
LEGIONNEWS.COM – MAKASSAR, Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan, sejumlah nama mulai menguat sebagai kandidat kuat untuk menduduki posisi Ketua DPD I Golkar Sulsel. Tiga figur yang memiliki peluang besar menggantikan Taufan Pawe adalah Adnan Purichta Ichsan Yasin Limpo, Munafri Arifuddin, dan Ilham Arief Sirajuddin.
Ketiganya merupakan kader Partai Golkar yang memiliki jaringan politik kuat dan mentor berpengaruh dalam pengambilan keputusan di internal partai. Adnan, yang saat Idulfitri kemarin terlihat dekat dengan Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia, disebut-sebut memiliki peluang besar. Sementara itu, Ilham Arief Sirajuddin memiliki kedekatan khusus dengan Nurdin Halid, dan Munafri Arifuddin mendapat dukungan dari Erwin Aksa serta Jusuf Kalla.
Namun, ada sejumlah pertimbangan yang harus diperhitungkan dengan matang terkait dengan dinamika politik dan hasil Pemilu 2024. Adnan, meskipun dikenal sebagai Bupati Gowa dua periode dan memiliki hubungan baik dengan Bahlil Lahadalia, dinilai tidak memberikan kontribusi besar terhadap perolehan suara Partai Golkar di Kabupaten Gowa maupun di tingkat provinsi pada pemilu sebelumnya.
Sementara itu, Ilham Arief Sirajuddin (IAS), yang sebelumnya merupakan kader Golkar sebelum berpindah ke Partai Demokrat, juga menghadapi tantangan besar.
Mantan Wali Kota Makassar dua periode ini pernah tersandung kasus tindak pidana korupsi dan menjalani hukuman selama empat tahun. Hal ini dinilai bertentangan dengan prinsip PDLT (Prestasi, Dedikasi, Loyalitas, dan Tidak Tercela) yang dianut Partai Golkar.
Di sisi lain, Munafri Arifuddin memiliki rekam jejak yang cukup positif. Ia berhasil membawa Partai Golkar menjadi pemenang dalam Pilkada Makassar serta meraih posisi runner-up pada Pemilu 2024 di Kota Makassar. Prestasi ini menjadi nilai tambah bagi Munafri dalam persaingan menuju kursi Ketua DPD I Golkar Sulsel.
Dengan dinamika politik yang berkembang, keputusan akhir tetap berada di tangan para pemilik suara dalam Musda Golkar Sulsel. Ketiga kandidat harus menunjukkan strategi dan pengaruhnya untuk memenangkan dukungan mayoritas kader partai. (*)