Andi Sukriadi: Ketika Potensi Pribadi Bertemu dengan Kehendak Zaman

0
FOTO: Andi Lukman Patunru. (Ilustrasi)
FOTO: Andi Lukman Patunru. (Ilustrasi)

Penulis: Andi Lukman Patunru

LEGIONNEWS.COM – OPINI, Penulis adalah diaspora Bulukumba yang saat ini bermukim di Kendari. Ia menaruh perhatian pada dunia literasi, demokrasi, dinamika sosial, serta isu-isu kepemudaan sebagai bagian dari ikhtiar mendorong tumbuhnya kesadaran kritis dan partisipasi generasi muda dalam kehidupan publik.

Ada satu hal menarik dari kehidupan seorang diaspora: meskipun jarak memisahkan seseorang dari tanah kelahirannya, percakapan tentang kampung halaman tidak pernah benar-benar kehilangan tempat. Ia terus hidup dalam perjumpaan, pertemanan, obrolan antarsesama perantau, hingga kunjungan pulang yang kerap menghadirkan cerita-cerita baru tentang daerah yang selalu dirindukan.

Advertisement

Dalam interaksi dengan sesama diaspora Bulukumba, maupun ketika berkunjung ke Bulukumba, saya kerap menemukan bahwa percakapan tentang daerah tidak hanya berkisar pada pembangunan, persoalan sosial, atau dinamika politik lokal. Ada pula percakapan mengenai orang-orang yang dianggap memiliki potensi, figur-figur yang mulai diperbincangkan, serta harapan terhadap siapa yang kelak dapat mengambil bagian lebih besar dalam perjalanan daerah ini.

Dari ruang percakapan semacam itulah, secara kebetulan, saya mendengar nama Andi Sukriadi.

Nama itu kemudian mengusik rasa ingin tahu saya. Bukan karena saya mengenalnya secara pribadi, bukan pula karena pernah duduk bersama atau bertemu langsung dengannya. Justru sebaliknya, saya perlu menggarisbawahi sejak awal bahwa saya tidak mengenal Andi Sukriadi dan belum pernah bertemu dengannya. Saya hanya mendengar namanya dalam percakapan mengenai potensi figur muda Bulukumba.

Lantas, mengapa nama seseorang yang bahkan belum pernah saya temui menjadi menarik untuk ditelusuri?

Sebagai seseorang yang menaruh perhatian pada literasi, demokrasi, dan isu-isu kepemudaan, saya percaya bahwa ruang publik semestinya menyediakan tempat bagi gagasan, pertukaran pikiran, dan pembacaan kritis terhadap potensi manusia. Ketertarikan saya bukanlah upaya membangun kedekatan personal yang sebenarnya tidak ada, apalagi menjadi corong bagi kepentingan seseorang. Ini adalah rasa ingin tahu yang berangkat dari pertanyaan sederhana: mengapa nama seseorang mulai diperbincangkan, potensi apa yang dilekatkan kepadanya, dan sejauh mana potensi tersebut relevan dengan kebutuhan masyarakat?

Dalam tradisi literasi dan demokrasi, mengenali seseorang tidak selalu harus dimulai dari perjumpaan langsung. Ada kalanya pengetahuan tumbuh melalui cerita, informasi, dan percakapan sosial yang kemudian mendorong kita melakukan penelusuran lebih jauh. Namun, cerita tidak boleh langsung dianggap sebagai fakta, popularitas tidak otomatis menjadi ukuran kapasitas, dan pujian tidak semestinya menggantikan penilaian yang objektif.

Di sinilah saya memandang pentingnya konsep modal sosial yang diperkenalkan dan dikembangkan dalam kajian sosiologi, antara lain oleh Robert D. Putnam. Kepercayaan, jaringan sosial, dan norma timbal balik dapat menjadi sumber daya yang memungkinkan seseorang membangun kerja sama serta mengambil peran dalam kehidupan bersama. Sementara itu, perspektif kepemimpinan berbasis kapasitas mengingatkan kita bahwa potensi baru memperoleh makna ketika diuji melalui gagasan, integritas, kemampuan, dan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dengan demikian, tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai kesimpulan tentang siapa Andi Sukriadi sesungguhnya. Saya tidak memiliki pengalaman pribadi untuk membuat penilaian semacam itu. Tulisan ini merupakan ikhtiar membaca potensi seorang figur muda dari informasi mengenai latar belakang pendidikan dan kegiatan usahanya, sekaligus membuka ruang percakapan yang lebih luas mengenai hubungan antara kapasitas pribadi dan kebutuhan daerah.

