Penulis: Fajar Hidayat Asbar, SH., Ketua OKP DPD I Gerakan Pemuda Nusantara (GPN) Sulawesi Selatan.
LEGIONNEWS.COM – OPINI, Rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada tokoh pemuda terdahulu yang berhasil membuat ikrar kebangsaan yakni sumpah pemuda(28 oktober 1928) yang menjadi fondasi ideologis penting menuju proklamasi kemerdekaan republik indonesia pada 17 agustus 1945.
Jika kita menyelami lebih dalam usia tokoh pemuda yang memprakarsai agenda besar ini berada di kisaran 22-25 tahun. Soegondo djojopoespito (Ketua Kongres Pemuda II) berusia sekitar 23 tahun di saat kongres pemuda II yang artinya di saat kongres pertama pada tahun 1926.
Saat itu Soegondo baru berusia sekitar 21 tahun seperti halnya Muhammad Yamin, Sekertaris Kongres Pemuda II yang lahir pada tanggal 24 agustus 1903 yang pada kongres pertama berusia 23 tahun.
Usia ketua kongres pemuda II jika mengacu semester mahasiswa saat ini usia 21 tahun berada di semester 5 hingga 7. Sehingga Ini menjadi refleksi dan perenungan mendalam untuk generasi muda saat ini ketika membayangkan seorang pemuda rata-rata berusis 22 tahun sedang memikirkan sebuah langkah besar untuk menyatukan kesamaan (satu tanah air (tanah indonesia), satu bangsa(bangsa indonesia), satu bahasa persatuan (bahasa indonesia),
Kesemuanya, Bertujuan membangun pondasi perlawanan nasional atas penjajah, dan menciptakan harapan besar tentang kemerdekaan sebuah bangsa yakni bangsa indonesia.
Hal yang juga penting untuk di ketahui adalah aktivitas keseharian pemuda saat itu berpusat di rumah-rumah kos seperti rumah kos di Jalan Kramat Raya 106, (milik sie kong liong) menjadi markas perhimpunan pelajar-pelajar indonesia (PPPI) (organisasi yang paling aktif dalam proses terselenggaranya kongres pemuda).
Di rumah kos ini lah para pemuda dari jong java, jong sumatera bond, jong celebes , dan jong ambon tinggal bersama. Pagi hari mereka berangkat kuliah(seperti di STOVIA atau RHS/sekolah hukum) dan sore hingga malam hari berkumpul di ruang tengah kos untuk mendiskusikan nasib bangsa sembari minum teh atau kopi. Aktifitas yang begitu produktif Inilah yang melahirkan inisiatif yang lebih maju, terorganisir,dan kritis sehingga terciptalah Sumpah pemuda.
Setelah kita menyelami hebatnya pemuda tempoe doeloe dan kembali menatap pemuda di era sekarang kita mendapati sebuah perbedaan yang sangat mencolok pada pemanfaatan waktu senggang, jika dahulunya waktu senggang diisi dengan aktifitas diskusi yang mebahas bangsa dan negara, beda halnya dengan pemuda hari ini kita mendapati apatisme politik, depolitisasi, dan terjebak dalam kenyamanan ruang digital.
Teknologi dan algoritma media sosial pada akhirnya menciptakan echo camber (ruang gema) yang membuat pemuda hanya mengkonsumsi informasi yang mereka sukai.
Isu-isu serius sering kali tergeser oleh konten hiburan yang instan(gimmick dan tren viral). Belum lagi terjadi komodifikasi idealisme fokus generasi muda bergeser dari gerakan sosial-politik menuju kesuksesan ekonomi instan seperti menjadi influencer, mengejar karir di industri kreatif, atau terjebak dalam budaya hustle culture Itulah gambaran pemuda saat ini.
Herbert Marcuse dalam bukunya one dimensional man(manusia satu dimensi) menjelaskan bagaimana masyarakat kapitalis modern membungkam daya kritis manusia. jika kita persempit pembahasannya tentang pemuda yang berorganisasi saat ini maka kita mendapati sunyinya ruang diskusi di sekret-sekret, di pelararan kampus, di kos-kos.
Apa yang menyebabkan ini terjadi?
Salah satunya yakni polarisasi kekuasaan dari hulu ke hilir mematikan ruang pemuda untuk berfikir kritis mulai dari regulasi pendidikan hingga aturan kampus yang memperketat mahasiswa agar tidak fokus berorganisasi serta hanya berfokus masuk ke ruang kelas dan mendengarkan dosen.
Belum lagi instansi pemerintahan yang bertugas mengelola pemuda tidak serius mendorong program atau kerja sama dengan okp untuk menciptakan program yang mendorong kekritisan pemuda.
Hal lain yang tak boleh luput untuk diamati yakni aktifitas waktu senggang pemuda saat ini yang berorganisasi hanya menghabiskan waktu di ruang perkopian dan hanya membahas potensi pragmatis.
Budaya politik indonesia saat ini yang di pertontongkan penguasa 20 tahun terakhir juga ikut menjadi dasar matinya nalar kritis pemuda karena angkatan tua hanya melihat pemuda sebagai objek pemanfaatan untuk memperkuat elektoralnya, membiasakan merekrut pemuda yang cukup dengan manut tanpa perspektif dan pikirian yang maju sehingga kompetisi untuk menjadi lebih cerdas dan maju di kalangan pemuda menjadi pasif.
Budaya politik yang lain yang sedang menghantam indonesia yakni berkuasanya uang atas politik, sehingga keutamaan gerak pemuda adalah penumpukan kekayaan, bernalar yang kritis akhirnya terpinggirkan.
Sudah seharusnya pemuda merenungi kembali gerak langkah yang dilakukan, sehingga muncul pertanyaan apakah kita membiarkan generasi muda saat ini menjadi pelaku kehancuran bangsa dan negara pada waktu yang akan mendatang?
























