
LEGIONNEWS.COM – MAKASSAR, Andi Muhammad Reza AF, mengungkapkan saat dirinya bersama dua rekannya M. Iksan Novriansyah dan Sahrul Ramadhan membawa Sopyan Korban (Sopyan, 23 tahun) Mahasiswa pelayaran asal kabupaten Bone.
Ketiganya membawa Sopyan ke rumah sakit Islam Faisal Makassar. Mahasiswa pelayaran itu terluka parah akibat luka tusuk di Jalan Boulevard, Panakukkang, Makassar Selasa, 27 Oktober 2026, sekitar pukul 04:00 WITA pagi.
Sopyan lalu dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Islam Faisal Makassar. Ia kehilangan banyak darah.
“Saat peristiwa itu saya bersama dua rekan saya membawa Sofyan ke rumah sakit islam faisal Makassar,” ujar Muhammad Reza.
“Disana (RS Islam Faisal) tidak ada upaya tindakan medis untuk menyelematkan Sofyan yang mengalami kehilangan banyak darah,” ungkapnya.
Menurut, Muhammad Reza pihak medis rumah sakit Islam Faisal yang berjaga saat itu Selasa (27/10) hanya menyuruh agar korban (Sopyan) untuk dibawa ke RS CPI.
“Selain tidak membawa pasien masuk ke dalam IGD bahkan kami melihat tidak ada tindakan medis terhadap Sopyan untuk memperbaiki kondisinya. Misalnya memasang infus ataupun tindakan tindakan awal untuk pasien darurat,” ungkapnya.
“Mereka hanya menyuruh kami untuk membawa korban ke rumah sakit CPI, bukan itu saja kami berharap ada ambulan dan perawat yg ikut sampai ke cpi tetapi itu juga kita tidak disiapkan,” Muhammad Reza menambahkan kisahnya, Selasa (3/11/2026).
Ditempat yang sama Andi Rahmat Saleh menyayangkan rumah sakit Islam Faisal itu. Dirinya pun meminta secara tegas agar rekaman CCTV di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Selasa, 27 Oktober 2026
“Saya sampaikan secara tegas disini. Untuk rekaman CCTV di IGD rumah sakit islam faisal tidak dihapus, Untuk memastikan informasi yang disampaikan 3 rekan Sofyan saat membawanya untuk diselamatkan,” tutur ketua KAPAK 21 itu.
“Rumah sakit islam faisal itu type B, Bukan sekelas klinik atau puskesmas. Mereka bisa lakukan langkah tanggap menyelamatkan korban penikaman. Kan yang ditikam bagian betis, bukan di daerah vital seperti sekitar perut korban,” tambah pria yang biasa disapa Andi Emmang ini.
Andi Emmang menjelaskan dirinya bersama Ketua Umum DPP KEPMI Bone, Muh. Khaidir Mu’tashim, telah menemui Manajemen Rumah Sakit Islam (RSI) Faisal guna menuntut pertanggungjawaban atas dugaan kelalaian penanganan terhadap pasien gawat darurat (korban penikaman) yang berujung fatal hingga meninggal dunia.
“Usai pertemuan salah satu manajemen berupaya untuk memberikan solusi. Akan memberikan uang duka kepada keluarga korban. Tentu kami menolak ini persoalan nyawa manusia,” katanya.
“Dengan kasus saya menganggap suatu keteledoran pihak medis rumah sakit. Tidak ada upaya langkah tanggap menyelamatkan nyawa manusia,” kesal Andi Emmang.
Terkait itu awak media menghubungi pihak Humas RSI Faisal, Irham Tompo, melalui pesan WhatsApp, Namun hingga berita ini diterbitkan belum ada penjelasan resmi pihak RSI Faisal. (LN)























