LEGIONNEWS.COM – SIDRAP, Bupati Saharuddin Alrif menyampaikan bahwa tudingan kabupaten Sidrap “Darurat 4 S”. Adalah tidak benar.
Sejak dirinya memerintah lebih satu tahun kabupaten itu terus berbenah diri dari berbagai tudingan miring.
“Sekarang Sidrap ekonominya tumbuh dengan baik di sektor pertanian dan peternakan,” ujar Bupati Sidrap.
Badan Pusat Statistik (BPS) RI mencatat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sidrap pada awal tahun 2026 menunjukkan tren impresif dan melesat ke angka 7,71 persen (y-on-y) dibandingkan 2025, angka yang terbilang sangat tinggi.
Di tangan Saharuddin Alrif, Kabupaten Sidenreng Rappang ekonomi melonjak signifikan ini didorong oleh sektor pertanian, peternakan, dan penyedia makan-minum. Dan tercatat sebagai yang tertinggi di Sulawesi Selatan (Sulsel).
Penggerak Utama:
Sektor Pertanian dan Peternakan menjadi penyumbang terbesar. Produksi telur di Sidrap bahkan dilaporkan mencapai nilai ekonomi miliaran rupiah per hari.
Sektor Pendukung:
Lapangan usaha penyedia akomodasi dan makan minum tumbuh pesat mencapai 12,42 persen.
Kinerja Kepemimpinan:
Pertumbuhan ini dicapai di bawah kepemimpinan Bupati Syaharuddin Alrif, dengan strategi penguatan ketahanan pangan dan teknologi peternakan
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) RI, Amalia Adininggar Widyasanti, ke Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Kamis, 12 Maret 2026, menjadi momentum untuk melihat langsung aktivitas ekonomi riil yang mendorong pertumbuhan daerah tersebut.
Dalam kunjungannya, Amalia menjelaskan bahwa Sidrap mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sulawesi Selatan, yakni mencapai 7,71 persen. Angka tersebut menunjukkan kinerja ekonomi daerah yang sangat baik dibandingkan kabupaten lainnya di provinsi tersebut.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Sidrap terutama ditopang oleh sektor pertanian serta industri pengolahan hasil pertanian. Kedua sektor ini menjadi penggerak utama aktivitas ekonomi masyarakat dan memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan ekonomi daerah.
“Dari pertumbuhan 7,71 persen tersebut, yang menjadi pendorong utamanya adalah sektor pertanian dan industri pengolahan hasil pertanian. Ini menunjukkan kekuatan kompetensi daerah yang perlu terus didorong ke depan,” ujar Amalia.
Ia menambahkan, capaian tersebut sudah sangat dekat dengan angka 8 persen, yang menjadi target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Menurutnya, hal ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pemerintah daerah untuk terus memperkuat sektor-sektor produktif.
Amalia menegaskan bahwa data yang dirilis oleh BPS merupakan hasil pencatatan berdasarkan fakta di lapangan. Karena itu, Sidrap dinilai sebagai salah satu daerah yang menarik untuk diamati secara langsung sebagai contoh pertumbuhan ekonomi yang kuat di tingkat daerah.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menekankan bahwa peran BPS bukan menjalankan program pembangunan, melainkan menghasilkan data statistik yang berkualitas, bermakna, dan berdampak. Data tersebut kemudian dapat digunakan oleh pemerintah daerah sebagai dasar pengambilan kebijakan.
BPS Kabupaten Sidrap, lanjutnya, akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, termasuk dengan bupati, untuk memberikan berbagai insight berbasis data mengenai langkah-langkah strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus pembangunan sosial.
“BPS bertugas menghasilkan statistik yang bermakna, berdampak, dan berkualitas. Data tersebut diharapkan dapat membantu pemerintah daerah dalam membangun daerah berbasis data dan fakta,” jelasnya.
Ia berharap sinergi antara BPS dan pemerintah daerah dapat terus diperkuat sehingga pembangunan di Sidrap maupun secara nasional dapat berjalan lebih terarah dan berbasis pada informasi yang akurat. (*)

























