LEGIONNEWS.COM – JAKARTA, Sebanyak 44 bupati dari berbagai wilayah Indonesia kompak menyatakan dukungan terhadap langkah Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dalam mempercepat pengembangan bioetanol nasional.
Dukungan tersebut diwujudkan melalui kesiapan pemerintah daerah menyiapkan lahan dan menggerakkan petani untuk mengembangkan bahan baku bioetanol berbasis tebu, ubi kayu, dan jagung sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian energi nasional.
Sejumlah bupati dari Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Maluku, dan Papua Selatan hadir dalam Koordinasi Program Khusus Pemerintah untuk Bioethanol di Jakarta, Senin (21/9).
Mentan Amran mengatakan program bioetanol merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat kedaulatan energi setelah Indonesia berhasil mencatat berbagai capaian di sektor pangan dan biodiesel.
“Hari ini kami rapat hubungannya etanol yang sumbernya adalah singkong, tebu, dan jagung. Itu atas arahan Bapak Presiden Republik Indonesia. Bupati-bupati ada 44, sangat mendukung program ini. Insyaallah kita akan mulai bergerak sekarang dan tahun depan mudah-mudahan sudah mulai tanam,” kata Mentan Amran.
Menurutnya, pengembangan bioetanol membutuhkan dukungan lahan dalam skala besar dengan memanfaatkan potensi daerah dan tetap memperhatikan kesesuaian agroklimat serta kondisi sosial masyarakat setempat.
“Etanol ini butuh lahan 1 sampai 2 juta hektare dengan tiga komoditas strategis. Insyaallah kita akan bangun pabriknya, kita gerakkan masif seluruh Indonesia,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, dukungan penuh disampaikan para kepala daerah yang hadir. Mereka menyatakan siap menindaklanjuti arahan pemerintah pusat dengan menyiapkan lahan dan menggerakkan petani di wilayah masing-masing.
Plt. Bupati Muara Enim, Sumatera Selatan, Sumarni, mengatakan program bioetanol menjadi terobosan penting untuk menjawab tantangan krisis energi sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
“Kami sudah berkomitmen di sini, hadir lebih dari 40 bupati seluruh Indonesia yang menyatakan kesiapan lahan. Kami dari Kabupaten Muara Enim menyiapkan sekitar 6.000 hektare untuk singkong, jagung, dan tebu. Sesuai arahan Pak Menteri, 30 persen harus melibatkan rakyat,” katanya.
Ia menambahkan pemerintah daerah siap bergerak karena dukungan benih, alat dan pendampingan akan diberikan oleh Kementerian Pertanian.
”Yang hadir hari ini kita juga mendapatkan bantuan hand tractor, benih. Terima kasih Pak Menteri. Insyaallah ini jadi motivasi bagi kami dan kesiapan di daerah untuk mengembangkan tiga komoditas ini,” ungkap Sumarni.
Senada dengan itu, Bupati Malaka, Nusa Tenggara Timur, Stefanus Bria Seran, menyebut seluruh kepala daerah menyambut positif langkah pemerintah karena program tersebut dinilai memberikan manfaat langsung bagi petani.
“Rapatnya sangat berkualitas. Dipimpin Pak Menteri Pertanian bersama Pak Mensesneg. Kalau ada rapat-rapat dengan kepala daerah seperti begini, Indonesia pasti maju dengan cepat. Mayoritas rakyat kami adalah petani sehingga kami sangat antusias mengikuti program ini,” ujarnya.
Kabupaten Malaka, lanjutnya, telah mengusulkan pengembangan 24.000 hektare jagung dan 5.500 hektare ubi kayu untuk mendukung program bioetanol nasional.
“Kami akan sangat serius menindaklanjuti ini karena mendapatkan dukungan penuh berupa benih, alat olah, pupuk, dan tenaga ahli dari Kementerian Pertanian,” katanya.
Sementara itu, Bupati Garut, Jawa Barat, Abdusy Syakur Amin menyatakan daerahnya siap menjadi salah satu sentra bahan baku bioetanol berbasis jagung dan singkong.
“Indonesia sudah berhasil dalam ketahanan pangan, berikutnya adalah ketahanan energi. Garut memiliki potensi bahan baku etanol. Kami mendapatkan informasi ada peluang dibangunkan pabrik etanol dan pabrik singkong sehingga masyarakat semakin bersemangat menanam jagung dan singkong,” ujarnya.
Abdusy Syakur menyampaikan bahwa Garut menyiapkan tambahan sekitar 15.000 hektare jagung dan 15.000 hektare singkong yang akan didedikasikan untuk mendukung pengembangan bioetanol.
“Kami sangat yakin karena masyarakat kami sudah memiliki budaya menanam jagung dan singkong. Program ini juga akan mendukung penyerapan tenaga kerja di daerah,” katanya.
Pertemuan tersebut menjadi langkah awal konsolidasi nasional pengembangan bioetanol berbasis tebu, ubi kayu, dan jagung. Dengan dukungan penuh 44 bupati, pemerintah optimistis target pengembangan lahan dan industri bioetanol dapat segera direalisasikan untuk memperkuat kemandirian energi sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia. (*)
