Saya juga tidak sedang mengasumsikan bahwa Andi Sukriadi memiliki ambisi politik atau keinginan menduduki jabatan tertentu. Kehendak seseorang atas perjalanan hidupnya tetap merupakan hak pribadi. Akan tetapi, dalam demokrasi, masyarakat juga mempunyai hak untuk memperbincangkan figur yang dinilai berpotensi, mengajukan harapan, dan membuka ruang dialog mengenai kemungkinan pengabdian yang lebih luas.

Dari titik itulah saya mulai memandang nama Andi Sukriadi bukan semata-mata sebagai nama yang kebetulan terdengar dalam percakapan diaspora, melainkan sebagai pintu masuk untuk membicarakan sesuatu yang lebih besar: bagaimana sebuah daerah mengenali potensi generasi mudanya, bagaimana modal sosial dapat bertemu dengan tanggung jawab publik, dan bagaimana harapan masyarakat dapat disampaikan tanpa meniadakan kebebasan individu.

Sebab, bagi saya, membicarakan potensi seseorang bukan berarti memastikan masa depannya. Ia justru merupakan undangan untuk melihat lebih jauh, bertanya lebih kritis, dan membuka kemungkinan bahwa pengabdian kepada daerah dapat mengambil bentuk yang tidak selalu direncanakan sebelumnya.

Dari Ilmu Kesehatan Masyarakat Menuju Modal Sosial dan Kepemimpinan

Ada orang yang membangun pengaruh melalui jabatan, ada yang melalui kekayaan, dan ada pula yang memperoleh kepercayaan melalui karakter, pergaulan, serta kesediaannya hadir bagi orang lain. Andi Sukriadi menarik untuk dibaca dari sudut pandang terakhir ini: seorang sarjana kesehatan masyarakat, pengusaha, dan figur muda yang potensinya layak diperbincangkan dalam agenda besar kebulukumbaan.

Membicarakan Andi Sukriadi bukan berarti terburu-buru menempatkannya pada jabatan tertentu. Ini adalah ikhtiar membaca hubungan antara latar belakang pendidikan, perjalanan usaha, modal sosial, dan kemungkinan pengabdian yang lebih luas bagi masyarakat Bulukumba.

Andi Sukriadi adalah Sarjana Kesehatan Masyarakat (S.KM). Ilmu ini mengajarkan bahwa kesehatan tidak semata-mata berkaitan dengan penyakit, melainkan juga dengan lingkungan, perilaku, akses pelayanan, kondisi sosial-ekonomi, dan kualitas hidup masyarakat.

Dalam perspektif kesehatan masyarakat, empati tidak cukup berhenti pada rasa iba. Ia perlu diterjemahkan menjadi pemahaman terhadap persoalan, tindakan pencegahan, dan upaya menghadirkan kesejahteraan. Kesetiakawanan pun tidak sekadar tentang membantu seorang kawan, tetapi juga tentang kesadaran bahwa kehidupan manusia saling terhubung.

Tentu, pendidikan tidak otomatis membentuk karakter seseorang. Namun, ilmu kesehatan masyarakat memberikan landasan untuk memahami pentingnya solidaritas dan tanggung jawab sosial. Jika Andi Sukriadi dikenal sebagai sosok yang memiliki empati dan setia kawan, nilai tersebut relevan dengan semangat ilmu yang pernah dipelajarinya: menjadikan manusia dan kesejahteraannya sebagai pusat perhatian.

Di sisi lain, kiprahnya sebagai pengusaha dan Founder Mallomo Dalle, perusahaan yang bergerak di sektor otomotif dan Makan Bergizi, memperlihatkan dimensi lain yang patut dicermati. Dunia usaha mengajarkan pengelolaan sumber daya, pengambilan keputusan, pembangunan kepercayaan, serta kemampuan menjaga keberlanjutan sebuah ikhtiar.

Dalam teori modal sosial Robert D. Putnam, jaringan, kepercayaan, dan norma timbal balik merupakan sumber daya penting untuk membangun kerja sama. Sementara itu, pengalaman usaha dapat menjadi modal manusia yang bernilai ketika diterjemahkan menjadi kemampuan memecahkan persoalan dan menciptakan manfaat.

Namun, ukuran sesungguhnya bukanlah sekadar seberapa luas pergaulan atau sebesar apa usaha yang dimiliki. Ukurannya adalah sejauh mana jaringan menghasilkan kolaborasi, usaha membuka kesempatan, dan pengalaman melahirkan manfaat nyata.

Dari sinilah potensi Andi Sukriadi layak dibicarakan lebih jauh. Bukan karena gelar atau status pengusahanya semata, melainkan karena pertemuan antara pengetahuan, pengalaman, dan modal sosial dapat menjadi bekal untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar.

Sebab, kepemimpinan tidak selalu dimulai dari jabatan. Terkadang, ia bermula dari kepercayaan yang tumbuh di tengah masyarakat.

