Oleh: Makmur Idrus
LEGIONNEWS.COM – OPINI, Dunia organisasi sering terasa seperti panggung sandiwara yang lupa menutup tirai. Loyalitas berdiri di tengah panggung, disorot lampu, diperlakukan seperti pahlawan. Integritas?
Biasanya duduk di sudut ruangan sambil menghela napas, sebab ia tahu perannya sering dianggap tidak menjual tiket.
Loyalitas itu mudah dirayakan. Tinggal angguk-angguk, tepuk tangan, ikut arus, dan senyumnya dilebihkan sedikit saat pemimpin lewat. Aneh memang: beberapa orang merasa paling aman jika dikelilingi pengangguk profesional.
Mereka alergi pada fakta, anti-kritik, dan lebih suka memelihara “tim hore” yang siap berseru setuju! bahkan sebelum mereka mengerti masalahnya apa.
Integritas bekerja lain. Ia tidak butuh sorotan. Ia hanya ingin organisasi tetap waras. Tanpanya, organisasi berubah menjadi kapal yang tampak gagah, padahal lambungnya sudah bolong. Semua awak bilang “tenang, aman”, tetapi ember penimba air makin sering berputar. Dan ketika kapal tenggelam, yang paling lantang berteriak soal loyalitas biasanya adalah mereka yang pertama lompat ke sekoci.
Sering kali yang berbenturan bukan loyalitas dan integritas, tetapi loyalitas kepada orang bukan kepada nilai.
Ketika seseorang dipaksa memilih antara membenarkan kesalahan atau dianggap pembangkang, sebenarnya yang diuji bukan dirinya… tetapi moral organisasi yang memintanya diam.
Orang yang menjaga integritas sering dianggap mengganggu suasana. Konon ia tidak loyal, tidak tahu hormat, atau “tidak paham situasi”. Padahal ia hanya tidak mau ikut mematikan lampu ketika ada yang ingin bekerja di kegelapan.
Suara jujur memang selalu terdengar sumbang di ruangan yang menggemakan tepuk tangan palsu.
Ada pula yang berlindung di balik kata “loyalitas” untuk menutupi agenda pribadi.
Diamnya orang lain mereka tafsir sebagai dukungan. Keberanian orang lain mereka cap sebagai pengkhianatan. Padahal jelas: loyalitas tanpa nilai hanyalah bentuk baru dari kepentingan pribadi yang dibungkus rapi.
Organisasi yang kuat bukan yang dipenuhi perajut pujian, tetapi yang diisi oleh orang-orang yang tetap lurus meski arah angin berubah-ubah. Loyalitas bisa diborong, dinegosiasi, bahkan dijadikan slogan. Integritas tidak bisa. Ia seperti tiang bendera yang tetap tegak: kadang diterpa angin politik, kadang dicueki, tetapi tidak pernah tunduk.
Saat loyalitas dan integritas tampak berseberangan, itu biasanya bukan masalah individu. Itu alarm, Itu tanda ada sesuatu yang retak dalam sistem. Dan dalam sejarah, perubahan besar justru lahir dari orang-orang yang berani memecah hening kepura-puraan.

























