
LEGIONNEWS.COM – JAKARTA, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah memastikan cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional masih aman meski distribusi di sejumlah wilayah mengalami kendala.
Bahlil menyebut cadangan Pertalite berada di kisaran 16-18 hari, sedangkan BBM jenis lain tersedia untuk lebih dari 20 hari, dilansir dari Medcom pada 20 Oktober 2026.
Dilansir dari akun media sosial milik, Bahlil, Ia menyebutkan dirinya menghadiri rapat terbatas yang dipimpin langsung Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka untuk membahas kondisi energi nasional di tengah kenaikan harga minyak dunia.
“Pemerintah terus melakukan langkah-langkah antisipasi dan mitigasi untuk menjaga pasokan serta kelancaran distribusi BBM di seluruh wilayah Indonesia. Saat ini, cadangan Pertalite secara nasional berada pada kisaran 16–18 hari dan BBM jenis lainnya di atas 20 hari.” ujar Bahlil dalam unggahannya itu. Dikutip Rabu (21/10)
“Berbagai tantangan di lapangan juga terus menjadi perhatian agar kebutuhan energi masyarakat dapat terpenuhi.” ujar Bahlil.
“Di sektor hilirisasi, pemerintah melanjutkan pengembangan industri nikel dan ekosistem baterai kendaraan listrik, serta pengelolaan produksi batu bara secara terukur untuk mendukung penerimaan devisa dan memperkuat ketahanan energi nasional.” katanya.
Menurut Bahlil, perhatian pemerintah saat ini tertuju pada kelancaran penyaluran BBM, bukan pada kekurangan persediaan secara nasional. Pemerintah juga meminta Pertamina memperbaiki distribusi ke sejumlah daerah yang menghadapi hambatan pengiriman.
Gangguan distribusi di Bali sebelumnya dipicu keterlambatan kapal pengangkut BBM dari Jawa. Situasi tersebut sempat menurunkan cadangan BBM di Bali menjadi sekitar 3-4 hari.
Setelah jumlah armada kapal ditambah, cadangan BBM di Bali kembali meningkat menjadi 11-12 hari. Menurut laporan tersebut, antrean di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) juga mulai terurai setelah pasokan membaik.
Bahlil menyebut masalah di Bali sebagai kendala teknis dalam pengelolaan arus logistik Pertamina. Ia menekankan perlunya tanggung jawab bersama untuk menangani gangguan tersebut.
“Tapi apa pun itu, masih bagian yang harus kita tanggung jawab bersama-sama,” ujar Bahlil.
Selain Bali, pemerintah mengevaluasi penyaluran BBM ke Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera. Di sejumlah wilayah tersebut, pengiriman bahan bakar bergantung pada kapal yang melintasi sungai.
Pendangkalan sungai akibat kondisi cuaca membuat kapal berukuran besar kesulitan melintas. Akibatnya, pengangkutan BBM harus dialihkan melalui jalur darat yang membutuhkan waktu lebih lama.
Untuk mengantisipasi gangguan serupa, Bahlil meminta Pertamina menambah armada pengangkut serta membenahi pengelolaan distribusi antardaerah. Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga kelancaran pasokan di wilayah yang menghadapi kendala logistik.
“Kita akan melakukan maksimal agar hal-hal yang tidak diinginkan itu tidak terjadi lagi,” tegas Bahlil.
Di sisi lain, Bahlil menyampaikan bahwa Indonesia tidak lagi mengimpor solar. Namun, sebagian kebutuhan Pertalite nasional masih dipenuhi melalui impor, sehingga pemerintah tetap berupaya menjaga ketersediaan BBM sekaligus memastikan penyalurannya berjalan lancar. (*)
























