Oleh: Arief Wicaksono, Alumni Unhas, Dekan Fisip Unibos 2016-2022.
LEGIONNEWS.COM – OPINI, Saya sedang duduk di sebuah warung kopi yang cukup cozy di bilangan Ratulangi saat menulis artikel ini. Saat itu mendung sedang menggantung di langit, sementara angin selatan khas Makassar bertiup semilir dan pelan, membawa bau garam laut dan bisikan cerita-cerita pelaut Bugis yang tak pernah lelah berlayar ditengah ganasnya ombak.
Di depan saya tergeletak teks pidato pelantikan Rektor Universitas Hasanuddin periode 2026–2030, menemani secangkir americano panas di meja kopi. Bagi saya pidato itu bukan sekadar sebuah dokumen yang penuh dengan kata-kata sopan dengan kumpulan data dan fakta belaka, pidato itu memprovokasi otak saya untuk berimajinasi, menghubungkan mimpi seorang nakhoda kampus dengan struktur kekuasaan, budaya lokal, kontradiksi pendidikan tinggi, dan realitas masyarakat di timur Indonesia yang masih saja bergulat dengan ketimpangan.
Beberapa Imaji Berserak
Profesor Jamaluddin Jompa, atau Prof JJ begitu beliau kerap disapa, berhasil menggugah saya untuk berkhayal tentang pelaut Bugis-Makassar yang teguh pendirian, “Pura Babbara Sompe’ku, Pura Tangkisi Gulikku, Kualeanggi Tallanga Na Toalia”. Layar sudah terkembang, kemudi telah terpasang, pantang biduk surut kembali ke pantai. Bagi saya, ungkapan purba itu bukan retorika kosong.
Saya malah memposisikannya sebagai panggilan untuk bersatu, berjibaku, di tengah samudera tantangan yang semakin luas, dimana di sana terhidang disrupsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence – AI), tekanan pendanaan APBN yang menyusut karena perintah efisiensi, ego sektoral antar-unit didalam sistem, serta tuntutan agar universitas tidak lagi sekedar menjadi menara gading yang asing dari denyut nelayan pesisir, petani dataran tinggi, atau masyarakat adat yang setiap hari berhadapan dengan industri ekstraktif.
Dari pidato itu, visi tentang Unhas terbentang luas. Untuk pertama kali dalam sejarah panjangnya, Unhas berhasil menembus QS World University Rankings 2026 di posisi 951–1000. Di tingkat Asia, ia melonjak tajam ke peringkat 201 dari kisaran 351–400 pada 2022, bahkan naik dari 236 pada 2024.
Di bidang keilmuan, peringkat bidang ilmu Agriculture & Forestry berada di 251–300 dunia, Politics & International Studies di 301–400 dunia, dan Medicine bertengger di 601–650 dunia. Peringkat UI GreenMetric 2025 menempatkan Unhas di posisi ke-85 dunia, terdepan di kalangan kampus-kampus hijau di Indonesia Timur.
Dua kali berturut-turut meraih Anugerah Emas SNI Award (2023–2024), predikat Informatif dari Komisi Informasi Publik, serta gelar Terbaik Pertama pada Indonesia SDGs Action Awards 2025 dari Bappenas.
Mahasiswanya pun berhasil mencapai prestasi Juara Umum PIMNAS dua kali berturut-turut (2024 dan 2025), dengan Piala Adikarta Kertawidya yang akhirnya “berlayar” keluar dari Pulau Jawa menuju Makassar.
Akan tetapi menurut saya, yang lebih penting dari sekadar angka-angka pemeringkatan adalah cara Unhas meraihnya, Prof JJ dalam pidatonya mengatakan bahwa semua keberhasilan itu bukan melalui kerja satu orang atau satu fakultas, melainkan dengan melepaskan ego sektoral dan menumbuhkan semangat kolaborasi dalam sebuah orkestrasi kepemimpinan yang handal.
Pidato rektor mengingatkan kita pada nilai-nilai luhur Bugis-Makassar, Sipakainge (saling mengingatkan dalam kebaikan), Sipakalebbi (saling menghormati), Sipakatau (saling memanusiakan, tidak diskriminatif). Nilai-nilai ini dipadukan dengan semangat teologis yang berasal dari Al-Quran surah As-Shaff ayat 4 tentang barisan yang rapat dan tidak bercerai-berai.
Hasilnya terlihat dalam 315 Thematic Research Group (TRG) yang menyatukan 1.523 peneliti dengan 532 mitra internasional di 77 negara, serta kolaborasi PAIR Sulawesi dengan Australia yang menghasilkan riset berbasis bukti untuk kebijakan nyata.
Saya membayangkan pada periode 2026–2030, Science Techno Park Unhas bukan lagi sekedar gedung kosong berdebu, melainkan sebuah University Industrial Hub yang telah melahirkan inovasi nyata. Contoh yang sudah ada, Drone Smart Farming yang sudah dipesan oleh Kementerian Pertanian untuk mendukung program ketahanan pangan, rompi anti peluru berbahan serat karbon yang lolos uji Divisi Infanteri 3 Kostrad, kapal nelayan bertenaga surya, benih jagung unggul, ayam Alope, hingga produk cokelat dan kopi premium yang menembus pasar mancanegara.
Unhas Venture Capital akan mendanai puluhan spin-off dari gagasan dosen dan mahasiswa. Program UNHAS WORKLINC berusaha meruntuhkan tembok antara ruang kuliah dan dunia kerja, agar mahasiswa tidak lagi lulus hanya dengan teori, tapi tanpa kompetensi yang siap terintegrasi dengan dunia industri.
