LEGIONNEWS.COM|MOJOKERTO, – Di tanah yang menyimpan jejak kejayaan masa silam, Kabupaten Mojokerto sekarang menorehkan lembaran baru yang memadukan semangat pembangunan masa kini dengan penghormatan terhadap warisan budaya leluhur. Pemerintah Kabupaten Mojokerto, melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, resmi melaksanakan langkah nyata yang tidak hanya memperindah wajah kawasan pemerintahan, tetapi juga mengangkat kembali kemegahan arsitektur yang pernah menjadi kebanggaan Nusantara. Di tengah deretan program pembangunan yang berorientasi pada kemanfaatan umum, satu kegiatan berdiri istimewa, yakni pembangunan pagar dan gapura bergaya ikonik Majapahit di lingkungan Polsek Gedeg, sebuah karya yang menjembatani keagungan masa lalu dengan kesejahteraan masa kini.
Tahun anggaran 2026 menjadi saksi atas lahirnya gagasan yang menyelaraskan fungsi bangunan negara dengan kekayaan budaya bangsa. Kegiatan yang masuk dalam lingkup penyelenggaraan bangunan gedung di wilayah daerah ini dirancang bukan sekedar untuk memenuhi syarat administratif atau kelengkapan fisik semata, melainkan sebagai wujud nyata dari kehendak kuat untuk menanamkan identitas kedaerahan di setiap sudut ruang pelayanan publik. Pemberian izin mendirikan bangunan serta penerbitan sertifikat laik fungsi menjadi landasan hukum dan teknis yang menjamin pembangunan itu berjalan tertib, aman, serta memenuhi standar tata kelola pemerintahan yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Secara khusus, pekerjaan pembangunan pagar yang mengelilingi kompleks Polsek Gedeg tersebut menjadi fokus utama yang mengundang kekaguman sekaligus harapan. Dengan panjang mencapai 230 meter, struktur pagar ini tidak hanya berfungsi sebagai batas fisik yang menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan instansi, melainkan menjadi kanvas luas yang menampilkan keindahan estetika arsitektur Majapahit, gaya yang dikenal dengan kesederhanaan yang anggun, keseimbangan yang harmonis, serta ketegasan bentuk yang memancarkan kekuatan sekaligus ketenangan jiwa. Setiap bagiannya disusun dengan ketelitian tinggi, seolah mengulang ketekunan para pengrajin zaman dahulu yang membangun istana dan candi dengan penuh pengabdian.
Lebih dari sekedar pagar, pembangunan itu menampilkan bentuk gapura yang menjadi puncak keindahan sekaligus lambang keagungan masa kejayaan kerajaan terbesar di Nusantara. Gapura rancangan tersebut mengadopsi bentuk khas yang melekat pada ingatan kolektif masyarakat yang terbagi tegak, kokoh, dan terbuka, menyimbolkan keterbukaan hati sekaligus keteguhan prinsip. Tingginya gapura yang menjulang, tidak untuk personal, melainkan untuk menyambut siapa pun yang datang, warga yang mencari pelayanan, aparat yang menjalankan tugas, maupun tamu yang membawa harapan. Di sinilah letak keindahannya, ia menegaskan batas tanpa menutup akses, ia menjaga kehormatan tanpa menolak silaturahmi.

Nilai investasi yang disiapkan untuk mewujudkan karya ini sebesar Rp497.408.650 bukanlah sekadar angka di atas kertas, melainkan bukti keseriusan daerah dalam mengelola sumber daya demi kemaslahatan bersama. Setiap rupiah yang dialokasikan diperuntukkan secara cermat demi menghasilkan bangunan yang kuat, indah, tahan lama, sekaligus bermakna mendalam. Angka itu mencerminkan keseimbangan antara kebutuhan anggaran dan kualitas hasil yang diharapkan, tidak boros, namun tidak mengorbankan mutu, tidak berlebihan, namun mampu menghadirkan karya yang layak dibanggakan. Pengelolaan dana yang transparan dan akuntabel menjadi jaminan bahwa setiap nilai yang diamanatkan masyarakat akan dikembalikan dalam bentuk fasilitas yang berfungsi sepenuhnya.
