OPINI: Sumpah Pemuda, Bulukumba, dan Waktu yang Sedang Memanggil
Oleh: Andi Sukriadi, S.KM., M.Kes.
Sejarah tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia hanya berganti pakaian, berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, lalu mengetuk kesadaran manusia dengan pertanyaan yang berbeda. Apa yang dahulu diperjuangkan dengan keberanian, hari ini mungkin harus diperjuangkan dengan kejernihan berpikir. Apa yang dulu disatukan oleh ikrar, kini mesti dirawat melalui kesediaan untuk mendengar, memahami, dan menemukan tujuan bersama.
Sumpah Pemuda adalah salah satu penanda penting dalam perjalanan itu. Pada 28 Oktober 1928, sekelompok anak muda tidak sekadar mengucapkan janji tentang tanah air, bangsa, dan bahasa. Mereka sedang menantang batas-batas zamannya. Mereka memahami bahwa masa depan tidak akan lahir dari pikiran yang terkurung dalam sekat-sekat sempit, melainkan dari keberanian membayangkan sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan diri dan kelompoknya.
Di situlah Sumpah Pemuda menemukan maknanya yang paling dalam: keberanian untuk melampaui keadaan.
Namun, setiap warisan sejarah selalu menyimpan ujian. Generasi setelahnya dapat menjadikan sejarah sebagai sumber keberanian, tetapi juga bisa mengubahnya menjadi upacara yang kehilangan daya gugah. Kita dapat mengulang kata-katanya setiap tahun, mengibarkan benderanya, dan merayakan semangatnya; tetapi semua itu belum tentu membuat kita lebih berani berpikir, lebih jujur membaca kenyataan, atau lebih sungguh-sungguh memperjuangkan perubahan.
Sebab, sejarah bukan hanya sesuatu yang dikenang. Ia adalah sesuatu yang harus dijawab.
Pertanyaan itu menjadi penting ketika kita menurunkan pandangan dari panggung sejarah menuju ruang hidup yang lebih dekat: Bulukumba. Sebuah tanah yang menyimpan kebudayaan, ingatan, dan potensi manusia, tetapi seperti banyak daerah lainnya, juga berhadapan dengan tuntutan zaman yang tidak pernah berhenti bergerak.
Di sini, masa depan bukan sekadar perkara pembangunan fisik atau pergantian figur. Ia menyangkut cara sebuah masyarakat mengenali kekuatannya sendiri, menilai orang-orang yang tumbuh di dalamnya, dan menentukan arah yang ingin ditempuh bersama. Sebab, sebuah daerah mungkin memiliki banyak orang hebat, tetapi kehebatan itu tidak selalu menjelma menjadi kemajuan apabila tidak ditemukan ruang untuk mempertemukan gagasan, pengalaman, dan tanggung jawab.
Di antara persoalan itulah kita perlu belajar membedakan sesuatu yang tampak dari sesuatu yang sungguh bermakna.
Popularitas adalah sesuatu yang mudah dilihat, tetapi kapasitas membutuhkan kesediaan untuk ditelaah. Nama dapat beredar luas, wajah dapat dikenal banyak orang, dan suara dapat memenuhi ruang percakapan. Namun, di balik semua itu, tetap ada pertanyaan yang tidak boleh dihindari: apa yang benar-benar mampu dikerjakan, persoalan apa yang dipahami, dan tanggung jawab sebesar apa yang sanggup dipikul?
Pertanyaan semacam ini bukan upaya merendahkan siapa pun. Justru sebaliknya, ia merupakan bentuk penghormatan terhadap akal sehat. Dalam semangat Sapere Aude, Immanuel Kant mengajak manusia untuk berani menggunakan pikirannya sendiri, tidak menyerahkan penilaian sepenuhnya kepada kebiasaan, keramaian, atau pendapat yang sedang dominan.
