LEGIONNEWS.COM – MAKASSAR, Kunjungan silahturahmi Adnan Purichta Ichsan ke kediaman Ketua Umum (Ketum) DPP partai Golkar Bahlil Lahadalia, di Jakarta, pada Senin (31/3/2025) pekan lalu jadi perhatian kader dan pengamat politik di Sulawesi Selatan.
Sebelumnya kader senior golkar menilai kunjungan silahturahmi mantan bupati Gowa dua periode itu dimaknai PDKT “Pendekatan” dengan ketua umum Golkar.

Tahun 2020 saat Airlangga Hartarto menjadi ketua umum partai golkar menerbitkan 3 surat rekomendasi (Diskresi) untuk nama calon ketua DPD Golkar di tiga provinsi di Indonesia, Yaitu DPD Golkar Kalimantan Timur (Kaltim), Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Sulawesi Barat (Sulbar).
Dari 3 surat diskresi DPP itu, Rudi Mas’ud (Kaltim) terpilih secara aklamasi sebagai ketua DPD Golkar. Hal serupa juga terjadi di Sulsel – Sulbar, Taufan Pawe dan Muh. Aras Tammauni juga terpilih secara aklamasi.
Pengamat dari Universitas Hasanuddin Makassar, Dr Hasrullah mengatakan “Surat Sakti” (Diskresi) oleh DPP Partai Golkar bisa dilihat dari faktor kedekatan atau lobi lobi yang dilakukan oleh calon ketua ke elit partai.
“Mengenai surat diskresi itu saya melihat siapa yang dekat dengan DPP partai golkar. Dia berpotensi mendapatkannya,” ujar Hasrullah, Jumat (4/4/2025).
“Tapi harus diingat pada saat pemilihan ketua golkar Sulsel nanti jangan terpengaruh dengan surat diskresi itu,” imbuh pakar dibidang ilmu komunikasi politik itu.
Katanya, Golkar harus memilih pemimpin di Sulsel yang punya kemampuan dan kapasitas serta leadership. Mengingat pada pemilu legislatif 2024 perolehan kursi partai golkar di tingkat satu dan dua anjlok.
“Kita tau bersama golkar dalam pemilu lalu jatuh, di DPRD tingkat satu kalah, DPRD tingkat dua kalah apakah Golkar akan memilih pemimpin dan pengurus seperti itu lagi untuk pemilu 2029 nanti,” tutur Hasrullah.
Disampaikannya, Golkar harus membutuhkan sosok pemimpin baru yang mampu kembali membawa partai Golkar ke masa kejayaannya di Sulsel.
“Sulsel ini dari dulu lumbung suara partai golkar. Majunya sebuah partai harus memilih pemimpin yang punya leadership, kapasitas dan mampu blusukan kemana mana, yang lebih penting lagi dia mampu mendekati dan menyakinkan pemilih begitu. Kalau sekarangkan tidak,” katanya menjelaskan.
“Jadi saat ini Golkar Sulsel masih memiliki kader untuk menjadi ketua yang mumpuni. Ada pak Ilham Arief Sirajuddin dan Adnan Purichta Ichsan,” pungkas Hasrullah.
Saat ditanya DPP partai golkar selama ini lebih memilih kader partai sebagai kepala daerah yang berkuasa (Pemerintah). Dr Hasrullah menjelaskan saat ini partai Golkar di Sulsel perlu pemimpin yang dinamis.
“Partai golkar harus memilih pemimpin yang dinamis. Coba kita lihat sekretariat DPD Golkar Sulsel hampir sepi itu. Yang kita butuh pemimpin yang dinamis dan punya nama,” tutur Hasrullah yang juga mantan pengurus DPD AMPI Sulsel era orde baru itu.
“Intinya diera zaman seperti ini sosial injasmani, Orang yang dekat bermain dengan media sosial dan sering tampil itu yang akan berpotensi mendapatkan dukungan masyarakat,”
“Kembali saya katakan itu dibutuhkan orang yang punya kapasitas seperti Ilham dan Adnan seperti itu,” sambung Hasrullah. (LN)