Alfian Temui APPI, Jawaban Politik Masih “Lampu Kuning” ini Kata Pengamat Politik

0
FOTO: Munafri Arifuddin dan Andi Alfian Mallarangeng dalam suatu pertemuan di Makassar. (Tangkapan layar)
FOTO: Munafri Arifuddin dan Andi Alfian Mallarangeng dalam suatu pertemuan di Makassar. (Tangkapan layar)

LEGIONNEWS.COM – MAKASSAR, Petinggi Partai Demokrat, Alfian Mallarangeng menemui Munafri Arifuddin atau APPI di kota Makassar.

Dalam pertemuan keduanya membahas wacana kepindahan orang nomor satu di kota Makassar itu ke partai demokrat.

Saat ini Munafri masih memimpin DPD II Partai Golkar setelah Ketua DPD I Golkar Sulawesi Selatan, Ilham Arief Sirajuddin memperpanjang masa kepengurusan Golkar Makassar yang di pimpin APPI.

Advertisement

Dalam video yang beredar pada Sabtu (3/10/2026) pertemuan di salah satu cafe di Makassar.

“Saya melihat partai demokrat membutuhkan figur figur muda seperti bung APPI ini untuk membangun partai demokrat kedepan. Karena itu saya mengajak bung APPI ini bergabung ke partai demokrat,” ujar APPI.

“Tentu ini apresiasi yang setinggi-tingginya dan penghargaan yang sebesar-besarnya dari kami untuk partai demokrat,” ucap Ketua DPD II Golkar Makassar itu.

“Karena melihat keseriusan sehingga beliau datang ke Makassar hal seperti ini. Saya pikir ini hal yang sangat serius, Sehingga kita respon,” katanya.

“Tapi bagaimana pun berarti bukan menolak, bukan tidak menerima dan mengiyakan tapi ada prosedur yang harus kami lewati.” ucap APPI.

Dikatakanya, “Dari prosedur inilah yang harus kami lewati, sebagai salah satu kader partai politik, Tentu kami lebih mengutamakan etika politik, Nah sehingga, dalam proses ini saya harus menyelesaikan persoalan saya secara internal baru merespon apa yang disampaikan pak Andi Alfian,”

“Dan menurut saya salah satu partai yang selalu memberikan support dukungan dan memberikan partainya kepada saya dalam hal pemilihan wali kota di kota Makassar demokrat sudah melakukan itu,” tutur Munafri.

“Dan tahun 2020, Pada saat pasca COVID-19 itu, Satu-satunya Ketua Umum partai yang datang ke Makassar memberikan support itu bapak AHY, Ketua Umum Partai demokrat yang datang,” APPI mengisahkan.

“Jadi inilah saya melihat ini adalah salah satu poin yang memang klop, Kami dengan partai demokrat. Tapi mudah mudahan proses ini akan berjalan dengan baik, Jadi kita mengutamakan aturan aturan di internal partai yang kita harus jaga dan saya memastikan ini, Untuk ketika ini terjadi yah saya tidak punya lagi satu tanggungjawab yang saya jalankan secara bersama, itu yang saya sampaikan kepada beliau,” katanya.

“Alhamdulillah diapresiasi dengan baik diberikan penghargaan yang sangat baik dan ini tentunya kita merespon dengan baik,” pungkas Wali Kota Makassar itu.

Apa Pendapat Pengamatan Politik dari Direktur Profetik Institute

Direktur Profetik Institute, Asratillah, Menjelaskan dari pemberitaan tentang Andi Alfian Mallarangeng yang secara terbuka mengajak Munafri Arifuddin bergabung ke Partai Demokrat.

Langkah petinggi partai demokrat itu menurut Direktur Profetik Institute menunjukkan bahwa dinamika politik Sulawesi Selatan mulai bergerak melampaui batas partai.

Yang menarik kata Asratillah, bukan hanya siapa mengajak siapa, tetapi mengapa ajakan itu disampaikan secara terbuka oleh elite tingkat nasional.