Manfaat yang dihasilkan dari pembangunan tersebut jauh melampaui keindahan fisik yang tampak mata. Tujuan utamanya adalah mewujudkan kantor sebagai bagian dari bangunan gedung negara yang menunjang kegiatan instansi, sarana pelayanan publik, serta pelaksanaan tugas aparatur negara. Artinya, keindahan arsitektur yang ditampilkan bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk meningkatkan kinerja, membangkitkan semangat pengabdian, dan menumbuhkan rasa hormat warga terhadap lembaga pelindung mereka. Ketika lingkungan kerja tertata indah dan bermartabat, maka pelayanan yang diberikan pun diharapkan lahir dari hati yang tenang, bangga, dan penuh tanggung jawab.
Pembangunan ini juga menjadi bukti bahwa warisan budaya tidak hanya layak disimpan dalam lembar buku sejarah atau diucapkan dalam pidato kenegaraan, melainkan dihidupkan kembali dalam keseharian masyarakat. Dengan mengangkat gaya Majapahit, Pemerintah Kabupaten Mojokerto secara tegas mengingatkan, di sinilah pusat peradaban besar pernah berdiri, dan semangat keadilan, persatuan, serta kemakmuran yang dijunjung saat itu masih relevan untuk dijalankan hari ini. Gapura dan pagar tersebut menjadi jembatan fisik sekaligus rohani yang mengaitkan nilai-nilai luhur masa lampau dengan tata kelola pemerintahan yang bersih, adil, dan melayani di masa kini.
Waktu pelaksanaan yang ditetapkan selama 120 hari kalender, terhitung mulai tanggal 24 Juni hingga penyelesaian pada 21 Oktober 2026, menunjukkan perencanaan yang matang dan pengaturan waktu yang ketat namun realistis. Rentang waktu ini memungkinkan pelaksanaan pekerjaan secara bertahap, teliti, dan tidak terburu-buru, sehingga setiap detail ornamen, susunan batu, hingga bentuk gapura dapat dibentuk sesuai rencana estetika yang telah disusun. Ketepatan jadwal itu sekaligus menjadi cerminan kedisiplinan yang dipegang oleh seluruh pihak yang terlibat, sebuah nilai yang sejajar dengan ketertiban yang dijunjung oleh institusi kepolisian yang menempati bangunan tersebut.
Kepercayaan untuk melaksanakan pekerjaan ini diberikan kepada CV. Raya Somo, sebuah pelaksana yang membawa harapan agar karya yang dihasilkan tidak hanya kokoh secara fisik, tetapi juga menyiratkan semangat persaudaraan dan kebersamaan yang terkandung dalam namanya. Di tangan tenaga-tenaga terampil di bawah naungan badan usaha itu, rencana yang semula berupa gambar di atas kertas kini mulai menjelma menjadi kenyataan yang dapat disentuh dan dirasakan. Setiap proses pemasangan, penyusunan, hingga penyelesaian dilakukan dengan dedikasi tinggi, seolah mereka turut menyadari bahwa yang dibangun bukan sekedar tembok, melainkan citra daerah dan kebanggaan masyarakatnya sendiri.
Agar kualitas dan ketepatan pelaksanaan tetap terjaga sesuai rencana, pengawasan diserahkan kepada CV. Global Inovasi Engineering, pihak yang menjamin bahwa standar teknis, keamanan, maupun keindahan yang direncanakan tercapai sepenuhnya. Kehadiran pengawas yang profesional memastikan tidak ada satu pun bagian yang dikerjakan secara sembarangan; setiap ukuran, kekuatan struktur, hingga kesesuaian bentuk dengan gaya arsitektur yang diinginkan diperiksa dengan ketelitian. Inovasi yang menjadi bagian dari nama lembaga tersebut, tercermin dalam upaya memadukan teknologi bangunan masa kini dengan keindahan desain masa lalu, sebuah perpaduan yang memperkokoh sekaligus memperindah tanpa kehilangan jiwanya.
