Oleh: Baharuddin Hafid, Akademisi Universitas Megarezky Makassar.
LEGIONNEWS.COM – OPINI, Ada perbedaan antara partai yang sedang bergerak dan partai yang sedang menemukan arah.
Partai yang sekadar bergerak bisa ramai dengan agenda, rapat, kunjungan, dan seremoni. Tetapi partai yang menemukan arah mulai mampu menjawab pertanyaan paling penting dalam politik: hendak dibawa ke mana organisasi ini dan untuk apa seluruh energi politik dikerahkan?
Partai Golkar Sulawesi Selatan tampaknya mulai memasuki fase kedua itu.
Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan terpilih, Ilham Arief Sirajuddin (IAS), telah menuntaskan agenda konsolidasi dan silaturahmi dengan pengurus serta kader DPD II di hampir seluruh kabupaten/kota. Dari 24 DPD II, tinggal Kabupaten Kepulauan Selayar yang menjadi titik terakhir untuk menuntaskan rangkaian konsolidasi tersebut.
Angka 23 daerah bukan sekadar angka administratif.
Di balik perjalanan itu ada pesan politik yang jauh lebih penting: kepemimpinan baru Golkar Sulsel sedang turun menyentuh struktur, mendengar kader, dan memastikan bahwa perubahan kepemimpinan di tingkat provinsi tidak berhenti di ruang Musda.
IAS tampaknya memahami bahwa memenangkan partai tidak mungkin dilakukan dari balik meja kantor DPD I.
“Partai harus hadir di daerah.”
“Partai harus mendengar kader.”
“Partai harus mengetahui problem setiap DPD II.”
Dan yang paling penting, partai harus membangun kembali keyakinan bahwa Golkar memiliki masa depan elektoral.
Selayar dan Sebuah Konsolidasi yang Belum Benar-Benar Selesai
Masih tersisanya Selayar bukanlah persoalan besar.
Justru secara politik, satu daerah terakhir itu dapat menjadi penutup dari fase awal konsolidasi IAS.
Sebab konsolidasi bukan perlombaan siapa paling cepat mengunjungi daerah, melainkan proses membangun hubungan politik yang berkelanjutan.
Setelah Selayar dituntaskan, IAS memiliki modal penting: hampir seluruh struktur Golkar Sulsel telah disentuh secara langsung oleh kepemimpinan baru.
Namun pekerjaan berikutnya justru lebih berat.
Menyatukan struktur yang telah dikonsolidasikan menjadi mesin politik yang efektif.
Sebab silaturahmi menghasilkan kedekatan, tetapi konsolidasi menghasilkan organisasi. Dan organisasi yang kuat harus berujung pada kerja elektoral.
Di sinilah fase berikutnya akan diuji.
Setelah Pelantikan, Tidak Ada Lagi Waktu untuk Berbulan Madu
Pelantikan DPD I Golkar Sulsel nantinya akan menjadi titik transisi.
Jika Musda adalah momentum menentukan kepemimpinan, dan konsolidasi adalah momentum membangun kembali komunikasi organisasi, maka pelantikan harus menjadi gong dimulainya kerja politik yang sesungguhnya.
Tidak ada lagi ruang untuk terlalu lama menikmati kemenangan internal.
Tidak ada waktu untuk terjebak dalam euforia.
Sebab setelah pelantikan, pertanyaan yang akan muncul dari kader bukan lagi:
“Siapa ketua Golkar Sulsel?”
Pertanyaannya berubah menjadi:
“Apa yang akan dilakukan Golkar Sulsel untuk memenangkan Pemilu 2029?”
Di situlah kepemimpinan IAS akan memasuki fase yang jauh lebih menentukan.
Musda DPD II: Menyelesaikan Rumah Sebelum Membesarkan Rumah
Agenda berikutnya adalah menuntaskan Musda DPD II.
Target maksimal Desember 2026 harus dibaca bukan semata sebagai target administratif, melainkan sebagai deadline konsolidasi organisasi.
Logikanya sederhana.
Bagaimana mungkin Golkar menyiapkan pertarungan elektoral 2029 jika struktur internal di tingkat kabupaten/kota belum sepenuhnya selesai?
