OPINI : Layangan Putus, Perbincangan Netizen, dan Hegemoni

290
Advertisement

Layangan Putus, Perbincangan Netizen, dan Hegemoni

Oleh : Amul Hikmah Budiman
(Direktur Eksekutif Saoraja Institute/ Magister Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin)

Belakangan ini, ruang sosial media kita sepertinya didominasi oleh potongan adegan dan perbincangan seputar film serial yang berjudul Layangan Putus. Film serial yang dimunculkan pada suatu platform video streaming dan disutradarai oleh Benny Setiawan yang diadaptasi dari tulisan Mommy ASF ini mampu menyita perhatian netizen. Bahkan beberapa adegan film ini yang hits dan viral dijadikan meme, parodi, bahkan konten promosi oleh beberapa netizen.

Film ini sebentar lagi akan mencapai titik ending, mungkin satu episode lagi akan menjadi kisah akhir drama antara Aris, Kinan, dan Lydia yang diperankan oleh Reza Rahardian, Putri Mirano, dan Anya Geraldine. Cerita film ini sebenarnya sudah sering menjadi topik pada beberapa sinetron di Televisi maupun film serial ataupun layar lebar lainnya. Menceritakan tentang perselingkuhan yang dilakukan oleh seorang suami yang bernama Aris dan mengkhianati istrinya yang bernama Kinan. Beberapa film Indonesia pernah mengangkat tema perselingkuhan dalam ceritanya. Namun, “Layangan Putus” ini mampu dikemas dengan baik dengan beberapa adegan dan dialog yang menyentuh emosi dan psikis para netizen sehingga menjadi salah satu film serial yang sukses ditonton oleh banyak orang. Data terakhir ditemukan serial ini berhasil mencetak rekor ditonton 15 juta kali dalam satu hari penayangan dan berhasil meraih trending hingga di 25 negara, seperti di Inggris, Uni Emirat Arab, Swiss, dan Swedia yang menempatkan serial garapan MD Entertainment itu trending nomor 2. Di media sosial, serial ini juga viral dan menjadi topik yang banyak diperbincangkan netizen seperti terlihat pada analisis Google Trends, Layangan Putus menjadi topik yang paling banyak dicari, mengalahkan pencarian untuk tayangan-tayangan lainnya.

Advertisement

Awal mula viralnya serial ini, ketika potongan adegan seorang Kinan yang menemukan bukti-bukti suaminya melakukan perselingkuhan. Termasuk potongan dialognya perihal Cappadocia dan frasa “Its my dream, not hers” banyak diunggah oleh dan dikreasikan oleh kebanyakan Netizen. Adegan ini begitu emosional diperankan oleh seorang Kinan, ditambah kata Cappadocia yang asing bagi banyak orang, sehingga mereka melakukan penelurusan pada perangkat pencarian terhadap Cappadocia itu sendiri.
Kesuksesan serial ini ternyata berdampak juga pada realitas. Beberapa unggahan di sosial media ditemukan curhatan beberapa suami yang membuat istrinya semakin posesif terhadap berbagai hal yang dilakukan oleh para suami. Semisal ketika menerima telepon, membalas pesan whatsapp, atau ijin bepergian. Segala adegan perselingkuhan yang ditampilkan Aris pada serial ini, menjadi sebuah catatan bagi para istri agar berperilaku penuh kehati-hatian terhadap perilaku yang sama dilakukan oleh para suami agar tidak terjadi padanya.

Serial ini dianggap berhasil menanamkan sebuah mindset kepada publik, bahwa kaum lelaki adalah individu yang sangat potensial dan rentan melakukan perselingkuhan, meskipun beberapa kasus secara realitas ditemukan bahwa tidak sedikit perempuan yang kerap mengawali perselingkuhan atas dasar ketidakpuasan ekonomi, gaya hidup, ataupun alasan “kenyamanan”. Sehingga, beberapa kaum Adam juga melayangkan protes di sosial media yang banyak “menyudutkan” laki-laki dalam perilaku perselingkuhan yang berdampak pada kehidupan rumah tangga mereka. Terjadinya perubahan sikap dan perilaku istri secara tiba-tiba atas segala kegiatan yang dianggap “membahayakan” bagi hubungan mereka berdua.

