PENULIS: Hasyim Arsal Alhabsi, Dehills Institute
LEGIONNEWS.COM – OPINI, Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi.
Ada paradoks yang jarang terlihat setajam ini di ruang publik kita: seorang pakar komunikasi yang justru paling konsisten merusak ekologi komunikasi itu sendiri. Ade Armando (AA) bukan sekadar kontroversial ia adalah preseden buruk yang berjalan di atas gelar akademiknya sendiri. Dan kasus 18 aduan terhadap Jusuf Kalla yang ia banggakan bukan sekadar blunder; ia adalah cermin dari sebuah patologi komunikasi yang perlu dibaca dengan serius.
I. Sang Arsitek Kebisingan
Dalam teori komunikasi, agenda setting bekerja dengan cara halus: menentukan apa yang layak dipikirkan publik, bukan apa yang harus mereka percayai. Tapi yang AA praktikkan jauh lebih agresif dari itu ia bekerja dengan logika Manufactured Crisis, krisis yang dirancang bukan ditemukan.
Polanya tak sulit dibaca.
Pertama, ambil fragmen video yang paling mudah memantik emosi, lepaskan dari konteks historisnya dalam hal ini, dari kompleksitas berlapis konflik Ambon dan Poso yang tak bisa dibaca dalam hitungan detik siaran.
Kedua, arahkan serpihan itu ke audiens yang paling sensitif terhadapnya.
Ketiga, tunggu reaksi meledak lalu tampil di layar kaca sambil berkata, “Lihat, ini buktinya.”
Delapan belas aduan polisi terhadap JK bukan bukti kesalahan JK. Itu adalah bukti bahwa provokasi bekerja sesuai rencana. AA menggunakan aduan yang ia pancing sendiri sebagai validasi eksternal atas narasi yang ia bangun. Seorang mahasiswa komunikasi semester tiga pun paham bahwa noise bukan sinonim truth. Ironi terbesar dari seluruh episode ini: ia tahu persis cara kerjanya, dan tetap melakukannya.
II. Diagnosis: Munchausen Politik
Dalam psikologi klinis, Munchausen Syndrome by Proxy menggambarkan seseorang yang dengan sengaja menciptakan kondisi sakit pada orang lain lalu memposisikan dirinya sebagai pihak yang paling tahu, paling peduli, paling relevan dalam krisis yang ia ciptakan sendiri. Polanya bukan mengobati; polanya adalah terus dibutuhkan.
Terjemahkan ini ke konteks politik, dan AA menjadi kasus yang hampir terlalu sempurna. Ia “menyuntikkan” narasi yang membelah ke ruang publik. Ketika luka sosial itu menganga ketika aduan demi aduan berdatangan ia berdiri di depan kamera bukan sebagai tersangka pemicu, melainkan sebagai komentator yang seolah hanya “mengamati”. Ini bukan sikap akademis. Ini adalah attention-seeking behavior yang memakai jubah intelektualisme.
Lebih jauh, ada lapisan yang lebih berbahaya: Gaslighting Politik. Dengan membanggakan 18 aduan itu sebagai semacam “kemenangan faktual”, AA secara sistematis menggeser titik persoalan dari siapa yang memicu menjadi siapa yang dilaporkan. Publik dibuat bingung menentukan siapa pelaku dan siapa korban. Itulah fungsi gaslighting yang sesungguhnya: bukan membohongi satu orang, tapi mengacaukan epistemologi kolektif.
III. Proyeksi dan Pembelahan yang Sesungguhnya
AA berargumen bahwa “kontroversi JK membelah rakyat.” Kalimat itu patut disimpan baik-baik bukan karena benar, tapi karena ia adalah contoh Proyeksi Psikologis yang hampir tekstual. Freud menyebutnya sebagai mekanisme pertahanan paling primitif: mengatribusikan dorongan atau perilaku diri sendiri kepada orang lain, karena mengakuinya pada diri sendiri terlalu menyakitkan.
Yang membelah bukan JK. Yang membelah adalah narasi yang disebarkan tanpa kejujuran konteks narasi yang mengubah rekaman lama menjadi amunisi baru, yang mengeksploitasi luka sejarah komunal demi kemenangan debat televisi yang tak berdurasi lebih dari tujuh menit.
Dan mengapa ini bekerja? Karena ekosistem media kita menghargai suhu, bukan kedalaman. Kontroversi adalah mata uang yang paling likuid. AA tak perlu benar; ia hanya perlu terlihat berani menghadang tokoh besar. Di pasar perhatian yang terpolarisasi, keberanian palsu menjual lebih baik dari kejernihan yang sesungguhnya.
Ketika Ilmu Dikonversi Menjadi Senjata
Yang paling menyedihkan dari fenomena AA bukan amarahnya, bukan keberaniannya yang semu, bukan pula 18 aduan itu. Yang paling menyedihkan adalah bahwa ia tahu. Ia memiliki perangkat intelektual untuk memahami dampak sistemik dari setiap fragmen video yang ia unggah dan ia tetap mengunggahnya.
Ini bukan sekadar haus popularitas. Ini adalah apa yang bisa kita sebut Erosi Empati Akademik: kondisi ketika seseorang begitu terserap dalam permainan wacana hingga lupa bahwa di seberang layar ada masyarakat nyata yang menanggung biaya sosial dari setiap kegaduhan yang mereka ciptakan. Hannah Arendt pernah menulis tentang “kebanalitas kejahatan” bagaimana kehancuran bisa terjadi bukan dari kebencian yang membara, tapi dari ketidakmampuan berpikir tentang dampak. AA mungkin bukan penjahat. Tapi ia adalah demonstrasi yang sangat fasih dari prinsip itu.
Ilmu komunikasi lahir dari kebutuhan manusia untuk saling memahami melintasi perbedaan. Ketika ilmu itu diputarbalikkan menjadi alat untuk memperkeruh, bukan menjernihkan sang penggunanya bukan lagi akademisi yang berbeda pendapat. Ia adalah bagian dari masalah yang ia klaim sedang ia analisis.

