Bagaimana mungkin menyusun strategi pemenangan jika kepemimpinan DPD II masih menyisakan persoalan?
Bagaimana mungkin menggerakkan kader sampai tingkat akar rumput jika konsolidasi internal belum tuntas?
Karena itu, Musda DPD II harus menjadi instrumen untuk menghasilkan kepemimpinan yang legitimate, solid, dan mampu bekerja.
Musda jangan berubah menjadi sekadar perebutan kursi ketua.
Ia harus menjadi forum untuk menentukan siapa yang paling mampu membawa Golkar memenangkan daerahnya.
Ukuran keberhasilan ketua DPD II ke depan bukan seberapa kuat ia dalam memenangkan Musda, tetapi seberapa kuat ia memenangkan kursi DPRD.
Paradigma ini harus berubah.
Musda adalah awal dari pertandingan, bukan akhir dari pertandingan.
Dari Politik Internal Menuju Politik Elektoral
Di sinilah IAS harus mulai mengubah orientasi Golkar Sulsel.
Setelah seluruh Musda DPD II selesai, organisasi harus segera memasuki fase konsolidasi massif menuju Pemilu 2029.
Artinya, tidak boleh ada lagi energi terbesar partai yang habis untuk konflik internal.
Tidak boleh pula setiap momentum organisasi kembali diputar dalam kompetisi elite yang tidak produktif.
Energi Golkar harus dipindahkan:
dari konflik menuju kompetisi,
dari perebutan posisi menuju perebutan suara,
dari politik internal menuju politik elektoral.
Karena lawan Golkar sesungguhnya bukan lagi kader Golkar lainnya.
Lawan Golkar adalah partai-partai lain yang sedang bekerja diam-diam merebut pemilih.
Inilah yang sering dilupakan partai politik.
Ketika elite terlalu sibuk bertengkar di dalam rumah, tetangga justru sedang memperluas halaman.
Pemilu 2029 Tidak Bisa Disiapkan pada 2029
Kesalahan terbesar partai politik adalah memperlakukan tahun pemilu sebagai titik awal kerja politik.
Padahal 2029 harus dimulai sejak 2026.
Waktu tiga tahun lebih bukan waktu yang panjang jika dibandingkan dengan kompleksitas pertarungan elektoral.
Golkar Sulsel harus mulai membangun electoral mapping secara serius.
Setiap dapil harus memiliki peta.
Setiap kabupaten/kota harus memiliki target.
Setiap kursi harus memiliki kalkulasi.
Setiap calon harus memiliki basis.
Dan setiap basis harus memiliki data.
Tidak cukup mengatakan:
“Golkar harus menang.”
Pertanyaan berikutnya harus jauh lebih teknokratis:
Menang berapa kursi? Di dapil mana? Dengan target suara berapa? Siapa calon potensialnya? Berapa suara yang harus diamankan? Segmen pemilih mana yang harus digarap?
Politik modern tidak lagi cukup mengandalkan intuisi elite.
Politik membutuhkan data.
Mengembalikan Golkar sebagai Mesin Politik
Golkar memiliki satu keunggulan historis yang tidak dimiliki semua partai: jaringan organisasi dan pengalaman politik yang panjang.
Tetapi sejarah hanya menjadi keunggulan apabila mampu diterjemahkan ke dalam strategi masa depan.
Karena itu, konsolidasi IAS harus bergerak dari sekadar konsolidasi elite menjadi konsolidasi sampai akar rumput.
Desa dan kelurahan harus kembali menjadi titik perhatian.
Kader harus dihidupkan.
Organisasi sayap harus diperkuat.
Kelompok profesi harus diberdayakan.
Generasi muda harus diberi ruang.
Dan teknologi politik harus mulai menjadi bagian dari sistem kerja partai.
Golkar harus memahami bahwa pemilih 2029 bukan pemilih yang sama dengan 2019.
Generasi baru semakin dominan.
Cara mereka memperoleh informasi berubah.
Cara mereka menentukan pilihan berubah.
Bahkan cara mereka mempersepsikan partai politik juga berubah.
Maka Golkar harus berubah tanpa kehilangan identitasnya.