Dialog Film dan Pengaruhnya ke Publik

Serial film Layangan Putus memiliki karakteristik tersendiri bagi penontonnya, selain menguras emosi terhadap perilaku menyimpang tokoh Aris, beberapa dialognya juga yang kerap melakukan mixing antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Asing ini menjadi ciri khas tersendiri dalam film tersebut. Paling menarik adalah dialog “Its my dream, not hers”, serta “oke fine, Thank You” yang diucapkan oleh tokoh Kinan menjadi buah bibir tersendiri di publik. Kita pun dibuat menjadi konsumen yang menggunakan diksi itu pada berbagai interaksi atau menyelipkan sebagai sentilan kita dengan orang lain, baik secara langsung maupun di dunia maya. Termasuk beberapa pelaku content creator, tiktokers, ataupun pelaku usaha lainnya memanfaatkan diksi itu untuk dimodifikasi ulang menjadi sebuah “jualan” yang menarik. Seperti yang dikatakan Sumarsono dan Pratana (2007: 18) mengisyaratkan bahwa bahasa tidak hanya sekedar sebagai alat bagi manusia untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya, tetapi juga sangat berpotensi pula untuk memengaruhi pemikiran seseorang. Bahasa-bahasa yang viral inilah yang kemudian dapat dikemas menjadi sebuah brand ekonomis ataupun politis agar mampu turut serta menjadi bagian hal yang diperbincangan publik.

Zacks (2015) mengungkapkan bahwa pembuat film yang bagus memiliki pengetahuan bagaimanakah itu persepsi, kognisi, dan emosi. Mampu memainkan dan mengontrol pikiran, pandangan, dan emosi penonton melalui adegan dan dialognya. Selain serial layangan putus, sebenarnya beberapa film pada beberapa waktu yang silam, juga berhasil menghipnotis kita dengan kutipan dialognya yang trend dan juga memiliki pengaruh yang signifikan dalam ungkapan percakapan kita di ruang sosial media maupun laris menjadi jualan politik ataupun bisnis tertentu. Sebut saja film Dilan 1992, berhasil bersarang di kepala kita dengan kutipannya “rindu itu berat, kamu tak sanggup melakukannya, biar aku saja”. Pula dalam film Ada Apa dengan Cinta (AADC) 2, kutipan dialog Dian Sastro kepada Nicholas Saputra “yang kamu lakukan ke saya itu, jahat” tidak sedikit yang memodifikasinya dalam hal konten yang berbeda. Menjadikannya sebagai konsumsi bahasa kita yang diselipkan dalam berbagai percakapan kita yang bersifat serius ataupun candaan. Termasuk menjadi kemasan yang baik dalam marketing produk-produk politik atau ekonomi.

Kecerdasan dan kreatifitas Sutradara atau Penulis Naskah dalam sebuah film memang memiliki pengaruh yang berdampak pada masyarakat luas. Termasuk pemilihan bahasa yang dikemas dengan rapi, unik, dan kreatif yang diucapkan oleh tokoh sentral menjadi pemantik yang baik dalam meluaskan pengaruh atau kepentingan. Sebagaimana yang dikatakan Harimurti dalam Purwo (2010: 4) bahwa bahasa merupakan fenomena yang menempati tempat sentral dalam kehidupan manusia. Posisi sentral ini sudah selayaknya menjadi media yang sangat baik dalam melakukan rekonstruksi pemikiran dan atau pandangan yang baru terhadap publik yang disalurkan lewat berbagai media, salah satunya yang paling potensial adalah melalui media hiburan, film.

Layangan Putus dan Hegemoni Gramsci

Mayoritas film yang menjadi buah bibir dan perhatian publik tidak lepas dari bertemakan percintaan. Kehidupan percintaan manusia selalu mendapatkan panggung yang baik dan mempengaruhi tutur kata, tindakan, dan psikis publik. Selain serial layangan putus, Beberapa waktu silam, Film Dilan 1992, Ada Apa dengan Cinta (AADC) 2, Ayat-Ayat Cinta, dan masih banyak lagi. Di Sulawesi Selatan juga kita pernah dihipnotis dengan film layar lebar yang berjudul Uang Panai’. Tentu, ini menjadi pasar yang baik bagi para Production House dalam menghasilkan film yang tema serupa yang digemari pasar. Film-film yang bertajuk realitas sosial, kritikan, dan sejarah kebangsaan terkadang sepi peminat dan tidak begitu memuncak menjadi perbincangan publik. Padahal, kita bisa menitipkan sebuah pandangan dan rekonstruksi berpikir publik terhadap sebuah realitas yang kita hadapi, semisal kita yang terus dimiskinkan oleh perilaku korup para elite pemerintahan dan politisi “busuk”, kondisi pesta demokrasi kita yang terus tergerus akibat oligarki politik, dan sebagainya. Namun, pesan tentang percintaan selalu cepat sampai dan memuncaki klasemen perbincangan publik dengan segala modifikasinya di sosial media maupun dunia nyata.