Pesan itu terasa dekat dengan kehidupan publik kita. Jangan sampai masyarakat lebih sibuk menimbang gema sebuah nama daripada menguji bobot pemikirannya. Jangan sampai kemasan mengalahkan isi, atau kedekatan menutup kemampuan untuk menilai secara jernih. Sebab, masa depan terlalu berharga jika hanya ditentukan oleh siapa yang paling sering terlihat, bukan oleh siapa yang paling siap bekerja.
Akan tetapi, kapasitas manusia pun tidak tumbuh di ruang hampa. Pengetahuan memerlukan pengalaman, pengalaman membutuhkan ruang pengabdian, sementara pengabdian memerlukan kesempatan untuk memberi arti. Dalam teori modal manusia, pengetahuan dan keterampilan dipandang sebagai sumber daya yang dapat meningkatkan kemampuan seseorang untuk menghasilkan nilai. Namun, dalam kehidupan masyarakat, kemampuan itu baru memperoleh makna yang lebih luas ketika dipertemukan dengan kebutuhan bersama.
Di sinilah sebuah daerah harus belajar melihat dirinya dengan lebih lapang.
Tidak semua potensi berada di satu tempat. Ada yang tumbuh dan mengabdi di tanah kelahiran, memahami denyut kehidupan masyarakat dari dekat. Ada pula yang menempuh perjalanan ke luar daerah, mengumpulkan pengalaman, memperluas pengetahuan, dan membangun jejaring yang berbeda. Jarak mungkin memisahkan tempat tinggal, tetapi tidak selalu memutus hubungan batin dengan tanah asal.
Mereka yang berada di luar daerah tidak otomatis lebih memahami persoalan di kampung halaman. Sebaliknya, mereka yang menetap di dalamnya juga tidak harus memikul seluruh beban perubahan seorang diri. Setiap pengalaman memiliki keterbatasan sekaligus kelebihan. Yang satu mungkin memahami persoalan dari kedekatan, yang lain melihatnya melalui jarak dan perbandingan.
Jika keduanya bersedia berdialog, perbedaan itu dapat menjadi sumber pengetahuan. Namun, jika masing-masing sibuk mempertahankan klaimnya sendiri, potensi yang semestinya saling melengkapi justru berubah menjadi jarak yang tak perlu.
Maka, Bulukumba tidak membutuhkan perdebatan tentang siapa yang paling berhak merasa memiliki tanah ini. Yang dibutuhkan adalah kesadaran bahwa tanah kelahiran bukan hanya tempat seseorang berasal, melainkan juga ruang tempat tanggung jawab menemukan alamatnya.
Mencintai Bulukumba tidak selalu berarti harus berada di dalam batas geografisnya setiap waktu. Tetapi cinta yang sungguh-sungguh juga tidak cukup diucapkan sebagai kerinduan. Ia perlu menemukan bentuk dalam gagasan, kontribusi, dan kesediaan mengambil bagian ketika daerah ini membutuhkan pikiran-pikiran terbaik dari orang-orangnya.
Barangkali di sinilah kita perlu berhenti sejenak: bukan untuk mempertanyakan dari mana seseorang datang, melainkan untuk memahami apa yang dibawanya; bukan untuk menghitung seberapa jauh seseorang pergi, melainkan untuk melihat apa yang dipelajarinya selama perjalanan; dan bukan untuk memperdebatkan siapa yang paling pantas berbicara, melainkan untuk menguji apakah perkataannya mampu menjawab kebutuhan nyata.
Sebab, perjalanan hanya menjadi pengalaman apabila seseorang pulang dengan pemahaman. Pengetahuan hanya menjadi kekuatan apabila ia bersedia dibagikan. Dan potensi hanya menjadi berarti apabila menemukan jalan untuk bekerja bagi kehidupan yang lebih luas.
Namun, mempertemukan potensi saja tidak cukup. Ia membutuhkan sesuatu yang lebih mendasar: kehendak untuk bergerak ke arah yang sama.
