
LEGIONNEWS.COM – RUBRIK, Panglima ABRI Jendral LB Moerdani, Danjen Kopassandha Brigjen Sintong Panjaitan dan Kolonel Luhut Binsar Panjaitan 1985.
Kisah LB Moerdani tak sudi lagi pakai baret merah. Tahun 1964 di RPKAD (Kopassus) ada aturan anggota invalid atau cacat dikeluarkan dari RPKAD.
Kebijakan itu diteruskan komandan RPKAD Kolonel Moeng Parhadimulyo kepada salah satu prajuritnya anak buah LB Moerdani Letnan satu Agus Hernoto.
Agus tertembak kakinya dalam satu pertempuran dengan marinir Belanda saat konflik Irian Barat.
Kaki Agus Hernoto tidak bisa diselamatkan sehingga harus diamputasi. Saat keputusan itu keluar Benny marah ia memprotes pemecatan itu karena Agus Hernoto cacat dalam pertempuaran yang heroik, semua rekan Agus gugur hanya Agus yang selamat.
Penolakan itu membuat Panglima AD Letnan Jendral Ahmad Yani marah, karena dianggapnya Benny melawan atasan. Benny sebagai danyon 1 RPKAD dicopot diganti oleh Mayor CI Santosa.
Sedangkan Benny dimutasikan ke Kostrad menjadi anak buah Mayjen Soeharto. Ia sangat kecewa kepada Jendral Yani yang membuat keputusan sepihak, sejak saat itu ia bersumpah tak sudi lagi pakai baret merah.
Baru memakai kembali saat sudah jadi Panglima ABRI pada tahun 1985. Saat itu, Benny Moerdani diminta menyematkan gelar Warga Kehormatan Baret Merah kepada Raja Malaysia (Yang di-Pertuan Agong).
Itupun sebelumnya sempat ia lempar ke atas meja, tapi setelah dibujuk Sintong Benny mau kembali memakai baret merah satuan elit tempat membesarkan namanya.
Kini tinggal LBP yang masih aktif sebagai ketua dewan ekonomi Nasional DEN.
