Serial Layangan Putus ini juga menyimpan sebuah makna tersendiri terhadap karakter tokoh yang dimainkan oleh Aris, Kinan, dan Lydia. Jika kita mendalami lebih jauh dengan melihat Aris dengan segala sikap manipulatif dan keegoisan dirinya yang tidak mau mengakui kesalahan atas perbuatan menyimpangnya, Kinan dengan segala kecerdasan dan kesabarannya dalam menghadapi segala perilaku menyimpang Aris, serta Lydia dengan segala ketidaktahuan dirinya yang tetap menjadi orang ketiga meski sudah diketahui oleh istrinya. Hingga harus terbawa pada realitas kehidupan seorang Reza Rahardian dan Anya Geraldine yang memainkan tokoh Aris dan Lydia dengan identitas seorang yang “jahat” dan “pelakor” yang dilabeli oleh netizen. Di Film Dilan 1992 juga pernah terjadi, seorang Iqbal yang memainkan karakter Dilan yang sangat romantis dan humoris “dipaksa” oleh netizen terbawa pada kehidupannya yang nyata. Meskipun karakter asli mereka tidaklah sedemikian rupa. Sehingga, kita dapat menarik hipotesa bahwa begitu besar pengaruh adegan-adegan dan dialog film tersebut sehingga mendegradasi identitas asli mereka.

Jika kita kawinkan beberapa potongan adegan dan dialog film yang viral dengan teori Hegemoni Gramsci sebenarnya juga dapat berkaitan. Hegemoni sendiri menurut Gramsci (1971) menekankan penerimaan kelompok yang didominasi terhadap kehadiran kelompok dominan. Hegemoni memiliki berbagai kekuatan untuk mempengaruhi masyarakat. Salah satu bentuk kekuatan hegemoni adalah adanya kemampuan untuk menciptakan cara berpikir atau wacana tertentu yang dominan, dianggap benar sehingga masyarakat meyakini wacana tersebut sebagai sesuatu yang benar juga sebaliknya sebagai sesuatu yang salah atau menyimpang. Layangan Putus berhasil mempengaruhi pikiran dan tindakan beberapa perempuan, terutama yang sudah berumah tangga terhadap segala perilaku pasangannya yang dianggap membahayakan sesuai dengan adegan yang diperankan oleh Ari situ sendiri. Netizen sebagai kelompok dominan yang baru di ruang maya tidak hanya berhasil menjustifikasi label identitas yang baru pada realitas kehidupan seorang Reza dan Anya, pula menggiring perubahan perilaku publik.

Media Film benar-benar telah berhasil menjadi jembatan lahirnya pemikiran dan perubahan perilaku publik. Sebagaimana yang dikatakan Gramsci (1971) bahwa media dapat menjadi alat untuk menyebarkan wacana yang dipandang dominan tersebut. Saat ini media massa banyak digunakan sebagai alat untuk menyebarluaskan gagasan tertentu yang mendukung dan memperkuat kekuasaan kelompok tertentu sehingga diterima secara luas oleh masyarakat menjadi sebuah ideologi. Sebenarnya kita banyak menaruh harapan kepada para Sineas agar juga mampu memproduksi sebuah film dengan cerdas dan kreatif untuk memperlihatkan realitas kehidupan sosial kita dengan berbagai permasalahannya, semisal persoalan KKN serta Money Politic yang masih merajai pesta demokrasi kita dari masa ke masa dan masyarakat kita belum tercerahkan secara paripurna. Sebagaimana layangan putus, Dilan, AADC, dan sebagainya yang potongan-potongan adegan atau dialognya yang cerdas dan hits itu mampu di reduplikasi dan dimodifikasi para netizen secara massif di tengah gempuran para Buzzer yang menggiring opini publik dan terkadang tidak sesuai realitas.

Advertisement