Pidato Penerimaan Empat Guru Besar Unhas: Dari Energi Berkelanjutan hingga Nutrisi Presisi

0
FOTO: Empat guru besar Unhas menyampaikan Pidato Penerimaan di hadapan Rapat Paripurna Senat Akademik terbatas, Selasa (20/01).
FOTO: Empat guru besar Unhas menyampaikan Pidato Penerimaan di hadapan Rapat Paripurna Senat Akademik terbatas, Selasa (20/01).

LEGIONNEWSCOM – MAKASSAR, Sebelum dikukuhkan secara resmi sebagai anggota baru Dewan Guru Besar, empat guru besar Unhas menyampaikan Pidato Penerimaan di hadapan Rapat Paripurna Senat Akademik terbatas, Selasa (20/01). Masing-masing guru besar memaparkan pidato penerimaan sesuai bidang keilmuan.

Prof. Ir. Yusri Syam Akil, S.T., M.T., Ph.D.,

Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen Energi pada Fakultas Teknik Unhas ini menyampaikan pidato berjudul “Pengelolaan Energi Listrik Rumah Tangga untuk Konsumsi Berkelanjutan di Indonesia”.

Prof Yusri menjelaskan, tindakan pengelolaan untuk meningkatkan efisiensi konsumsi listrik dapat membantu dalam memitigasi perubahan iklim, menghadapi kenaikan harga dan kelangkaan bahan bakar, termasuk mengurangi biaya energi.

“Upaya mengoptimalkan konsumsi listrik seperti pada sektor perumahan merupakan tugas menantang bagi peneliti sebagaimana faktor penggerak beban begitu kompleks dan dapat bersifat unik di satu area, termasuk hal lain seperti ketersediaan data. Untuk itu, diperlukan pengembangan model atau framework berdasarkan lingkungan dimana beban listrik dikaji,” jelas Prof Yusri.

Penelitian yang dilakukan telah menghasilkan temuan terkait pengelolaan konsumsi listrik rumah tangga agar lebih efisien untuk konteks Indonesia. Sejumlah rekomendasi diturunkan dari skenario analisis dalam studi ini mencakup beberapa hal, seperti desain strategi hemat energi yang lebih realistis dengan mengacu kepada karakteristik pelanggan.

Prof. dr. Uleng Bahrun, Sp.PK., SubSp.I.K. (K)., Ph.D.,

Guru Besar Bidang Imunologi, Fakultas Kedokteran Unhas ini memaparkan tentang “Antibodi Monoklonal: Inovasi Dunia Kedokteran Berbasis Riset”. Dalam bidang diagnostik, antibodi monoclonal berperan besar mendeteksi penyakit secara lebih akurat dan dini. Antibodi ini digunakan dalam berbagai metode uji laboratorium, seperti ELISA, imunohistokimia dan rapid test, untuk mengidentifikasi keberadaan antigen tertentu dalam sampel biologis.

Prof Uleng menjelaskan antibodi monoclonal telah menjadi komponen penting dalam dunia kesehatan modern, karena kemampuannya mengenali target spesifik secara selektif. Dalam praktis klinik, antibodi monoclonal banyak dimanfaatkan sebagai terapi untuk berbagai penyakit, seperti kanker, autoimun dan infeksi.

“Dengan mekanisme kerja yang terarah, antibodi ini mampu meningkatkan efektivitas pengobatan sekaligus mengurangi kerusakan pada jaringan sehat. Hal tersebut menjadikan antibodi ini sebagai bagian dari pendekatan pengobatan presisi yang semakin berkembang,” jelas Prof Uleng.

Dengan terus berkembangnya teknologi, peran antibodi monoclonal dalam dunia kesehatan akan menjadi semakin luas dan esensial, dengan berbagai keunggulan, antara lain spesifisitas tinggi, konsistensi hasil, serta dapat diproduksi secara massal dengan teknologi konvensional maupun rekombinan.

Prof. dr. Marhaen Hardjo, M.Biomed, Ph.D.,

Guru Besar Bidang Biokimia Gastro-Entero Hepatologi pada Fakultas Kedokteran Unhas ini menguraikan tentang “Translasional Biomedis Penyakit Hati: Integrasi Fitofarmaka dan Terapi Sel Punca Menuju Pengobatan Regeneratif Masa Depan”.

Hati memiliki kemampuan regenerasi yang sangat baik. Pada cedera akut, sel hati dewasa mampu membelah diri dan menggantikan sel yang rusak, sehingga fungsi hati dapat pulih kembali. Namun, pada cedera kronis, proses regenerasi menjadi tidak optimal.

Fitofarmaka merupakan obat bahan alam yang dikembangkan melalui proses penelitian ilmiah yang sistematis. Berbeda dengan jamu, Fitofarmaka telah melalui uji pra-klinik dan uji klinik sehingga keamanan dan manfaatnya dapat dipertanggungjawabkan. Fitofarmaka dan sel punca merupakan dua pendekatan yang saling melengkapi.

“Berbagai penelitian menunjukkan bahwa bahan alam Indonesia memiliki potensi besar sebagai hepatoprotektor. Senyawa bioaktif dalam fitofarmaka bekerja menurunkan stress oksidatif, menekan inflamasi, memperbaiki metabolisme, serta menghambat aktivitas sel stellata. Dengan mekanisme ini, fitofarmaka berperan penting dalam pencegahan dan pengendalian tahap awal penyakit hati,” jelas Prof Marhaen.

Integrasi fitofarmaka dan sel punca menawarkan pendekatan terapi penyakit hati yang terpadu dan sangat menjanjikan. Kombinasi keduanya menghasilkan efek sinergis di antaranya meningkatkan efektivitas terapi, mengurangi kebutuhan dosis sel punca serta berpotensi meningkatkan keamanan terapi jangka panjang. Dengan kata lain, fitofarmaka adalah fondasi biologis, dan sel punca adalah mesin regenerasi, yang keduanya membangun platform terap masa depan untuk penyakit hati.

Prof. Dr. dr. Deviana Soraya Riu, Sp.OG., Subsp. KFM, MHPE

Guru Besar Bidang Ilmu Obstetri dan Ginekologi pada Fakultas Kedokteran Unhas ini menjelaskan tentang “Nutrisi Presisi: Harapan Mencegah Keracunan Kehamilan dalam Upaya Menyelamatkan Ibu Hamil dan Generasi Masa Depan”.

Akar masalah penyakit bermula di awal kehamilan, yakni pada kegagalan remodelling pembuluh darah di rahim. Dalam kondisi normal, pembuluh darah ini seharusnya melebar untuk menjamin pasokan nutrisi maksimal bagi janin. Namun, pada preeklamsia, posisi ini gagal terjadi.

“Urgensi kajian ini adalah sebuah kenyataan medis bahwa hingga hari ini, melahirkan bayi atau terminasi kehamilan, masih menjadi satu-satunya obat definitif bagi preeklamsia. Dalam menangani penyakit ini, khususnya pada usia kehamilan prematur, kita dihadapkan pada sebuah dilema, satu sisi berupaya mencapai pematangan janin dalam rahim, disisi lain mempertahankan kehamilan yang membawa ancaman ibu dan janin,” jelas Prof Deviana.

Pencegahan preeklamsia merupakan misi kesehatan global yang berdampak nyata pada kualitas bangsa dan efisiensi sistem kesehatan nasional. Menurut Prof Deviana, perlu melakukan transformasi paradigma, dari sekedar mengobati menuju pencegahan, dan dari intervensi farmakologis umum, menuju penguatan fondasi nutrisi presisi. (*/mir)

Advertisement