PEMERINTAH, Legion-news Berbagai masyarakat mempertanyakan mahalnya tes swab PCR di Indonesia, Selama pelaksanaan PPKM Level 2,3, dan 4 untuk tujuan ke safu wilayah di Indonesia selain menunjukkan bukti tanda sudah divaksin dosis pertama dan kedua, masyarakat juga diminta untuk membawah hasil tes swab PCR.
Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, harga kisaran tes swab PCR mencapai harga Rp900 ribu.
Kementerian Keuangan;
Menteri Keuangan menyampaikan adanya pembebasan PNBP itu dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 104/PMK.02/2021 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Layanan Uji Validitas Rapid Diagnostic Test Antigen yang Berlaku pada Kementerian Kesehatan.
Aturan tersebut ditetapkan Sri Mulyani pada 2 Agustus dan diundangkan sehari setelahnya. Ketentuan yang ada dalam PMK tersebut mulai berlaku efektif 15 hari setelah diundangkan, alias berlaku mulai 18 Agustus 2021.
Lewat aturan itu pula ditetapkan harga untuk rapid test antigen di lingkup Kementerian Kesehatan sebesar Rp694 ribu.
Kementerian Kesehatan;
Kesehatan mengungkapkan tingginya biaya tes swab PCR di Indonesia disebabkan oleh mahalnya harga reagen.”Reagen masih impor dan harga mahal,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan Widyawati kepada Media Indonesia, Sabtu (14/8) lalu.
Reagen sendiri merupakan ekstraksi yang digunakan untuk mengecek spesimen guna mendeteksi adanya virus SARS-CoV-2.Berdasarkan data dari Kemenkes sendiri, kata dia, sebenarnya biaya testing PCR di Indonesia yang dipatok sekitar Rp900 ribu jauh lebih rendah dibandingkan sejumlah negara.
Diantaranya Thailand yang mematok harga kisaran Rp1,3 juta sampai Rp2,8 juta, Singapura Rp1,6 juta, dan USA Rp1,5 juta.Seperti diketahui, tingginya harga tes swab PCR di Indonesia tengah menjadi sorotan.
Hal tersebut mencuat setelah harga tes swab PCR di India yang hanya mencapai Rp96 ribu.
Terpisah, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Tjandra Yoga Aditama menjabarkan, berdasarkan penuturan kawannya di India, bahwa pemerintah India menyediakan subsidi untuk pelaksanaan tes PCR bagi warganya.
“Teman dari India mengatakan mungkin ada subsidi dari pemerintah setempat, sesuatu yang nampaknya barangkali saja terjadi sebagai bagian penanggulangan pandemi,” kata Yoga.”Kalau harga tes lebih murah maka jumlah tes di negara kita juga dapat lebih banyak sehingga lebih mudah mengendalikan penularan di masyarakat,” lanjut dia.
Selain itu, murahnya harga tes PCR di India bisa juga dihasilkan dari fasilitas keringanan pajak yang diberlakukan pemerintah.Kemungkinan lain ialah murahnya bahan baku untuk industri dan tenaga kerja yang besar jumlahnya. (rdk)

