Zaman selalu menghadirkan perubahan, tetapi perubahan tidak dengan sendirinya membawa kemajuan. Ada perubahan yang membuka jalan, ada pula yang hanya mengganti wajah tanpa menyentuh persoalan. Karena itu, membaca zaman bukan sekadar mengetahui apa yang sedang berlangsung, melainkan memahami apa yang sesungguhnya dibutuhkan dan ke mana sebuah masyarakat hendak diarahkan.
Dalam pemikiran filsafat sejarah, manusia tidak hanya hidup di dalam waktu; manusia juga memberi makna kepada waktu melalui pilihan dan tindakannya. Kita memang tidak dapat menentukan seluruh keadaan yang datang, tetapi kita selalu memiliki tanggung jawab atas cara meresponsnya. Masa depan, dalam pengertian ini, bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Ia dibentuk oleh keputusan-keputusan yang hari ini mungkin tampak kecil, tetapi kelak menentukan arah perjalanan bersama.
Bulukumba pun berada dalam kenyataan yang sama. Potensinya tidak akan berkembang hanya karena kita bangga menyebutnya. Harapannya tidak akan menjadi kenyataan hanya karena kita pandai merangkai kalimat tentang kemajuan. Dibutuhkan kemampuan untuk mempertemukan pengetahuan dengan kebutuhan, pengalaman dengan kesempatan, serta kehendak pribadi dengan kepentingan yang lebih besar.
Pertemuan semacam itu membutuhkan visi. Tanpa visi, kerja sama mudah menjadi persekutuan sesaat. Tanpa integritas, kebersamaan dapat kehilangan arah ketika kepentingan mulai berbicara. Dan tanpa keberanian untuk menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan diri, setiap gagasan besar berisiko berhenti sebagai hiasan percakapan.
Karena itu, yang patut diperhatikan bukan sekadar siapa bertemu dengan siapa, atau siapa berjalan bersama siapa. Pertanyaan yang lebih penting adalah nilai apa yang mempertemukan mereka, tujuan apa yang hendak dicapai, dan tanggung jawab apa yang bersedia mereka pikul setelah pertemuan itu berakhir.
Dua orang dapat duduk di meja yang sama tanpa memiliki tujuan yang sama. Sebaliknya, orang-orang yang berasal dari pengalaman berbeda dapat berjalan menuju arah yang sama ketika mereka menemukan keyakinan bahwa kepentingan bersama lebih besar daripada perbedaan di antara mereka.
Pada akhirnya, kualitas sebuah pertemuan tidak ditentukan oleh banyaknya orang yang berkumpul, melainkan oleh kedalaman alasan yang menyatukan mereka. Sebuah ikhtiar tidak menjadi bermakna hanya karena terlihat menjanjikan. Ia harus diuji oleh waktu, oleh konsistensi, dan oleh manfaat yang benar-benar dapat dirasakan.
Di tengah perubahan itu, Bulukumba sesungguhnya memiliki penuntun yang tumbuh dari kebudayaannya sendiri: taro ada, taro gau. Sebuah ungkapan sederhana, tetapi menyimpan kedalaman etika yang tidak sederhana—apa yang diucapkan harus menemukan kesesuaiannya dalam perbuatan.
Nilai ini mengingatkan kita bahwa integritas bukan perkara bagaimana seseorang memperkenalkan dirinya, melainkan bagaimana ia menjaga keselarasan antara kata, sikap, dan tindakan. Dalam filsafat moral, niat baik saja tidak cukup untuk membenarkan sebuah tindakan. Tanggung jawab juga menuntut kesediaan mempertimbangkan akibat, menerima konsekuensi, dan memperbaiki sesuatu yang ternyata tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Maka, taro ada, taro gau bukan sekadar ungkapan yang layak dipajang dalam pidato atau dikenakan sebagai kebanggaan identitas. Ia adalah cermin untuk menguji diri sendiri. Apakah gagasan sejalan dengan tindakan? Apakah janji memiliki kesungguhan untuk diwujudkan? Apakah kebersamaan tetap terjaga ketika jalan yang ditempuh mulai menuntut pengorbanan?