Modern dalam metode, matang dalam pengalaman, dan kuat dalam organisasi.
IAS dan Ujian Sesungguhnya
Pada titik inilah pernyataan bahwa IAS adalah “baju yang pas” bagi Golkar Sulsel menemukan maknanya.
Baju yang pas bukan hanya enak dipakai.
Ia harus mampu bergerak bersama pemakainya.
Demikian pula kepemimpinan.
IAS tidak cukup hanya menjadi figur yang mampu menyatukan elite Golkar.
Ia harus mampu menjadi dirigen yang membuat seluruh instrumen organisasi memainkan lagu yang sama.
DPD I harus satu irama dengan DPD II.
DPD II harus satu irama dengan kecamatan.
Kecamatan harus satu irama dengan desa dan kelurahan.
Dan seluruh struktur harus memiliki satu orientasi:
memenangkan Golkar.
Jika itu terjadi, maka kepemimpinan IAS tidak hanya akan dikenang sebagai hasil sebuah Musda.
Ia akan dikenang sebagai momentum ketika Golkar Sulsel kembali menemukan bentuk organisasinya.
2026 Menata Rumah, 2027–2028 Membesarkan Mesin
Jika seluruh agenda berjalan sesuai arah yang direncanakan, maka fase politik Golkar Sulsel dapat dibaca dalam tiga tahapan.
2026 adalah tahun konsolidasi.
Pelantikan DPD I, penuntasan Musda DPD II, penyelesaian struktur dan rekonsiliasi internal harus menjadi prioritas.
2027 adalah tahun penguatan mesin.
Struktur diperkuat sampai akar rumput, kaderisasi dijalankan, basis pemilih dipetakan, dan calon-calon potensial mulai dipersiapkan.
2028 adalah tahun akselerasi elektoral.
Target kursi, strategi dapil, komunikasi publik, penguatan saksi, kampanye digital, dan pengorganisasian pemilih harus mulai bekerja secara massif.
Lalu 2029 tinggal menjadi momentum untuk memanen apa yang telah ditanam selama tiga tahun.
Inilah politik yang rasional.
Bukan politik yang menunggu momentum, tetapi politik yang menciptakan momentum.
Dari 23 Daerah Menuju 24 Daerah, Dari 24 Daerah Menuju Satu Kekuatan
Selayar akan menjadi penutup rangkaian konsolidasi tahap awal.
Tetapi sebenarnya, Selayar bukanlah garis finish.
Ia justru garis start menuju pekerjaan yang jauh lebih besar.
Setelah 24 DPD II terkonsolidasi, pertanyaan Golkar Sulsel tidak lagi tentang siapa yang hadir dalam forum silaturahmi.
Pertanyaannya adalah:
Apakah seluruh energi itu bisa dikonversi menjadi suara?
Sebab politik pada akhirnya mengenal satu bahasa yang paling konkret:
suara menjadi kursi, dan kursi menjadi kekuatan politik.
Jika IAS mampu menjaga momentum, menuntaskan Musda DPD II maksimal Desember 2026, merawat rekonsiliasi antarkader, menghidupkan kembali para senior, membuka ruang bagi generasi baru, dan mengubah konsolidasi menjadi sistem kerja elektoral, maka Golkar Sulsel memiliki peluang besar untuk memasuki Pemilu 2029 dengan mesin yang jauh lebih siap.
Pada akhirnya, Golkar tidak membutuhkan sekadar pemimpin baru.
Golkar membutuhkan arah baru.
Dan arah itu mulai terlihat.
Dari satu kabupaten ke kabupaten lainnya.
Dari satu kader ke kader lainnya.
Dari senior yang kembali memberikan energi hingga generasi baru yang mulai menemukan ruang.
Golkar sedang pulang ke rumahnya.
Dan kali ini, rumah itu tidak sedang dipersiapkan untuk mengenang masa lalu.
Rumah itu sedang dibangun kembali untuk merebut masa depan.
Golkar Menemukan Jalannya.
Kini tugas IAS adalah memastikan jalan itu tidak berhenti sebagai wacana.
Jalan itu harus berujung pada kemenangan.
Allahu A’lam Bishshawab…
























