
Penulis: Herry Tjahjono (HT)
LEGIONNEWS.COM – OPINI, Tak ada yang steril dari kepentingan politik dalam kehidupan dunia politik. Tapi tetap ada satu atau dua orang, tak banyak, bahkan langkaโorang atau tokoh yang memiliki “kebesaran jiwa politik” (๐ฑ๐ฐ๐ญ๐ช๐ต๐ช๐ค๐ข๐ญ ๐ฎ๐ข๐จ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ช๐ฎ๐ช๐ต๐บ).
Sebuah kebesaran jiwa dalam politik, terutama terkait dengan kemampuan untuk tidak dikuasai dendam, kepicikan, atau keinginan membalas kepada rival. Konsep ๐ฎ๐ข๐จ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ช๐ฎ๐ช๐ต๐บ telah lama dikaitkan dengan kepemimpinan politik atau ๐ด๐ต๐ข๐ต๐ฆ๐ด๐ฎ๐ข๐ฏ๐ด๐ฉ๐ช๐ฑ. Salah satu yang langka itu adalah Jokowi.
Kebesaran jiwa politiknya terlihat semasa dia masih jadi presiden dengan mengangkat Prabowo (musuh bebuyutan dalam kontestasi pilpres) sebagai Menhan. Pun Jokowi menganugerahi Prabowo kenaikan pangkat secara istimewa menjadi Jenderal TNI Kehormatan (bintang empat) pada 28 Februari 2024. Momen ini bahkan diakui Prabowo waktu itu “telah memulihkan martabatnya sebagai prajurit”
Hal yang relatif sama dia lakukan kepada AHY, yang waktu itu tak jelas karir politiknya (kecuali sebagai Ketum Demokrat). AHY berasal dari keluarga/partai yang berada di luar pemerintahan Jokowi, tapi diangkatnya sebagai Menteri ATR/BPN pada 2024.
Dan kalau kini setelah Jokowi pensiun lalu misalnya kebesaran jiwa politik itu dibalas dengan “kepicikan jiwa politik” dari siapa pun yang pernah merasakan kebaikannya itu toh tak akan mengubah kebesaran jiwa itu sendiri.
Semua serangan habis-habisan kepada Jokowi dan kini Gibran, lalu tak satu pun “pembelaaan” dari partai, atau siapa pun yang pernah merasakan kebaikan politik Jokowi adalah bentuk kepicikan jiwa politik. Dalam bahasa awam keseharian: air susu (politik) dibalas dengan air tuba (politik).
Apakah Jokowi meradang lalu membalas dengan membabi-buta? Tidak. Dan itulah makna dari kebesaran jiwa politik. Dan dinamika politik seperti itu ternyata ditangkap juga oleh masyarakat kebanyakan, pun akar rumput.
Itu sebabnya merekalah yang membalas “air susu politik” Jokowi dengan air susu pula, yaitu “air susu hati”. Setiap hari, ratusan, ribuan dan sampai kini entah sudah berapa banyak rakyat atau warga membawa air susu hatinya untuk Jokowi. Tanpa dikomando.
Kalau pun kelak Jokowi tak ada yang memberi air susu politik, dia tinggal mengarahkan telunjuknya: maka sulit dihitung banyaknya rakyat yang akan membawa air susu hatinya menuju arah yang ditunjuk Jokowi.
Dinamika ini membawa pesan: mereka, para lawan politik itu sesungguhnya (sangat) ketakutan dengan lautan “air susu hati” yang sulit dibendung, dan itu sebabnya mereka harus sesegera mungkin menghancurkannya (Jokowi mau pun Gibran) dengan berbagai cara. Sebab jika tidak, mereka yang kelak akan tenggelam. Mod*r! (kata politikus senior dan ahli strategi ulung Yusuf Wanandi: ๐ญ๐ฐ๐ฆ ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐ฐ๐ฌ๐ฐ๐ธ๐ช ๐ญ๐ข๐ธ๐ข๐ฏ, ๐ฎ๐ฐ๐ฅ*๐ณ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช ๐ญ๐ฐ๐ฆ).
By: HT
Catatan Redaksi: Tulisan ini dilansir dari akun Facebook Herry Tjahjono (HT). Rabu (23/9/2026)ย
