Pertanyaan-pertanyaan itu berlaku bagi siapa saja yang ingin mengambil bagian dalam kehidupan publik. Sebab, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang mampu membicarakan masa depan, tetapi juga orang yang bersedia menanggung pekerjaan panjang untuk mewujudkannya.
Di sinilah kebudayaan menemukan daya hidupnya. Ia tidak berhenti sebagai warisan yang dibanggakan, tetapi menjelma menjadi ukuran moral untuk menilai pilihan-pilihan hari ini. Tradisi yang hidup bukan tradisi yang sekadar diulang, melainkan tradisi yang sanggup memberi arah ketika manusia menghadapi persoalan baru.
Dan mungkin, itulah salah satu cara paling jujur untuk meneruskan semangat Sumpah Pemuda: bukan dengan meniru bentuk perjuangan masa lalu, melainkan dengan menjaga keberanian moral yang membuat perjuangan itu mungkin terjadi.
Pada akhirnya, setiap generasi akan berhadapan dengan pertanyaan yang sama dalam wajah yang berbeda: apakah kita hanya akan menjadi penonton perubahan, atau bersedia mengambil tanggung jawab untuk membentuknya?
Pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban yang tergesa-gesa. Ia justru menuntut kejernihan, sebab keputusan yang menyangkut masa depan tidak semestinya lahir hanya dari kegaduhan sesaat. Kita membutuhkan ruang yang cukup lapang bagi gagasan untuk diuji, kapasitas untuk dinilai secara adil, dan perbedaan untuk dipertemukan tanpa kehilangan prinsip.
Bulukumba tidak kekurangan alasan untuk berharap. Tetapi harapan yang tidak disertai persiapan hanya akan menjadi cara lain untuk menunda pekerjaan. Daerah ini memerlukan keberanian untuk mengenali potensinya, kedewasaan untuk mempertemukan berbagai kekuatan, dan keteguhan untuk memastikan bahwa setiap langkah tetap berpijak pada kepentingan masyarakat.
Sebab, waktu tidak pernah berhenti hanya karena kita belum selesai berdebat. Ia terus bergerak, membawa serta kesempatan yang mungkin datang sekali, lalu pergi ketika tidak ada yang cukup siap menyambutnya.
Maka, barangkali yang perlu kita wariskan kepada generasi berikutnya bukan sekadar cerita tentang siapa yang pernah berjasa, siapa yang pernah berdiri di depan, atau siapa yang pernah mengucapkan janji paling lantang. Yang lebih penting adalah meninggalkan sebuah keadaan yang lebih baik daripada yang kita terima; sebuah Bulukumba yang tidak menyia-nyiakan potensi manusianya, tidak menutup pintu bagi gagasan baru, dan tidak kehilangan kompas moral ketika berhadapan dengan kepentingan.
Di hadapan waktu, setiap orang boleh memiliki cita-cita. Setiap generasi boleh menyimpan harapan. Namun, tidak semua orang bersedia membayar harga dari sebuah tanggung jawab: berpikir sebelum memutuskan, bekerja sebelum menuntut pengakuan, dan tetap teguh ketika jalan yang dipilih tidak selalu menawarkan tepuk tangan.
Sumpah Pemuda telah mengajarkan bahwa masa depan bermula ketika keberanian menemukan tujuan bersama. Kini, tugas kita bukan sekadar mengenang keberanian itu, melainkan menemukan bentuknya kembali di tanah yang kita cintai.
Sebab, Bulukumba tidak hanya membutuhkan orang-orang yang merasa memiliki masa depan. Bulukumba membutuhkan mereka yang bersedia mempersiapkannya. Dan ketika waktu mulai memanggil, yang akan menentukan bukanlah siapa yang paling keras menjawab, melainkan siapa yang benar-benar telah menyiapkan diri untuk datang membawa arti. (**)

