Bagi warga Gedeg dan masyarakat Mojokerto secara umum, hadirnya pagar dan gapura baru ini menjadi tanda perhatian nyata pemerintah terhadap lingkungan tempat mereka tinggal dan berinteraksi. Saat melintas di depan Polsek Gedeg, mereka tidak lagi hanya melihat gedung kantor biasa, melainkan wajah daerah yang mengenang kejayaannya sambil melangkah ke masa depan. Keindahan bentuk yang ditampilkan mampu menumbuhkan rasa bangga dan rasa memiliki, setiap warga akan merasa bahwa pembangunan itu adalah miliknya, bagian dari identitas yang melekat pada diri dan tanah kelahirannya sendiri.
Dari sudut pandang tata ruang, pembangunan tersebut turut menyempurnakan wajah kawasan dengan penampilan yang serasi, teratur, dan menyegarkan pandangan. Pagar sepanjang 230 meter yang dirancang dengan irama bentuk yang berskat ulang dan seimbang menciptakan kesan tertib dan megah, sementara gapura menjadi titik fokus yang mengundang kekaguman sekaligus memberikan arah. Keselarasan antara fungsi pelindung dan keindahan hiasan menjadikan bangunan ini bukan sekedar benda mati, melainkan bagian dari lanskap yang menenangkan jiwa dan mengangkat martabat lingkungan sekitarnya, sesuatu yang sangat dibutuhkan di tengah hiruk-pikuk pembangunan yang kadang lupa pada keindahan.
Lebih dalam lagi, pembangunan itu mengandung makna bahwa pelayanan publik tidak harus kaku atau hanya mementingkan kegunaan praktis semata, melainkan juga mampu memberikan keindahan yang menyejukkan hati siapa pun yang datang. Ketika warga memasuki lingkungan yang indah dan tertata, sikap hormat dan kesadaran tertib tumbuh secara alami. Sebaliknya, lingkungan yang terawat dan bermartabat mendorong aparatur yang bertugas untuk menjaga sikap dan kinerja yang serupa. Dengan demikian, keindahan arsitektur di sini bekerja ganda: memperindah pemandangan sekaligus membentuk budaya yang lebih baik, tertib, dan saling menghormati.
Melalui langkah ini, Pemerintah Kabupaten Mojokerto turut menetapkan teladan bagi daerah-daerah lain, bahwa pembangunan fisik dan pelestarian budaya dapat berjalan beriringan, saling menguatkan, bukan saling mengorbankan. Tidak perlu memilih antara maju atau melestarikan warisan, karena keduanya dapat dijalankan bersamaan dalam satu karya yang utuh. Pembangunan pagar dan gapura di Polsek Gedeg itu menjadi bukti nyata bahwa kemajuan sejati adalah yang tidak melupakan akarnya, dan keagungan sejati lahir ketika kita mampu menghormati masa lalu sambil membangun masa depan yang lebih cerah.
Sekarang, seiring berjalannya waktu menuju tanggal penyelesaian di penghujung Oktober 2026, seluruh mata masyarakat tertuju pada proses yang berlangsung dengan penuh harapan. Sebuah karya yang lahir dari perencanaan matang, pengelolaan anggaran jujur, pelaksanaan teliti, serta pengawasan ketat perlahan berdiri tegak, memadukan keindahan gaya Majapahit dengan fungsi bangunan negara masa kini. Ia akan menjadi saksi bisu, di tanah yang pernah melahirkan kerajaan agung, semangat membangun dengan martabat, keindahan, dan pengabdian kepada rakyat tetap menyala, menjaga warisan sekaligus menyambut masa depan yang penuh kemuliaan.
Pewarta : Agung Ch




























