Potret Keadilan di Bumi Majapahit, Antara Sejarah Kejayaan dan Realita yang Menyakitkan

0
Img 20260428 Wa0022
Img 20260428 Wa0022

LEGIONNEWS.COM|MOJOKERTO, — Di tanah yang dahulu dikenal sebagai pusat kejayaan Majapahit, tempat sejarah mencatat kebesaran, keberanian, dan marwah peradaban, hari ini tergambar sebuah ironi yang sangat menyedihkan. Di balik tembok-tembok kokoh gedung pengadilan, ada keluarga kecil yang datang membawa satu harapan sederhana namun seringkali sulit diraih yakni keadilan.

Ia datang bukan dengan membawa kuasa, jabatan, atau kemewahan. Tapi, mereka datang hanya dengan membawa air mata, doa, dan keyakinan buta bahwa hukum di negeri ini masih memiliki hati dan nurani. Namun, realita yang ditemui di lapangan seringkali memberikan pelajaran yang sangat pahit.

Advokat Rikha Permatasari SH, MH, menyoroti bahwa mencari keadilan bagi warga biasa bukanlah perkara yang mudah. Menurutnya, jalan itu akan terasa sangat panjang, berat, melelahkan, dan penuh luka.

Advertisement

Ada kisah nyata yang terjadi disana, tegas Rikha, yaitu seorang ayah yang harus berjuang keras hanya untuk bisa kembali menafkahi keluarganya. Ada anak-anak yang setiap hari menunggu ayahnya pulang untuk sekedar mengantar sekolah, dan ada kekasih hati yang menahan tangis berharap pintu rumah terbuka dan keadilan datang bersama langkah kaki seseorang yang dicintainya.

Kisah yang terjadi di pelataran Wilwatikta tersebut, disinyalir terdapat kesenjangan yang mencolok. Lantaran, ketika kekuasaan berdiri lebih tinggi dari rasa keadilan, maka suara rakyat kecil kerap kali akan menjadi tenggelam. Indikasi ketidakberpihakan itu, membuat banyak warga merasa bahwa hukum seolah menjadi ‘barang mewah’ yang sulit dijangkau oleh mereka yang tidak memiliki daya.

Potret keadilan di Bumi Majapahit hari ini, menurut Rikha, tidak bisa hanya diukur dari megahnya gedung atau suara palu sidang praperadilan yang diketuk. Pertanyaan utamanya adalah, apakah hukum masih mampu memeluk yang lemah, mendengar yang kecil, dan membela yang benar?

Ada dugaan kuat bahwa sistem yang berjalan saat di sidang praperadilan terasa “tajam ke bawah, tumpul ke atas”. Artinya, hukum terlihat sangat kaku dan keras ketika berhadapan dengan rakyat kecil, namun kerap terlihat lunak dan lambat ketika berhadapan dengan mereka yang memiliki kekuatan. Hal tersebut ditengarai menjadi penyebab utama mengapa kepercayaan masyarakat terhadap lembaga peradilan di Bumi Wilwatikta itu semakin lama semakin menipis.

“Jika kondisi ini dibiarkan, dampaknya bagi masyarakat akan sangat besar dan berbahaya. Karena ketika rakyat kecil merasa bahwa pengadilan bukan lagi tempatnya untuk mencari perlindungan, melainkan menjelma menjadi tempat harapan yang dipatahkan, maka mereka akan kehilangan kepercayaan total pada negara,” lontar Rikha. Senin, (27/4/2026).

Menurutnya, masyarakat bisa menjadi apatis dan beranggapan bahwa hukum tidak pernah berpihak pada kebenaran, melainkan berpihak pada yang kuat. Ini sangat berbahaya karena dapat merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa. Rakyat yang putus asa bisa jadi mencari jalannya sendiri di luar hukum, yang pada akhirnya akan memicu keresahan sosial.

“Citra sejarah kebesaran Majapahit yang dikenal adil dan beradab, seolah menjadi tanda tanya besar. Kejayaan sebuah negeri tidak diukur dari masa lalunya, melainkan dari bagaimana ia memperlakukan rakyat kecilnya di masa kini,” tambahnya.

Sejarah, kata Rikha, akan terus mencatat. Dan hari ini, pertanyaan besar yang menggantung di Bumi Majapahit adalah, apakah keadilan di sini masih benar-benar hidup dan bernyawa? Atau ia sudah mati dan hanya tinggal nama yang tertulis di buku tebal?

“Tantangan bagi seluruh aparat penegak hukum kini harus bisa membuktikan bahwa hukum masih memiliki rasa, masih bisa mendengar, dan masih mau membela mereka yang lemah. Sampai kapan rakyat kecil harus terus berharap sambil menahan luka?,” pungkasnya.

Pewarta : Agung Ch

Advertisement