Jangan Menunggu Ditawarkan: Ketika Bulukumba Memanggil

Dalam kehidupan daerah, kita sering terlalu sibuk menunggu seseorang menawarkan diri sebelum berani membicarakan potensinya. Padahal, masyarakat juga mempunyai hak untuk mengenali, menilai, dan mengusulkan figur yang dianggap memiliki kapasitas bagi masa depan daerahnya.

Andi Sukriadi dapat menjadi bagian dari percakapan itu. Bukan berarti ia harus menerima setiap harapan, apalagi bahwa kelayakannya tidak perlu diuji. Justru sebaliknya, pembicaraan mengenai dirinya harus dibawa ke ruang yang lebih substansial: apa gagasannya untuk Bulukumba, bagaimana ia membaca persoalan daerah, dan sejauh mana pengalaman usaha serta jaringan sosialnya dapat berkontribusi bagi kepentingan masyarakat.

Inilah pentingnya penominasian publik. Ia bukan pemaksaan kehendak, melainkan undangan untuk mempertimbangkan sebuah tanggung jawab. Masyarakat menyampaikan harapan; figur yang diharapkan diberi ruang untuk menjawabnya melalui gagasan, integritas, dan kesediaan.

Karena itu, jangan menunggu figur seperti Andi Sukriadi datang menawarkan dirinya. Bisa jadi, ia sedang menekuni dunia usaha, mengembangkan perusahaannya, dan menjalankan tanggung jawab sosial tanpa pernah merencanakan perjalanan menuju panggung publik. Namun, kebutuhan masyarakat terkadang menghadirkan pertanyaan yang lebih besar daripada rencana pribadi seseorang.

Pak, saya memahami bahwa agenda seperti ini mungkin bukan pilihan dalam perjalanan karier bisnis dan sosial Anda. Ada usaha yang harus dikembangkan, tanggung jawab yang harus dijaga, dan jalan hidup yang telah Anda rancang sendiri.

Tetapi, jangan lupa, zaman punya kehendaknya sendiri.

Ada masa ketika seseorang bebas menentukan ke mana ia hendak melangkah. Namun, ada pula masa ketika masyarakat datang membawa harapan, meminta pertimbangan, dan mengajukan tanggung jawab yang tidak pernah masuk dalam rencana sebelumnya.

Pada saat itu, pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah Anda pernah bercita-cita berada di sana, melainkan apakah Anda bersedia mendengarkan kehendak bersama dan mempertimbangkan apa yang dapat Anda persembahkan.

Tentu, kehendak masyarakat tidak menghapus kebebasan pribadi. Tidak seorang pun wajib menerima jabatan hanya karena diminta. Namun, ketika harapan itu lahir dari kebutuhan bersama, ia patut didengar dengan sungguh-sungguh, bukan ditolak sebelum dipahami.

Di sinilah masyarakat Bulukumba juga harus berbenah. Jangan hanya pandai memuji figur, tetapi gagal menguji kapasitasnya. Jangan hanya berani menyebut nama, tetapi tidak mampu merumuskan agenda. Mendaulat seseorang bukan sekadar mendorongnya ke panggung, melainkan membangun ruang dialog, menguji rekam jejak, dan mempertemukan potensi dengan kebutuhan nyata daerah.

Pada akhirnya, jika masyarakat Bulukumba sendiri tidak mampu mengenali, membicarakan, dan mendaulat potensi putra-putra terbaiknya, kepada siapa lagi kita berharap agenda besar daerah ini akan dipercayakan?

Jangan sampai kita terlalu sibuk menunggu seseorang mengumumkan ambisinya, sementara kita sendiri tidak pernah berani menyampaikan harapan. Jangan sampai potensi yang tumbuh di kampung sendiri justru lebih dahulu dikenali dan dihargai oleh orang lain.

Kepada Andi Sukriadi, pesan saya sederhana: Anda tidak harus mengejar panggung agar hidup Anda berarti. Tetapi, apabila suatu hari masyarakat Bulukumba memanggil, jangan abaikan panggilan itu hanya karena ia tidak pernah menjadi bagian dari rencana Anda.

Sebab, kebesaran seseorang bukan hanya diukur dari seberapa jauh ia melangkah untuk dirinya sendiri, melainkan juga dari kesediaannya mempertimbangkan langkah yang bermanfaat bagi orang banyak.

Dan ketika kehendak zaman bertemu dengan harapan masyarakat, barangkali saat itulah seseorang perlu melihat kembali perjalanan hidupnya, bukan untuk meninggalkan apa yang telah dibangunnya, tetapi untuk mempertimbangkan apakah semua yang telah ia bangun dapat memberi arti yang lebih luas bagi Bulukumba.

Advertisement