Operasi: “Preteli Siji-siji” Orang Dekat Jokowi, Gerindra Sentris di Kabinet

0
FOTO: Joko Widodo atau Jokowi. (Dok via Facebook)
FOTO: Joko Widodo atau Jokowi. (Dok via Facebook)

LEGIONNEWS.COM – RUBRIK, Kata “Preteli” merupakan bahasa Jawa yang kata dasarnya pretel yang artinya adalah lepas atau copot. Sedangkan Siji punya makna ‘satu’ bila mengunakan kata berulang berarti “Satu-satu”.

Kalau dimaknai “copot satu satu”.

Presiden Prabowo Subianto sepertinya mulai mencopot satu per satu orang orang dekat mantan Presiden RI ke-7, Joko Widodo atau Jokowi di Kabinet Merah Putih.

Advertisement

Seperti, Pada Kamis 1 Oktober 2026, Presiden Prabowo menggantikan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Kini Listyo Sigit hanya menjabat sebagai Kepala Staf Presiden (KSP), Dengan demikian Sigit kehilangan tongkat komando operasional atas ratusan ribu personel bersenjata dan kewenangan penyelidikan penegakan hukum di seluruh Indonesia.

Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo yang telah menakhodai kepolisian sejak era Jokowi akhirnya ditarik ke dalam struktur Istana untuk menjabat Kepala Staf Kepresidenan (KSP), digantikan oleh Komjen Pol Suyudi Ario Seto.

Secara formal, menempatkan jenderal bintang empat di pucuk KSP adalah bentuk penghormatan tinggi. Namun dalam kalkulasi riil kekuasaan, pergeseran ini merupakan manuver soft landing yang sangat presisi.

Kemudian Setelah Kapolri, Presiden Prabowo pada Jumat, 2 Oktober 2026 mengganti orang kepercayaan Jokowi yaitu Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno.

Pratikno, Diketahui sosok yang selama 10 tahun pemerintahan Jokowi bertindak layaknya ‘mahapatih’ perancang arsitektur politik kekuasaan. Ia oleh Prabowo ditempatkan sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Meski masih masuk dalam pemerintahan, bisa jadi ruang ‘gerak’ Pratikno tak lagi sebebas saat menjadi menteri.

Pencopotan Pratikno dinilai para analis sebagai penanda psikologis berakhirnya kompromi kekuasaan.

Sebagai tokoh sentral dalam lingkaran inti Jokowi, kehadiran Pratikno di kabinet Prabowo sebelumnya dipandang sebagai jaminan kontinuitas dan pemantau dinamika internal Istana.

Posisi Menko PMK kini diambil alih oleh Sugiono, salah satu kader ideologis paling dipercaya di lingkaran terdekat
Prabowo.

Bersamaan dengan itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (AGK), sosok elite Partai Golkar yang dikenal sangat dekat dengan Jokowi, turut tergeser.

Posisi Menperin kini diisi oleh Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Muhammad Sarmuji.

Terdepaknya dua figur berdaya tawar tinggi ini membuktikan bahwa perlindungan politik dari Solo tak lagi kebal menghadapi kebutuhan konsolidasi mandiri Prabowo.

Masih di hari Jumat, Presiden Prabowo mencopot Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI, Muhammad Qodari. Pendiri lembaga survei Indo Barometer itu dikenal ‘orang’ Jokowi. Ia kini hanya menjadi anggota Wantimpres.

Kursi Kepala Bakom RI kini diisi Syahganda Nainggolan, ia didampingi oleh Fadli Tri Hartono yang diangkat sebagai Wakil Kepala Bakom.

Bersamaan dengan itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (AGK), sosok elite Partai Golkar yang dikenal sangat dekat dengan Jokowi, turut tergeser.

Posisi Menperin kini diisi oleh Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Muhammad Sarmuji.

Terdepaknya dua figur berdaya tawar tinggi ini membuktikan bahwa perlindungan politik dari Solo tak lagi kebal menghadapi kebutuhan konsolidasi mandiri Prabowo.

Dilansir dari Suara.com Guru Besar Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ridho Al-Hamdi, menganalisis langkah ini sebagai kompromi politik yang sangat halus agar stabilitas keamanan tidak terguncang.

“Artinya tidak serta-merta diganti kayak Purbaya kemarin, kasusnya Purbaya diganti karena ada turbulensi di Bea Cukai dan tidak mau membantu dana, gitu kan? Tapi akhirnya tadi itu ada soft landing, lah bahasanya. Kan tidak terlalu kasar landing-nya,” ujar Ridho Al-Hamdi.

Dengan demikian, Kini terlihat dari figur-figur kunci yang selama satu dekade menjadi pilar gerbong kekuasaan Solo perlahan tapi pasti digeser dari episentrum kendali operasional negara.

Pratikno Terdepak, Mahapatih Dekade Lalu Resmi Terpental

Indikator paling mencolok dari operasi politik ini bermula dari kursi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK).

Pratikno, sosok yang selama 10 tahun pemerintahan Jokowi bertindak layaknya ‘mahapatih’ perancang arsitektur politik kekuasaan, resmi dicopot dan tidak lagi mengantongi portofolio jabatan di kabinet.

Jokowi sendiri, saat dimintai tanggapan oleh awak media perihal pergantian Kapolri ini, hanya melontarkan respons ringkas, “sudah saatnya,” ucap Jokowi.

Mengapa Bahlil Bertahan? Paradoks Kartu Truf Politik

Bahlil, yang selama ini dikena.l sebagai ‘loyalis’ Presiden ke-7 RI, tidak hanya dipertahankan sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), melainkan diberi mandat rangkap jabatan sebagai Menteri Koordinator Bidang
Hilirisasi dan Transisi Energi.

Langkah ini dinilai memperlihatkan bahwa Prabowo tidak bekerja secara serampangan atau berlandaskan sentimen personal belaka.

Bahlil memegang dua kartu truf krusial: tiket kepemimpinan Partai Golkar dengan kursi parlemen yang masif, serta kendali teknis atas proyek hilirisasi tambang yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi yang dijanjikan pemerintah.

Mempertahankan Bahlil adalah kompromi transaksional yang rasional demi mengunci stabilitas koalisi mayoritas di Senayan sekaligus menjaga arus investasi strategis, demikian analisa sejumlah pengamat.

Sentralisasi Kendali, Kabinet Kian Gerindra-Sentris

Di sisi lain, perombakan ini memperjelas arah komando kabinet yang semakin terkonsentrasi di tangan figur-figur kepercayaan Prabowo.

Naiknya Sugiono ke pos Menko PMK memperluas ruang kendali kader Gerindra di kementerian koordinator bidang kesejahteraan rakyat.

Sementara itu, Letjen TNI (Purn) Dudung Abdurachman dipromosikan dari KSP menjadi Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam).

Dengan Arrmanatha Nasir mengamankan pos Kementerian Luar Negeri, serta ekonom Dradjad Wibowo yang masuk memperkuat pos Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Prabowo telah mengunci hampir seluruh tuas kendali strategis: politik, pertahanan, diplomasi, hingga instrumen penegakan hukum.

Manuver pretel satu per satu ini memperlihatkan transformasi relasi kekuasaan di Indonesia pascapemilu: fase konsesi politik transisi kini telah usai, berganti dengan era di mana kepemimpinan sepenuhnya berputar di sekitar poros tunggal Istana Merdeka.

Advertisement