LEGIONNEWS.COM – MAKASSAR, Tidak pastinya gelaran musyawarah daerah (Musda) partai golkar jadi perhatian publik di Sulawesi Selatan (Sulsel).
Steering Committee (SC), Musda ke XXI partai golkar, Armin Mustamin Toputiri kepada media Ahad (20/4) kemarin mengatakan hingga saat ini pihaknya masih menunggu keputusan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Golkar di Jakarta.
Sebelumnya diberitakan, Pelaksana tugas (Plt) Ketua DPD I Golkar Sulsel, Muhidin M Said mengatakan, musda Golkar Sulsel akan dihelat setelah musda dua daerah tingkat provinsi lainnya, yakni Sulawesi Utara pada 11 April 2026 dan Maluku Utara pada 12 April 2026
“Jadi kalau memang setelah itu nanti minggu-minggu depannya kita (Musda Golkar Sulsel). Mungkin apakah tanggal 18 (April).” ucap Muhidin.
Terkait itu, Direktur Profetik Institut, Asratillah menilai belum adanya kepastian jadwal Musda Golkar Sulsel perlu dibaca sebagai bagian dari proses penyesuaian politik, bukan sekadar penundaan biasa.
“Dalam partai seperti Golkar, waktu pelaksanaan Musda sangat ditentukan oleh kesiapan dua hal, yaitu konsolidasi di daerah dan sinkronisasi dengan keputusan pusat. Jika dua hal ini belum bertemu, maka penundaan sering menjadi pilihan untuk menghindari gesekan yang lebih besar,” ucap Direktur Profetik Institut kepada media, Senin (20/4/2026).
Direktur Profetik Institut itu melihat ada kemungkinan bahwa penguluran ini berkaitan dengan upaya DPP untuk memastikan konfigurasi politik yang lebih stabil sebelum Musda digelar.
“Saya juga melihat ada kemungkinan bahwa penguluran ini berkaitan dengan upaya DPP untuk memastikan konfigurasi politik yang lebih stabil sebelum Musda digelar,” beber Asratillah.
Katanya, Ketika kandidat masih sama sama aktif membangun dukungan dan komunikasi, maka DPP cenderung menunggu momentum yang paling tepat. Hal ini dilakukan agar hasil Musda nantinya tidak memunculkan konflik lanjutan yang justru merugikan partai secara keseluruhan.
“Terkait isu bahwa Musda bisa digelar di Jakarta, bisa jadi adalah sinyal kuat bahwa pusat ingin mengambil peran lebih dominan,” imbuh Asratillah.
Lanjut Direktur Profetik Institut itu, Bahwa pemindahan lokasi (Musda) seperti ini biasanya dilakukan jika DPP ingin memastikan proses berjalan lebih terkendali dan dekat dengan pusat pengambilan keputusan.
“Ini juga bisa dimaknai sebagai upaya untuk mengurangi tekanan lokal yang sering kali muncul jika Musda digelar di daerah,” katanya.
Namun di sisi lain, kata Asratillah melihat ada konsekuensi dari pendekatan seperti ini. Jika terlalu terpusat, kader di daerah bisa merasa ruang partisipasinya berkurang.
Padahal katanya, Kekuatan Golkar justru terletak pada jaringan daerah yang solid. Karena itu penting bagi DPP untuk tetap menjaga keseimbangan antara kontrol pusat dan aspirasi daerah agar tidak muncul kesan bahwa keputusan sepenuhnya ditentukan dari atas.
“Kita juga bisa memandang situasi ini sebagai fase transisi menuju keputusan besar. Musda Golkar Sulsel bukan hanya soal memilih ketua, tetapi juga soal menentukan arah partai ke depan,” imbuh dia.
“Karena itu, meskipun terkesan lama, proses ini sebenarnya sedang mengarah pada upaya mencari titik temu terbaik agar siapapun yang terpilih nanti bisa diterima oleh semua pihak dan mampu menjaga soliditas partai.” tutup Direktur Profetik Institut. (LN)
























