LEGIONNEWS.COM – OPINI, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd. Takbir menggema. Suara yang seharusnya membesarkan Tuhan, tapi kadang hanya berhenti di pengeras suara—tidak sampai ke dalam diri.
Hari ini kita merayakan kemenangan. Tapi semakin lama, kita semakin sulit menjelaskan: menang atas apa? Lapar berhasil kita kalahkan. Tapi kebiasaan lama itu cerita lain. “Kita menang menahan lapar, tapi kalah menahan kebiasaan.”
Ramadan selalu memberi kita ilusi perubahan. Selama sebulan, kita terlihat lebih baik. Lebih sabar, lebih santun, lebih religius. Tapi sering kali itu hanya versi sementara bukan versi sebenarnya.
Begitu Syawal datang, kita kembali. Bukan ke fitrah, tapi ke rutinitas. Yang berubah hanya kalender. Karakter tetap sama.
Yang lebih penting adalah: apakah kita juga menahan kebiasaan lama yang selama ini kita anggap biasa? Atau kita hanya menundanya, lalu melanjutkannya lagi dengan cara yang lebih rapi?
“Yang berubah bukan perilaku, hanya cara melakukannya.”
Mari kita jujur, meski tidak nyaman. Di balik senyum Idul Fitri, praktik “tanda terima kasih” tetap berjalan. Gratifikasi hanya berganti nama. Pengaruh hanya berganti cara. Yang dulu terang-terangan, sekarang lebih elegan.
Semua tahu.
Tapi diam lebih aman. Karena kadang yang berbahaya bukan pelanggaran, tapi keberanian untuk menyebutnya pelanggaran.
Ketika ada yang tersangkut hukum, kita tidak lagi mencari kebenaran. Kita mencari cara membelanya. Narasi korban dibuat, simpati dikumpulkan, dan perlahan yang salah mulai terlihat benar.
“Di negeri ini, kebenaran kadang kalah oleh narasi.”
Dan yang paling jujur: ini bukan hanya soal mereka yang berkuasa. Kita semua punya versi kecil dari itu. Kita marah pada korupsi besar, tapi akrab dengan pelanggaran kecil. Kita ingin sistem bersih, tapi tetap nyaman dengan kebiasaan kotor.
Kita ingin perubahan, tapi tidak mau kehilangan keuntungan dari sistem yang salah. Kita ingin keadilan, tapi hanya ketika tidak merugikan kita.
“Kita ingin kebenaran, tapi dengan syarat tidak menyakitkan.”
Padahal, fitrah itu sederhana jujur. Tapi kejujuran adalah hal paling mahal di zaman ini.
Karena jujur sering berarti kehilangan kehilangan peluang, kehilangan akses, bahkan kehilangan teman.
Insan madani tidak lahir dari orang yang hanya rajin ibadah, tapi dari mereka yang berani jujur ketika tidak ada yang berani. Yang tetap lurus ketika semua mulai membengkok.
Ramadan sudah memberi kita latihan terbaik: kejujuran tanpa pengawasan. Tidak ada saksi, tidak ada kamera, tidak ada sistem. Tapi jika latihan sejujur itu tidak mengubah kita, maka masalahnya bukan di luar masalahnya di dalam.
“Masalahnya bukan sistem yang rusak, tapi hati yang terbiasa kompromi.”
Hari ini kita saling memaafkan. Tapi mungkin yang perlu kita lakukan bukan hanya memaafkan orang lain melainkan berhenti memaafkan diri sendiri atas kesalahan yang terus kita ulang.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd. Ramadan selesai. Topeng juga harusnya selesai. Sekarang tinggal satu pilihan: kembali ke fitrah… atau tetap hidup nyaman dalam kebiasaan yang kita tahu salah.
“Yang paling berbahaya bukan dosa yang kita lakukan, tapi dosa yang sudah kita anggap biasa.”

























