Walau Mengerucut 2 Nama, Pengamat: Bisa Saja Terjadi Perubahan, Muncul Kompromi Baru

0
FOTO: Ilham Arief Sirajuddin, Andi Ina Kartika Sari dan Munafri Arifiddin calon ketua Golkar Sulsel. (Dok Ideatimes) 
FOTO: Ilham Arief Sirajuddin, Andi Ina Kartika Sari dan Munafri Arifiddin calon ketua Golkar Sulsel. (Dok Ideatimes) 

LEGIONNEWS.COM – MAKASSAR, Pernyataan Pelaksana tugas (Plt) Wakil Sekretaris, DPD Golkar Sulsel, Arif Rosyid ke media mengerucutnya hanya dua nama calon ketua golkar Sulawesi Selatan (Sulsel) yang direstui DPP. Yakni Ilham Arief Sirajuddin dan Andi Ina Kartika Sari.

Pengamat politik dari Profetik Institute, Asratillah mengatakan mengerucutnya dua nama calon Ketua Golkar Sulsel bukan hanya sekadar hasil popularitas atau dukungan kader di bawah.

Tetapi kata Direktur Profetik Institute juga adanya faktor akses dan komunikasi politik dengan elite di tingkat pusat dalam hal ini Dewan Pengurus Pusat Partai Golkar.

Advertisement

Hal itu menunjukkan bahwa dinamika internal partai sudah memasuki tahap seleksi yang sangat elitis.

“Ini menandakan bahwa proses politik tidak lagi sepenuhnya berlangsung di tingkat daerah, tetapi telah ditarik ke level pusat,” ujar Direktur Profetik Institute itu. Jumat (1/5/2026).

“Dalam perspektif kelembagaan partai, hal ini mencerminkan kuatnya peran DPP dalam menentukan arah kepemimpinan di daerah,” tambah Asratillah.

Asratillah lalu menjelaskan, Dirinya melihat bahwa munculnya dua nama tersebut bukan sekadar hasil popularitas atau dukungan kader di bawah, tetapi juga karena faktor akses dan komunikasi politik dengan elite pusat.

“Dalam banyak kasus di partai besar, legitimasi formal melalui Musda seringkali berjalan beriringan dengan legitimasi informal berupa restu dari DPP. Ini yang membuat kontestasi terlihat lebih terkendali dibandingkan terbuka,” katanya.

Di sisi lain kata Asratillah, kondisi ini bisa dibaca sebagai upaya untuk menjaga stabilitas internal partai. Dengan membatasi kandidat pada figur tertentu, potensi konflik bisa ditekan.

Namun konsekuensinya adalah ruang kompetisi menjadi lebih sempit, sehingga kader lain yang mungkin memiliki kapasitas tidak mendapatkan kesempatan yang sama untuk tampil.

“Saya juga menilai bahwa publik perlu memahami bahwa politik internal partai tidak selalu berjalan linear. Meskipun saat ini hanya dua nama yang menguat, tetap terbuka kemungkinan munculnya dinamika tak terduga menjelang Musda.” katanya.

“Bisa saja terjadi perubahan dukungan, muncul kompromi baru, atau bahkan keputusan berbeda dari pusat jika situasi dianggap belum sepenuhnya stabil.” beber Direktur Profetik Institute.

Pada akhirnya, Direktur Profetik Institute memandang situasi ini sebagai cerminan dari model politik partai yang masih bertumpu pada keseimbangan antara kekuatan pusat dan daerah.

“Hasil akhirnya memang cenderung dapat diprediksi, tetapi politik selalu menyisakan ruang kejutan. Justru di ruang itulah sering muncul manuver manuver yang tidak terbaca sejak awal.” tutup Asratillah. (LN)

Advertisement