Menimbang Arah Kepemimpinan GP Ansor Sulsel, Agar Konferwil Tidak Salah Pilih

0
FOTO: Ilustrasi Gerakan Pemuda Ansor
FOTO: Ilustrasi Gerakan Pemuda Ansor

Oleh H. Makmur Idrus.
Senior Ansor Sulsel.

LEGIONNEWS.COM – OPINI, Konferensi Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Sulawesi Selatan bukan sekadar agenda rutin organisasi. Ia adalah momen penentu arah: apakah Ansor akan melompat menjadi kekuatan sosial yang relevan dengan tantangan daerah, atau justru berjalan di tempat sibuk dengan urusan internal, tetapi absen dari problem riil masyarakat.

Sulawesi Selatan hari ini adalah wilayah yang kompleks. Ia kaya sejarah dan budaya, tetapi juga menghadapi persoalan nyata: ketimpangan ekonomi, konflik agraria, kerentanan nelayan dan petani, disinformasi digital, serta melemahnya kepercayaan publik terhadap institusi. Dalam konteks ini, memilih kepemimpinan Ansor tidak bisa didasarkan pada kedekatan personal, asal daerah, atau sekadar kemampuan menggerakkan massa saat konferwil. Jika itu yang dipakai, salah pilih hampir pasti.

Yang dibutuhkan Ansor Sulsel ke depan adalah kepemimpinan yang lahir dari kapasitas, integritas, dan pemahaman kontekstual daerah. Pemimpin Ansor Sulsel harus memiliki pemahaman yang tajam atas realitas lokal. Ia harus tahu bahwa problem Makassar berbeda dengan Luwu Raya, pesisir berbeda dengan pegunungan, Toraja berbeda dengan Ajatappareng.

Pemimpin yang melihat Sulsel sebagai satu wajah tunggal cenderung melahirkan kebijakan seragam yang tidak efektif. Dalam konferwil, pertanyaan penting bukan “siapa paling populer”, tetapi “siapa paling paham medan”.

Kedua, Ansor membutuhkan pemimpin dengan kemampuan advokasi dan komunikasi publik. Tantangan Ansor hari ini bukan kekurangan kader, melainkan kekurangan narasi yang kuat dan kredibel.

Pemimpin yang tidak mampu berbicara dengan bahasa publik, membaca kebijakan, dan berhadapan dengan media akan menjadikan Ansor reaktif dan mudah diseret arus. Konferwil harus berani memilih figur yang bisa menjelaskan sikap Ansor ke luar, bukan hanya mengatur barisan ke dalam.

Ketiga, kapasitas organisasi dan manajemen harus menjadi ukuran serius. Sulawesi Selatan kaya potensi kader dan jaringan, tetapi sering gagal pada tahap implementasi. Pemimpin Ansor ke depan harus terbukti mampu mengelola program, menjaga transparansi keuangan, dan membangun kolaborasi lintas sektor. Ansor bukan sekadar organisasi pergerakan; ia juga institusi yang harus dipercaya publik. Kepemimpinan yang abai pada tata kelola adalah tiket menuju stagnasi.

Keempat, pemimpin Ansor Sulsel harus memiliki kepekaan terhadap isu demokrasi dan HAM. Ansor tidak boleh kehilangan fungsi moralnya sebagai penyeimbang kekuasaan. Dalam situasi ketika publik sering tidak berdaya, Ansor harus berdiri bersama masyarakat bukan sekadar aman bersama penguasa.

Konferwil yang menghasilkan kepemimpinan terlalu nyaman akan menjauhkan Ansor dari khittah pengabdian.

Kelima, di era banjir hoaks, pemimpin Ansor harus cerdas secara digital. Ia harus memahami bahwa satu pernyataan keliru bisa berdampak luas, dan satu sikap ambigu bisa dimanfaatkan pihak lain. Literasi media bukan pelengkap, melainkan syarat kepemimpinan.

Semua kriteria ini harus dikaitkan dengan potensi daerah masing-masing. Pemimpin Ansor Sulsel idealnya mampu menempatkan kader urban sebagai pengelola wacana publik, kader pesisir sebagai penggerak ekonomi maritim, kader sentra pertanian sebagai penjaga ketahanan pangan, kader Luwu Raya sebagai mediator sosial dan lingkungan, serta kader Toraja sebagai duta toleransi. Pemimpin yang baik bukan yang menguasai semua peran, tetapi yang mampu menempatkan orang tepat di tempat yang tepat.

Namun, semua kecakapan itu akan runtuh tanpa satu fondasi utama: integritas moral. Konferwil harus menjadi ruang seleksi etika, bukan hanya adu strategi. Pemimpin Ansor Sulsel harus berani bersih, tidak menjadikan organisasi sebagai alat transaksi politik atau ekonomi. Di titik ini, senioritas bukan jaminan, tetapi rekam jejak adalah penentu.

Jika diibaratkan, Konferwil adalah momen memilih sistem operasi Ansor Sulsel lima tahun ke depan. Salah memilih, organisasi akan sering “hang”: konflik internal, program mandek, dan suara publik melemah. Tepat memilih, Ansor akan bergerak lincah, relevan, dan dipercaya.

Karena itu, Konferwil GP Ansor Sulsel seharusnya tidak hanya memilih ketua, tetapi menentukan arah sejarah. Yang dipilih bukan sekadar figur yang bisa menang di forum, melainkan pemimpin yang mampu menjaga marwah organisasi dan menjawab tantangan zaman. Salah pilih bisa diperbaiki di periode berikutnya, tetapi waktu yang hilang tidak pernah bisa dikembalikan.

Advertisement