“Dirham yang dibawa oleh Haji Abdul Rashid Tawulisa tidak sampai kepada hambamu,” terangnya.
Meski begitu, Syekh Yusuf optimistis pahala tetap mengalir karena niat baik sang pengirim.
Syariat dan Hakikat seperti Dua Mata
Bagian paling panjang dari surat ini merupakan nasihat spiritual. Syekh Yusuf dengan tegas mengingatkan, “Semua syariat tanpa hakikat adalah batil, dan semua hakikat tanpa syariat juga batil.”
Ia membandingkan syariat dan hakikat seperti ruh dan jasad. Manusia baru disebut sempurna (insān kāmil) jika kedua unsur ini menyatu.
Syekh Yusuf juga mengutip ungkapan Syekh Junaid, pemimpin sufi, “Jalan kami ini berhubungan erat dengan Alquran dan sunnah. Siapa yang tidak berpegang pada keduanya, ia sesat.”
Inti dari semuanya ialah cinta. Syekh Yusuf mengutip QS. Ali Imran: 31, yang artinya, “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku (Nabi Muhammad), niscaya Allah mencintaimu.” Dengan kata lain, cinta tanpa kepatuhan kepada Nabi adalah cinta palsu. Dan salah satu bukti kepatuhan itu adalah mengerjakan shalat.
Ia dengan keras mengingatkan, “Maksiat yang paling dekat kepada kekufuran ialah meninggalkan shalat. Sekalipun ia orang “arif” dan “berilmu”, tanpa shalat, ia tidak dicintai Allah.”
Di tengah suratnya, Syekh Yusuf memberikan semacam “paket komplit” resep keselamatan, yakni perbanyak dzikir (dalam hati maupun suara), taubat yang sungguh-sungguh (karena orang yang taubat seperti tak berdosa), takut dan berharap kepada Allah secara seimbang, jangan takabur, tidak riya’, tidak lalai, dan siap menghadapi kematian.
Ia juga mengutip sabda Nabi yang berupa hadis qudsi, disebutkan, “La ilaha illallah adalah benteng-Ku. Siapa yang masuk benteng-Ku, ia selamat dari siksa-Ku.”
Titipan Keris, Pinjaman, dan Hadiah Gula
Tak hanya soal keislaman, Syekh Yusuf juga menarasikan hal kebudayaan dari suratnya. Setelah nasihat yang luhur, Syekh Yusuf menyampaikan titipan dari Sultan Banten, Abul Fath atau Sultan Ageng Tirtayasa (1631-1692).
Sultan Banten ke-6 ini meminta tolong agar Karaeng Karunrung mengembalikan beberapa benda pusaka berupa Keris Anak Kiai Tamba’, Pujangga (demikian Tudjimah menyalinnya, sementara Peacock mengartikannya dengan pauh janggi, jenis kelapa laut yang besar dan langka; lodoicea maldivica), dan bokor suwasi (wadah cekung berbahan logam sebagai tempat sesuatu).
Sultan Banten mengaku tidak pernah memberikan benda-benda itu. Barang-barang tersebut justru berada pada Karaeng Karunrung sebagai penghormatan sesuai adat.
Ada juga cerita tentang pedang yang diwasiatkan oleh Pangeran Arya Sangtikar saat naik haji. Bukan hanya meminta tolong soal barang, Syekh Yusuf juga dengan rendah hati meminta sepotong emas, cincin, atau zamrud biru (atau yakut merah) dari Karaeng Karunrung.
Sebagai imbalan, Syekh Yusuf mengirimkan hadiah sederhana: dua keranjang gula putih dan sekantong merica. Ia menulis dengan jenaka, “Terimalah dengan hormat, janganlah mengharap yang lebih baik. Sesungguhnya hadiah itu sesuai dengan yang memberi, bukan menurut ukuran yang diberi.”
Lalu Syekh Yusuf mengakhiri suratnya dengan permohonan maaf karena dianggap terlalu banyak bicara.
“Saya minta maaf, karena hambamu yang fakir ini telah banyak bicara kepada tuanku, suatu hal yang tidak layak,” tulisnya.
Pada bagian akhir, sang penyalin (bukan Syekh Yusuf) menambahkan keterangan bahwa surat ini selesai dikutip pada malam Jumat, 15 Dzulhijah 1145 H/1733 M dari sebuah kitab bernama Safīnah al-Najāh (Perahu Keselamatan).
Apa yang bisa kita teladani dari surat berusia lebih dari tiga abad ini? Setidaknya, di saat informasi mudah diakses dan disimpan, akan tetapi sering cetek atau dangkal; ketika pemimpin lebih sibuk dengan popularitas, penghargaan, dan “centang biru” daripada keteguhan prinsip, Syekh Yusuf mengingatkan kita pada satu pesan utama, yakni tidak ada kepemimpinan sejati tanpa keseimbangan antara aturan lahir (syariat/etika formal) dan esensi batin (hakikat/integritas moral).
Bagi kita yang kerap terjebak pada pencitraan digital, surat ini mengajak untuk berani menjadi pribadi yang utuh, bukan hanya “jago bercuap-cuap” tapi juga konsisten dalam tindakan.
Bagi pemimpin Indonesia menuju “Indonesia Emas”, pesan Syekh Yusuf tentang keseimbangan antara takut dan harap, antara kekuasaan dan kerendahan hati, serta kewajiban memaafkan kesalahan dan tidak berkhianat terhadap amanah umat, ini semua harusnya dipahami sebagai resep kesejahteraan abadi.
Lalu pertanyaan mendasarnya, sejauh mana nilai-nilai kepemimpinan dari naskah klasik seperti ini telah diintegrasikan dalam pendidikan karakter atau pelatihan kepemimpinan nasional saat ini? Mari kita renungkan bersama.
Semoga surat seorang ulama perantauan ini tidak hanya menjadi arsip sejarah, koleksi perpustakaan, dan harta karun bagi filolog, tetapi juga cermin bagi kita semua yang masih belajar menjadi manusia dan pemimpin yang sempurna (insan kamil).























