LEGIONNEWS.COM – MAKASSAR Integrated Clinical Pathways dan Icare System sebagai Strategi Manajemen Keperawatan dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan di Indonesia antar Prof. Rini Rachmawaty, S.Kep., Ns., MN., Ph.D raih guru besar Universitas Hasanuddin (Unhas).
Prof. Rini Rachmawaty, dikukuhkan secara resmi sebagai anggota baru Dewan Guru Besar.
Dia bersama empat guru besar Unhas menyampaikan Pidato Penerimaan di hadapan Rapat Paripurna Senat Akademik terbatas, Selasa (10/02
Menutup pidato pengukuhan, Prof Rini memberikan penjelasan tentang penelitian yang dilakukan mengenai “Integrated Clinical Pathways dan Icare System sebagai Strategi Manajemen Keperawatan dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan di Indonesia”.
Prof Rini menjelaskan, manajemen keperawatan merupakan proses koordinasi dan integrasi sumber daya keperawatan untuk memberikan pelayanan yang berkualitas kepada pasien. Di era rumah sakit modern, manajemen keperawatan tidak dapat dipisahkan dari upaya standarisasi proses perawatan yang menjamin keselamatan, efektivitas, dan efisiensi pelayanan. Dalam menjalankan fungsi ini, clinical pathways menjadi instrument penting.
Integrated Clinical Pathways (ICP) merupakan salah satu alat kunci dalam manajemen keperawatan kontemporer. ICP bertujuan menerjemahkan rekomendasi pedoman praktik klinis ke dalam proses perawatan, sehingga memaksimalkan keselamatan pasien dan efisiensi klinis.
“ICP menjadi sangat relevan untuk konteks Indonesia. Pertama, system jaminan kesehatan nasional yang menggunakan skema pembayaran prospektif berbasis Indonesian Case-Based Groups (INA-CBGs) menuntut rumah sakit memberikan pelayanan efisien tanpa mengorbankan kualitas. Tidak hanya itu, variasi praktik klinis yang tinggi antar tenaga kesehatan berpotensi menghasilkan luaran yang tidak konsisten dan pemborosan sumber daya,” jelas Prof Rini.
Secara keseluruhan, Prof Rini menyebutkan, penerapan model praktik keperawatan professional berbasis Integrated Clinical Pathways, baik pada penyakit fisik maupun gangguan kesehatan jiwa, memberikan kemanfaatan yang luas bagi berbagai pemangku kepentingan. Bagi pasien, ICP menjamin konsistensi dan kualitas keperawatan, mempercepat pemulihan, serta meningkatkan kepuasan terhadap layanan kesehatan.
Bagi tenaga kesehatan, ICP menyediakan panduan sistematis yang memudahkan koordinasi interprofessional dan pengambilan keputusan klinis berbasis bukti. Bagi rumah sakit, implementasi ICP terbukti meningkatkan efisiensi operasional dan memberikan dampak positif terhadap keberlanjutan finansial. Bagi system jaminan kesehatan nasional, penggunaan ICP yang luas dapat berkontribusi pada pengendalian biaya kesehatan tanpa mengorbankan kualitas pelayanan.
“Untuk memaksimalkan kebermanfaatan tersebut, kami mengembangkan iCare System, sebuah aplikasi ICP berbasis daring yang dirancang untuk memudahkan dokumentasi, pemantauan kepatuhan dan evaluasi luaran klinis secara terintegrasi. Aplikasi ini mengintegrasikan clinical pathways spesifik penyakit dengan standar bahasa keperawatan Indonesia,” tambah Prof Rini.
Melalui implementasi ICP yang konsisten dan terintegrasi dengan teknologi, dapat mewujudkan pelayanan kesehatan yang lebih aman, efektif, efisien dan berorientasi pada pasien. (*/mir)

