Smart Multi-Campus Governance merentang dari Tamalanrea hingga Gowa, Bone, Selayar, Sidrap, Soppeng, Barru, bahkan hingga Jakarta dan Ibu Kota Nusantara. Tak ketinggalan, Green Campus Masterplan 2026–2030 yang menargetkan 50 persen bangunan hijau dan efisiensi energi, sebagai bentuk upaya memperkuat komitmen ESG. Saya membayangkan, di tahun 2030 Unhas muncul sebagai fase di mana imajinasi ini menjadi lebih konkret dan lebih down to earth.
Lebih dalam lagi, hadir imajinasi tentang keadilan di dalam rumah sendiri. Sejak awal jabatan, Rektor telah menegaskan komitmen, bahwa tidak boleh ada satu pun mahasiswa Unhas yang terpaksa berhenti kuliah hanya karena uang. Secara kumulatif, lebih dari 39.900 mahasiswa telah menerima beasiswa, itu kurang lebih sebanyak 28 persen dari total mahasiswa, melebihi kewajiban nasional 20 persen.
Tahun 2025 juga menjadi tonggak kebangkitan SDM dengan pengangkatan 730 pegawai tetap dan pengakuan legal bagi 393 pegawai yang selama ini mengabdi tanpa payung hukum yang kuat. Ini adalah wujud nyata Sipakatau di lingkungan kampus, memanusiakan manusia, memberikan kepastian karier, dan menghargai setiap kontribusi.
Celah yang Menganga
Namun, seperti halnya imajinasi yang sejati, saya berpendapat bahwa Unhas tidak boleh dan tidak bisa berhenti pada permukaan yang mengkilap. Harus ada ruang untuk melihat celah struktural dan kultural yang masih menganga. Antara lain pertama, meski peringkat global Unhas naik, tapi posisinya masih di papan bawah Top 1000 dan itu menunjukkan bahwa visibilitas riset dan reputasi akademik internasional masih perlu dorongan besar.
Lonjakan di QS Asia memang menggembirakan, tetapi sering kali didorong oleh indikator reputasi dan internasionalisasi yang rentan fluktuasi ditengah disrupsi teknologi dan informasi. Tanpa peningkatan publikasi berkualitas tinggi dan sitasi yang masif, target Top 500 QS pada 2030 berisiko menjadi ambisi yang sulit diwujudkan sepenuhnya.
Kedua, ambisi kemandirian finansial melalui perusahaan payung PT Hadin Metavisi Akademika, transformasi Bank Unhas ke layanan digital, serta bisnis perhotelan, travel, peternakan, dan perikanan adalah langkah realistis di era otonomi PTNBH. Tapi di sini muncul pertanyaan klasik sosiologi kekuasaan, siapa yang sebenarnya diuntungkan? Apakah komersialisasi ini akan semakin menjauhkan dosen dari riset murni dan pengajaran yang mendalam?
Apakah mahasiswa dari keluarga kurang mampu tetap mendapat ruang yang setara, atau kampus perlahan condong kepada “pasar” yang mampu membayar lebih? Hilirisasi inovasi memang bagus, tetapi kita perlu memantau secara transparan tentang seberapa jauh dampaknya benar-benar sampai ke masyarakat bawah, bukan hanya menjadi cerita sukses di laporan tahunan.
Ketiga, visi Smart Multi-Campus yang ambisius adalah langkah berani untuk mendekatkan pendidikan berkualitas ke berbagai wilayah. Namun, pengalaman banyak perguruan tinggi menunjukkan bahwa perluasan geografis sering melahirkan kesenjangan mutu.
Kampus satelit berisiko menjadi “cabang kelas dua” jika integrasi secara digital, alokasi sumber daya, dan komitmen standar akademik tidak sungguh-sungguh dijaga. Program WORKLINC dan Green Transformation juga perlu diuji lebih lanjut, apakah ia benar-benar inklusif, atau hanya menjadi proyek elitis yang terpisah dari realitas struktural kemiskinan dan akses pendidikan di daerah-daerah terpencil di timur Indonesia?
Mimpi tentang Unhas 2026–2030 pada gilirannya adalah imajinasi tentang universitas yang memilih posisi. Unhas tidak bisa lagi berdiri netral di tengah ketimpangan Timur-Barat, kerusakan lingkungan pesisir, ancaman perubahan iklim, atau masa depan generasi muda yang terancam disrupsi teknologi. Unhas harus berdiri membawa keberpihakan kepada masyarakat.
Seperti yang dikutip Prof JJ dari Nelson Mandela, mantan Presiden Afrika Selatan, pejuang anti Apartheid, yang pernah menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Unhas tahun 2005, “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.”
Realisasi Mimpi
Pada 2030 nanti, imajinasi ini akan menjadi kenyataan bukan semata karena visi rektor atau kerja keras sivitas akademika. Ia akan terwujud jika ego sektoral benar-benar diruntuhkan, jika kolaborasi pentahelix, yaitu pemerintah, akademisi, industri, masyarakat, dan media berjalan serentak dalam satu orkestrasi kepemimpinan yang handal. Dan jika kita semua, termasuk mereka yang berada di luar tembok kampus ikut merawat api imajinasi itu dengan kritis dan penuh tanggung jawab.
Unhas-ku Bersatu, Unhas-ku Kuat sudah bukan lagi sekadar teriakan tagline yang merdu dan melenakan di Baruga AP Pettarani, melainkan panggilan bagi kita semua yang percaya bahwa dari timur Indonesia masih sangat bisa lahir matahari ilmu pengetahuan yang menerangi peradaban, asalkan kita berani berlayar, pantang surut ke pantai, dan selalu siap mengoreksi arah ketika angin berubah.

