Alfian menyebut Demokrat membutuhkan figur muda seperti Appi untuk memperkuat partai di Sulawesi Selatan, sekaligus mengaitkannya dengan hubungan politik yang telah terbangun sejak Pilwali Makassar 2018 hingga 2024. Ini memperlihatkan bahwa Demokrat sedang melihat Appi bukan hanya sebagai figur pemerintahan, tetapi sebagai aset politik jangka panjang.

“Saya melihat ada dua pesan politik sekaligus dalam langkah tersebut. Pertama, Demokrat sedang melakukan pendekatan terhadap figur yang memiliki posisi elektoral dan pemerintahan yang nyata di Makassar, ujar Asratillah, Sabtu (3/10/2026).

“Kedua, Demokrat sedang mengirim sinyal kepada publik bahwa pintu partai terbuka bagi figur politik yang memiliki kapasitas membangun kekuatan baru,” tutur petinggi partai demokrat itu menurut Direktur Profetik Institute ini.

Karena itu, ungkapan “wattunnami” dari Andi Alfian memiliki bobot politik lebih besar daripada sekadar ajakan personal.

“Apalagi yang menyampaikannya adalah Ketua Dewan Pakar DPP Demokrat. Namun sampai titik ini kita harus membedakan antara pinangan politik dengan keputusan berpindah partai. Appi sendiri masih menyatakan dirinya kader Golkar dan mengatakan perlu menyelesaikan proses internal terlebih dahulu.” katanya.

Dikatakannya, Dalam perspektif politik kepartaian, posisi Appi sekarang menjadi menarik karena ia berada di persimpangan antara loyalitas organisasi dan kalkulasi politik masa depan.

Golkar tentu memiliki kepentingan mempertahankan kader yang sedang menjabat sebagai Wali Kota Makassar, sementara Demokrat melihat peluang untuk memperkuat basis politiknya melalui figur tersebut.

Di sinilah perpindahan partai tidak dapat dibaca hanya sebagai persoalan kenyamanan individu. Ia selalu berkaitan dengan struktur kekuasaan, hubungan elite, basis dukungan, serta ruang politik yang tersedia bagi seorang kader.

Terlebih dinamika ini muncul ketika Golkar Sulsel juga sedang menghadapi proses konsolidasi internal menuju Musda.

“Saya kira respons Appi justru merupakan bagian paling penting dari pemberitaan ini. Ia tidak menutup pintu, tetapi juga tidak membuka pintu secara penuh. Pernyataan mengenai etika politik dan perlunya menyelesaikan proses internal menunjukkan bahwa Appi memahami konsekuensi politik jika menerima pinangan tersebut secara terburu buru.” beber Asratillah

Dijelaskannya, alam politik, menunda keputusan bukan selalu berarti ragu. Kadang justru merupakan cara mempertahankan ruang negosiasi agar semua kemungkinan tetap terbuka. Karena itu, publik sebaiknya tidak buru buru menyimpulkan bahwa Appi akan meninggalkan Golkar. Yang sudah pasti saat ini adalah Demokrat telah menyampaikan pinangan secara terbuka dan Appi telah meresponsnya secara positif namun belum memberikan keputusan.

Lebih jauh kata Asratilla, fenomena ini memperlihatkan bahwa kompetisi politik Sulawesi Selatan mulai memasuki fase reposisi elite menjelang kontestasi politik nasional berikutnya. Partai tidak hanya membutuhkan struktur organisasi, tetapi juga figur yang mempunyai daya jangkau elektoral dan kemampuan menghubungkan partai dengan masyarakat.

Lanjut, Dalam konteks itu, Appi menjadi objek perebutan politik yang menarik. Namun keputusan akhirnya akan sangat ditentukan oleh bagaimana hubungan Appi dengan Golkar berkembang, bagaimana Demokrat membangun tawaran politiknya, serta bagaimana Appi sendiri membaca masa depan karier politiknya.

“Jadi, berita ini belum merupakan cerita tentang kepindahan Appi, melainkan awal dari sebuah negosiasi politik yang potensial mengubah peta hubungan antarpartai di Sulawesi Selatan.” tutup Direktur Profetik Institute. (LN)

Advertisement