Siap Jadi Mediator, Kemenlu RI: Presiden Indonesia Siap untuk Melakukan Perjalanan ke Teheran

0
FOTO: Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani Perjanjian Perdagangan Timbal Balik antara Indonesia dan Amerika Serikat, di Washington, D.C., Kamis (19/02/2026). (Sumber: BPMI Setpres)
FOTO: Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani Perjanjian Perdagangan Timbal Balik antara Indonesia dan Amerika Serikat, di Washington, D.C., Kamis (19/02/2026). (Sumber: BPMI Setpres)

LEGIONNEWS.COM – JAKARTA, Pemerintah Indonesia menyatakan kesiapannya untuk menjadi mediator antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Usai militer AS dan Israel menyerang Teheran dan sejumlah wilayah tersebut pada Sabtu (28/2/2026).

Hal itu diketahui dari pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Indonesia yang mendesak seluruh pihak untuk mengedepankan jalur diplomasi.

“Indonesia menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri dan memprioritaskan dialog dan diplomasi,” demikian pernyataan yang disampaikan Kementerian Luar Negeri di akun media sosial X.

Advertisement

“Pemerintah Indonesia menyatakan kesediaannya untuk memfasilitasi dialog guna memulihkan kondisi keamanan yang kondusif. Jika disetujui oleh kedua belah pihak, Presiden Indonesia siap untuk melakukan perjalanan ke Teheran untuk melaksanakan mediasi,” tambah pernyataan itu.

Komisi I DPR RI

Wakil Ketua Komisi I DPR RI Sukamta menilai tindakan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang membombardir Iran merupakan serangan serius dan mengganggu proses diplomasi yang tengah berlangsung. Menurutnya, serangan itu berpotensi memunculkan perang regional.

“Ini serangan serius dan berpotensi mengganggu proses diplomasi yang berlangsung,” ujar Sukamta, Sabtu (28/2/2026).

Legislator dari Fraksi PKS ini memperkirakan sejumlah kemungkinan dampak serangan AS dan Israel ke Iran . Menurutnya, Iran berpotensi membalas serangan rudal AS.

“Bisa diduga Iran akan membalas, tapi bentuk dan intensitasnya belum jelas. Balasan bisa berupa serangan misil, drone, atau operasi proxy melawan kepentingan Israel dan sekutunya,” ujar Sukamta.

Menurut Sukamta, perlu diwaspadai potensi meluasnya konflik. Ia memperkirakan, konflik bisa berkembang menjadi perang regional.

“Yang perlu diwaspadai, kemungkinan eskalasi lebih luas. konflik ini bisa berkembang menjadi perang regional jika negara lain (baik sekutu Iran maupun sekutu Israel) terlibat secara langsung,” ucap Sukamta.

Jika perang regional terjadi, kata Sukamta, pasti akan berdampak pada ekonomi global. “Setiap ketegangan di Timur Tengah bisa berdampak pada pasar energi dunia, investor global, dan jalur perdagangan.”

Sukamta mengatakan, Indonesia bersama OKI perlu mencegah meluasnya konflik. Ia juga mengimbau seluruh pihak menahan diri, terkhusus Israel.

Diketahui, AS-Israel melancarkan serangan ke Teheran, Iran, Sabtu (28/2/2026). Kepulan asap terlihat membubung di pusat kota tersebut. Media Iran melaporkan, serangan pertama menargetkan lokasi di Kantor Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Seorang pejabat Amerika Serikat (AS) mengatakan serangan terhadap Iran merupakan operasi militer gabungan AS dengan Israel. Militer Israel menyatakan keadaan darurat dan meminta warga untuk segera menuju tempat perlindungan. (*)

Advertisement