Pilunya Dunia Pendidikan: Logis 08 Minta Buku dan Alat Tulis Gratis Usai Tragedi Ngada

0

JAKARTA — Ketua Umum Logis 08, Anshar Ilo menyampaikan keprihatinan mendalam atas tragedi meninggalnya seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) berinisial YBR di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga mengakhiri hidupnya akibat kekecewaan karena tidak dibelikan buku tulis dan pulpen oleh Ibunya.

Diketahui, YBR ditemukan tewas gantung diri di pohon cengkih pada Kamis (29/01). Polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan saat mengevakuasi YBR.

Peristiwa memilukan tersebut menjadi alarm keras bagi semua pihak, khususnya pemerintah, untuk lebih serius memperhatikan kondisi pendidikan dasar di daerah-daerah dengan tingkat ekonomi rendah.

Ketua Umum Logis 08 menegaskan, kejadian ini tidak boleh dipandang sebagai persoalan keluarga semata, melainkan cerminan masih adanya kesenjangan akses pendidikan yang layak bagi anak-anak Indonesia.

“Ini tragedi kemanusiaan sekaligus tragedi pendidikan. Tidak boleh lagi ada anak Indonesia yang kehilangan harapan hanya karena tidak mampu membeli buku dan alat tulis,” tegas Ketua Umum Logis 08 dalam keterangan resminya ke wartawan, Rabu (04/02).

Logis 08 secara tegas meminta pemerintah pusat maupun daerah untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar secara menyeluruh, terutama di wilayah tertinggal dan kurang mampu.

Salah satu langkah konkret yang didorong adalah menggratiskan seragam sekolah, buku tulis, dan alat tulis bagi siswa SD, agar kebutuhan dasar pendidikan tidak lagi menjadi beban keluarga miskin.

Menurutnya, pendidikan dasar seharusnya benar-benar bebas dari biaya tersembunyi yang kerap luput dari perhatian, namun berdampak besar pada psikologis anak.

“Buku, pulpen, dan seragam bukan kemewahan. Itu kebutuhan dasar. Negara wajib hadir memastikan semua anak bisa sekolah dengan martabat dan rasa aman,” lanjutnya.

Menjadi penting menurutnya adanya pendampingan psikososial di sekolah-sekolah dasar, agar guru dan lingkungan pendidikan lebih peka terhadap tekanan mental yang dialami peserta didik, terutama anak-anak dari keluarga prasejahtera.

“Ini tentu menjadi momentum evaluasi serius bagi sistem pendidikan nasional, agar tidak ada lagi anak bangsa yang merasa putus asa hanya karena keterbatasan ekonomi,” harap Anshar.

Advertisement