THR Cair, Mall dan Warkop Penuh, Jalan Macet Masjid Justru Sepi

0
Tunjangan Hari Raya atau THR

Oleh Makmur Idrus

LEGIONNEWS.COM – OPINI, Ramadan selalu datang membawa dua wajah kehidupan manusia. Di satu sisi ia adalah bulan spiritual bulan ketika umat Islam memperbanyak ibadah, menahan diri, dan berharap mendapatkan ampunan Allah. Namun di sisi lain, Ramadan juga menjadi musim ekonomi yang paling sibuk. Ketika Tunjangan Hari Raya (THR) mulai cair, pusat perbelanjaan dipenuhi manusia, warkop ramai hingga larut malam, dan jalanan macet di berbagai sudut kota.

Di saat yang sama, sepuluh malam terakhir Ramadan sedang berjalan malam-malam yang diyakini menyimpan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Momentum spiritual yang sangat tinggi ini seharusnya menjadi puncak perenungan bagi umat Islam.

Advertisement

Ironinya, pemandangan yang muncul sering kali terasa kontras. Mall semakin ramai, warkop dipenuhi obrolan hingga tengah malam, jalanan dipadati kendaraan, tetapi di beberapa tempat masjid justru mulai kehilangan jamaah. Lampu-lampu pusat perbelanjaan menyala terang, sementara sebagian saf salat malam tidak lagi seramai awal Ramadan.

Fenomena ini bukan sekadar cerita kecil tentang gaya hidup perkotaan. Ia mencerminkan perubahan orientasi masyarakat modern. Manusia hari ini hidup di antara dua dunia: dunia spiritual dan dunia konsumsi. Ramadan yang seharusnya menjadi momentum menahan diri kadang justru berubah menjadi musim belanja terbesar sepanjang tahun.

THR yang seharusnya membantu masyarakat merayakan hari raya dengan lebih baik sering kali berubah menjadi bahan bakar pesta konsumsi. Diskon besar-besaran, promo Lebaran, dan berbagai penawaran menarik membuat pusat perbelanjaan menjadi tujuan utama banyak orang menjelang Idul Fitri.

Padahal dalam tradisi Islam, sepuluh malam terakhir Ramadan adalah puncak perjalanan spiritual. Di dalamnya terdapat Lailatul Qadar—malam yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Satu malam yang penuh keikhlasan dapat memiliki nilai yang melampaui hampir seluruh usia manusia.

Namun di tengah suasana Ramadan itu, dunia juga sedang menghadapi ketegangan geopolitik yang serius. Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel terus memanas dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Ketegangan di kawasan Timur Tengah itu bukan hanya persoalan militer, tetapi juga berdampak pada perekonomian global.

Ketika jalur energi di kawasan Teluk Persia terganggu, harga minyak dunia cenderung naik dan pasar ekonomi global menjadi tidak stabil. Energi adalah urat nadi ekonomi modern. Jika harga energi meningkat, dampaknya merambat ke berbagai sektor—biaya transportasi naik, harga pangan terdorong meningkat, dan biaya produksi industri menjadi lebih mahal.

Namun di tengah dunia yang sedang diliputi ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi, manusia sering tetap menjalani rutinitasnya seperti biasa. Kesibukan belanja, obrolan di warkop, dan hiruk-pikuk persiapan Lebaran seolah membuat kita lupa bahwa dunia sedang menghadapi berbagai krisis.

Puasa sebenarnya mengajarkan hal yang berbeda. Ia mengajarkan manusia menahan diri, menunda keinginan, dan merasakan penderitaan orang lain yang hidup dalam kekurangan. Karena itu, sepuluh malam terakhir Ramadan seharusnya menjadi waktu untuk memperlambat ritme kehidupan, mencari keheningan doa, dan kembali mengingat tujuan spiritual manusia di tengah hiruk-pikuk dunia.

Advertisement