Langkah Dandim Wajo Berdayakan Warga, Ketua Relawan Setia Prabowo Dorong Jadi Model yang Bisa Direplikasi

0
Babinsa Wajo Melakukan Pemberdayaan Bersama Warga dalam Pengelolaan Sampah (Foto/Ist)*
Babinsa Wajo Melakukan Pemberdayaan Bersama Warga dalam Pengelolaan Sampah (Foto/Ist)*

MAKASSAR – Langkah Dandim Wajo Letkol Inf Harianto yang mendorong jajaran Babinsa mendampingi masyarakat mengolah sampah plastik menjadi paving block mendapat apresiasi dari Syamsul Bahri Majjaga, Ketua Relawan Setia Prabowo Sulawesi Selatan.

Syamsul memandang kegiatan tersebut sebagai salah satu contoh pendekatan pemberdayaan masyarakat di tingkat kewilayahan. Menurut dia, pendampingan Babinsa dalam kegiatan pengolahan sampah dapat menjadi ruang untuk mendorong kepedulian lingkungan sekaligus aktivitas produktif masyarakat, sepanjang dilaksanakan sesuai tugas dan kewenangan TNI.

“Yang dilakukan Dandim Wajo ini menarik. Persoalan sampah coba diubah menjadi kegiatan yang memiliki nilai guna. Bagi saya, semangatnya adalah Babinsa berdaya, rakyat berdaya, ketahanan negara menguat,” ujar Syamsul.

Advertisement

Ia mengatakan kedekatan Babinsa dengan masyarakat dapat menjadi salah satu modal dalam mengenali persoalan dan potensi di wilayah binaan. Namun, Syamsul menekankan bahwa masyarakat tetap menjadi pelaku utama dalam setiap kegiatan pemberdayaan.

“Babinsa bukan mengambil alih peran masyarakat. Kehadirannya lebih pada pendampingan dan membangun komunikasi sesuai tugasnya, sementara masyarakat yang menjalankan dan mengembangkan kegiatan tersebut,” katanya.

Atas dasar itu, Syamsul mendorong Pemerintah RI dan pimpinan TNI agar praktik-praktik serupa di daerah dapat dikaji dan dipertimbangkan sebagai bahan pengembangan model pemberdayaan yang lebih luas.

“Saya kira praktik seperti ini layak dipelajari. Bukan berarti sudah menjadi program nasional resmi, tetapi kalau setelah dievaluasi dinilai memberikan manfaat dan sesuai dengan kebutuhan wilayah, tentu bisa dipertimbangkan untuk dikembangkan di daerah lain,” ujarnya.

Syamsul mengakui bahwa setiap daerah memiliki karakter dan persoalan berbeda. Karena itu, menurut dia, bentuk kegiatan tidak perlu diseragamkan.

“Di Wajo ada pengolahan sampah menjadi paving block. Di wilayah lain mungkin potensinya ketahanan pangan, lingkungan, keterampilan atau ekonomi lokal. Yang penting masyarakatnya bergerak dan potensi wilayahnya dikembangkan,” katanya.

Ia juga mengapresiasi Dandim Wajo Letkol Inf Harianto atas perhatian terhadap kegiatan kewilayahan yang melibatkan masyarakat.

Bagi Syamsul, manfaat kegiatan tersebut perlu dilihat dari prosesnya, bukan hanya produk akhirnya. Pengolahan sampah, menurut dia, dapat sekaligus menjadi sarana edukasi lingkungan dan pengembangan keterampilan apabila dikelola secara berkelanjutan.

“Kalau kegiatan seperti ini konsisten dan masyarakat memang merasakan manfaatnya, tentu bisa menjadi contoh yang baik. Dari lingkungan, kita bisa masuk ke pemberdayaan; dari pemberdayaan, masyarakat memiliki ruang untuk menjadi lebih produktif,” ujarnya.

Syamsul berharap kolaborasi antara masyarakat, pemerintah daerah, komunitas dan unsur terkait dapat terus dibangun.

“Ini sebuah gagasan yang bisa kita dorong dan diskusikan lebih luas. Babinsa berdaya, rakyat berdaya, wilayah semakin kuat, tetapi semuanya harus berjalan sesuai peran, aturan dan kewenangan masing-masing,” pungkasnya.

Advertisement