Ketika Prabowo Memeluk Duri

0
FOTO: Ilustrasi Rocky Gerung
FOTO: Ilustrasi Rocky Gerung

Creative Writer: Rendi Anto Kantu, Filosof Politik & Penikmat Dialektika Kekuasaan

LEGIONNEWS.COM – OPINI, Negara yang besar tidak dibangun oleh paduan suara yang kompak, melainkan oleh orkestra yang berani menyimpan nada sumbangnya.

Hari ini, Presiden Prabowo Subianto membuktikan satu tesis politik klasik yang sudah lama kita lupakan: bahwa kekuasaan yang dewasa bukanlah kekuasaan yang alergi terhadap kritik, melainkan kekuasaan yang memberinya kursi.

Advertisement

Pelantikan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) periode 2024-2029 bukan sekadar seremoni pengisian jabatan. Di dalamnya ada Sinta Nuriyah Wahid yang merepresentasikan keadaban, ada Quraish Shihab yang merepresentasikan kedalaman tafsir, ada Hatta Rajasa, Agum Gumelar, Chairul Tanjung. Tapi kehadiran satu nama, Rocky Gerung, mengubah seluruh makna dewan itu.

1. Secara Filosofis: Ini adalah Aufhebung ala Hegel.
Dalam dialektika Hegel, Aufhebung berarti melampaui kontradiksi dengan cara merangkulnya, bukan memusnahkannya. Selama ini Rocky adalah antitesa dari kekuasaan. Ia berdiri di luar, melempar batu logika ke kaca istana. Prabowo, sebagai tesis, tidak memilih memecahkan batu itu. Ia memilih memungutnya dan meletakkannya di atas meja pertimbangan.

2. Secara Politik Akademik: Ini adalah Demokrasi Deliberatif.

Habermas mengajarkan legitimasi kekuasaan lahir dari kualitas deliberasi. Wantimpres sudah menjadi miniatur Indonesia. Tapi tanpa Rocky Gerung, miniatur itu terlalu harmonis. Prabowo tidak butuh 26 orang yang mengangguk. Ia butuh satu orang yang berani menggeleng saat 25 lainnya mengangguk.

3. Secara Puitis: Sang Penjaga Kewarasan.

Rocky Gerung di Wantimpres adalah metafora: duri yang sengaja dipelihara di taman kekuasaan agar sang tukang kebun tidak tertidur karena harum bunga yang memabukkan.

Catatan untuk Akal Sehat

Dan pada akhirnya, mari kita tutup dengan dialektika dari sang filsuf itu sendiri. Inilah kutipan-kutipan yang menjadi alasan mengapa kehadirannya di Istana begitu penting:

“Tugas seorang intelektual itu memang harus skeptis, harus memarahi kekuasaan, harus mengkritik kekuasaan. Itu tugas original, itu otentiknya para intelektual.”

“Fungsi kampus tempat mengolah alur berpikir mengedarkan akal sehat.”

“Kebebasan itu melampaui netralitas.”

“Saya tidak punya hasrat pada kekuasaan, saya ingin agar supaya negeri ini dihidupkan dengan akal pikiran.”

Jika negeri ini ingin maju, ia tidak butuh lebih banyak penjilat yang memuji. Ia butuh lebih banyak pengganggu yang berpikir. Masuknya Rocky ke Istana bukan tanda ia telah dijinakkan, melainkan tanda bahwa Istana akhirnya siap untuk tidak nyaman demi kewarasannya.

Karena kekuasaan tanpa kritik adalah kebodohan yang diorganisir, dan kritik tanpa keberanian hanyalah basa-basi.

Advertisement