
LEGIONNEWS.COM – MAKASSAR, Estafet kepemimpinan Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Kota Makassar beralih. Ridwan resmi dilantik sebagai Ketua PC PMII Kota Makassar masa khidmat 2026–2027, menggantikan Hariandi yang menyelesaikan masa kepemimpinannya pada periode sebelumnya.
Pelantikan berlangsung di Aula Syekh Yusuf BBPVP Kota Makassar, 25 Oktober 2026. Syahrul Bahri, Ketua Bidang Keamanan dan Wilayah Perbatasan Pengurus Besar PMII (PB PMII), melantik kepengurusan tersebut. Ia didampingi Awal Madani, Ketua Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan PB PMII sekaligus demisioner Ketua Cabang PMII Kota Makassar.
Prosesi pelantikan ditandai dengan pembacaan serta penyerahan Surat Keputusan PB PMII. Dokumen itu menjadi dasar legitimasi struktural bagi kepengurusan PC PMII Kota Makassar periode 2026–2027.
Pergantian Hariandi kepada Ridwan tidak sekadar rotasi kepemimpinan organisasi. Di tengah perubahan sosial-politik yang semakin kompleks, regenerasi di tubuh organisasi mahasiswa selalu membawa pertanyaan yang lebih besar: ke mana arah gerakan akan dibawa dan seberapa jauh organisasi mampu mengubah kritik menjadi kerja politik-intelektual.
Syahrul Bahri, dalam sambutan pelantikan, menekankan bahwa jabatan dalam PMII bukan sekadar posisi struktural.
“Kepemimpinan di PMII bukan sekadar persoalan siapa yang menjadi ketua, tetapi tentang bagaimana mandat organisasi diterjemahkan menjadi kerja kaderisasi, kerja intelektual, dan pengabdian kepada masyarakat. Karena itu, kepengurusan yang baru harus mampu menjaga marwah organisasi sekaligus membaca perubahan zaman.”
Menurut Syahrul, legitimasi struktural melalui SK PB PMII harus diikuti dengan tanggung jawab menjalankan mandat organisasi. Pelantikan, dengan demikian, bukan garis akhir dari proses politik organisasi, melainkan awal dari pembuktian kepemimpinan.
Ridwan memperoleh mandat kepemimpinan tersebut setelah ditetapkan sebagai formatur terpilih dalam Konferensi Cabang XXXIV PMII Kota Makassar yang dilaksanakan (di Aula LPTQ, Jln Talasalapang). Ia kini menghadapi tugas untuk menerjemahkan hasil konferensi ke dalam agenda organisasi selama satu periode ke depan.
Dalam sambutannya, Ridwan menyatakan bahwa kepengurusan baru harus menjadikan PMII sebagai ruang kaderisasi sekaligus produksi gagasan yang mampu menjawab persoalan masyarakat.
“PMII Kota Makassar tidak boleh berhenti pada rutinitas organisasi. Kita harus membangun tradisi intelektual, memperkuat kaderisasi, dan memastikan setiap gerakan memiliki basis pengetahuan. Kritik harus memiliki argumentasi, dan gerakan harus memiliki arah perubahan.”
Ridwan juga menegaskan pentingnya menjaga kesinambungan organisasi tanpa terjebak pada romantisme kepemimpinan sebelumnya. Menurut dia, setiap periode memiliki tantangan yang berbeda dan membutuhkan keberanian untuk melakukan evaluasi.
“Kami tidak datang untuk menghapus apa yang telah dikerjakan kepengurusan sebelumnya. Setiap periode adalah bagian dari sejarah PMII. Tugas kami adalah mengambil pelajaran, melakukan evaluasi, kemudian membawa organisasi menjawab tantangan yang ada di depan.”
Bukan Sekadar Pergantian Ketua
Pergantian Hariandi kepada Ridwan merupakan konsekuensi dari mekanisme regenerasi organisasi. Hariandi telah menyelesaikan masa khidmatnya, sementara Ridwan memperoleh mandat untuk memimpin periode berikutnya.
Dalam organisasi kader, pergantian ketua tidak semestinya dipahami sebagai pemutusan sejarah. Ia merupakan kesinambungan yang selalu membuka ruang evaluasi. Pengalaman kepengurusan lama menjadi pengetahuan bagi kepengurusan baru, sedangkan kepengurusan baru membawa tuntutan untuk membangun agenda yang lebih relevan.
Kehadiran Awal Madani dalam pelantikan memiliki makna tersendiri. Sebagai demisioner Ketua Cabang PMII Kota Makassar yang kini berada di jajaran PB PMII, ia menjadi bagian dari kesinambungan perjalanan kaderisasi dari tingkat cabang menuju struktur nasional.
Di sisi lain, posisi Awal Madani sebagai Ketua Bidang LHK PB PMII juga memperlihatkan bahwa kaderisasi cabang tidak berhenti pada pergantian kepemimpinan lokal. Kader yang pernah memimpin cabang dapat mengambil peran lebih luas dalam agenda organisasi di tingkat nasional.
Menguji Kembali Fungsi Organisasi Mahasiswa
Kepengurusan Ridwan akan bekerja dalam situasi ketika organisasi mahasiswa menghadapi tantangan klasik sekaligus baru: bagaimana mempertahankan daya kritis ketika ruang politik semakin kompleks dan bagaimana memastikan gerakan mahasiswa tidak terjebak menjadi sekadar pengelola kegiatan.
PMII Kota Makassar memiliki modal sosial berupa jaringan kader dan tradisi gerakan. Namun modal tersebut membutuhkan konsolidasi gagasan. Pendidikan kader, diskusi publik, riset kebijakan, advokasi masyarakat dan penguatan basis intelektual menjadi penting jika organisasi ingin mempertahankan relevansinya.
Paradigma Kritis Transformatif PMII menempatkan realitas sosial bukan sekadar objek untuk dikomentari. Realitas harus dibaca secara kritis, dipahami struktur yang membentuknya, kemudian diintervensi melalui kerja perubahan.
Karena itu, tantangan Ridwan bukan sekadar memastikan roda organisasi berjalan. Ia harus menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: apakah PMII Kota Makassar mampu menjadi kekuatan intelektual yang memproduksi gagasan, sekaligus kekuatan sosial yang hadir ketika masyarakat berhadapan dengan persoalan konkret?
Jawaban atas pertanyaan itu tidak akan ditemukan dalam seremoni pelantikan.
Ia akan terlihat dari kerja satu tahun ke depan—dari kaderisasi yang dibangun, pengetahuan yang diproduksi, kritik yang disampaikan, kebijakan yang dikawal, dan keberpihakan yang diwujudkan.
Hariandi telah menutup satu periode. Ridwan membuka periode berikutnya. Di antara keduanya terdapat kesinambungan sejarah sekaligus tuntutan perubahan.
Pelantikan telah selesai. Ujian kepemimpinan justru baru dimulai. (*)
























