Penulis; Syamsul Bahri Majjaga, (Wasekjend DPP KNPI Bidang Reformasi Birokrasi)
LEGION NEWS. COM – OPINI, Gowa dan Takalar bukan sekadar wilayah administratif. Mereka adalah tanah legenda, tempat sejarah, budaya, dan tradisi berpadu menjadi mercusuar peradaban Nusantara.
Dari pelabuhan yang sibuk hingga pesantren yang hening, dari pasar yang riuh hingga istana yang megah, wilayah ini menjadi pusat perdagangan, diplomasi, dan pengetahuan yang menembus batas nusantara. Sejarah Gowa-Takalar dipenuhi nama-nama yang menembus dunia.
Sultan Hasanuddin, sang Ayam Jantan dari Gowa, menegaskan: “Kebebasan adalah harga diri; tanah ini tidak boleh dijual!”
Karaeng Galesong dari Takalar mengingatkan, “Kekuatan sejati adalah kemampuan menjalin jaringan, bukan sekadar menaklukkan laut.”
Syekh Yusuf Al-Makassari menegaskan: “Jangan biarkan akal dan iman terpisah; keduanya adalah cahaya yang menembus gelap.”
Dan Karaeng Karunrung, master jalur perdagangan dan diplomasi, bersaksi: “Strategi maritim adalah hidup; tanpa kendali laut, tak ada perdagangan yang selamat.”
Pasukan Balira, prajurit legendaris Gowa, berlayar hingga Asia, menebar disiplin, keberanian, dan strategi yang menjadi legenda.
Jika kita mau mengulas semua tokoh Gowa-Takalar, ceritanya tidak akan pernah habis dalam ingatan manusia. Namun ironisnya, banyak jejak heroik itu kini terhapus dalam peta kebijakan modern, digantikan oleh rancangan parsial yang tidak menyalakan potensi historis sama sekali.
Di tangan kepala daerah bersaudara saat ini, Gowa-Takalar seharusnya menjadi tanda zaman baru, tempat di mana sejarah heroik dan keunggulan budaya diterjemahkan menjadi pembangunan modern. Namun yang terlihat adalah masing-masing sibuk dengan kebijakan sendiri-sendiri, seperti dua sungai yang mengalir berdampingan tetapi tidak pernah bertemu di laut yang sama.
Bersaudara dalam darah itu baik, tetapi bersaudara dalam visi dan langkah lebih penting. Tanah yang pernah menembus dunia kini terjebak dalam fragmentasi strategi; potensi heroik dan global yang diwariskan oleh leluhur hampir sia-sia.
Bayangkan sebuah lembaga kolaboratif yang di bentuk oleh Dua kepala Daerah ini, Komite Literasi atau Dewan Rancang Bangun Bersama, yang menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara kebijakan dan potensi masyarakat. Di sini, sejarah menuntun langkah modern. Pasukan Balira menjadi inspirasi jalur perdagangan dan pendidikan internasional.
Sultan Hasanuddin menjadi panutan keberanian dan diplomasi strategi. Karaeng Galesong dan Karunrung menjadi panduan diplomasi budaya dan jalur maritim. Syekh Yusuf menjadi simbol jaringan intelektual yang menembus benua. Setiap tokoh, setiap sejarah, menjadi cahaya yang diterjemahkan ke dalam strategi pembangunan modern. Tidak parsial, tidak ego sektoral, tetapi terpadu, strategis, dan berdampak global.
Dari perspektif teori pembangunan modern, langkah ini sejalan dengan gagasan Amartya Sen tentang human capability: pembangunan bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, tetapi memperluas kemampuan manusia untuk menentukan hidup yang bermakna.
Gowa-Takalar memiliki modal sejarah, budaya, dan intelektual yang bisa memperkuat modal manusia dan modal budaya, menjadi pondasi pembangunan berkelanjutan. Praktik global membuktikan hal ini.
Kyoto, Jepang, memadukan warisan budaya dan inovasi modern, menciptakan daya tarik global sekaligus pertumbuhan ekonomi lokal. Cartagena, Kolombia, memanfaatkan sejarah kolonial dan pelabuhan untuk menjadi destinasi internasional sekaligus pusat perdagangan modern. Gowa-Takalar memiliki potensi lebih: sejarah heroik, jaringan global, dan akar budaya yang hidup hingga kini.
Sejarah mengajarkan satu pesan penting: cahaya bukan diwariskan untuk diam di masa lalu. Pasukan Balira menyalakan jalur perdagangan, Sultan Hasanuddin menyalakan keberanian, Karaeng Galesong dan Karunrung menyalakan diplomasi, Syekh Yusuf menyalakan jaringan intelektual, mereka semua menyalakan dunia.
Kini, cahaya itu menunggu kepala daerah untuk menyalakan kembali. Bersaudara dalam darah itu baik, tetapi bersaudara dalam visi, dalam peta jalan pembangunan, dan dalam keberanian untuk menyalakan kembali kejayaan masa lalu, itulah yang menentukan apakah Gowa-Takalar akan kembali menjadi mercusuar peradaban.
Gowa-Takalar tidak menunggu ego, tidak menunggu urusan parsial. Gowa-Takalar menunggu visi yang bersatu, strategi yang terpadu, dan keberanian untuk bersaudara dalam tujuan. Bangun peta jalan itu sekarang, satukan langkah, dan tunjukkan bahwa tanah legendaris ini mampu kembali menembus dunia, bukan sebagai cerita masa lalu, tetapi sebagai mercusuar masa depan yang menginspirasi generasi mendatang.
Dan saya membayangkan, di tangan kepala daerah bersaudara ini, Gowa-Takalar akan kembali menjadi simbol zaman.
Terpilihnya dua kepala daerah sedarah bukanlah kebetulan; ini adalah kehendak sejarah dan zaman. Gowa-Takalar yang pernah menorehkan jejak peradaban kini memanggil kembali untuk memenuhi takdirnya, menjadi daerah yang menginspirasi dunia, menyalakan kembali cahaya yang pernah menerangi Nusantara, dan membuktikan bahwa warisan leluhur bukan sekadar cerita, tetapi peta jalan menuju kejayaan masa depan.

























