Profetik Institute: Tahap Akhir Pilrek UNHAS Tentukan Arah Keberlanjutan Transformasi Kampus

0
FOTO: Kampus Universitas Hasanuddin di Tamalanrea, Makassar, Sulawesi Selatan. (Properti via google)
FOTO: Kampus Universitas Hasanuddin di Tamalanrea, Makassar, Sulawesi Selatan. (Properti via google)

LEGIONNEWS.COM – Dinamika Pemilihan Rektor Universitas Hasanuddin (UNHAS) periode 2026–2030 kini memasuki tahap akhir yang akan digelar di Jakarta. Tahapan ini menjadi perhatian publik, bukan hanya karena akan menentukan figur rektor terpilih, tetapi juga karena menyangkut arah strategis kepemimpinan UNHAS ke depan.

Direktur Profetik Institute, Asratillah, menilai bahwa dinamika Pilrek UNHAS sejauh ini menunjukkan proses institusional yang relatif matang dan terkelola.

Pemindahan lokasi pemilihan akhir ke Jakarta, menurutnya, patut dibaca sebagai bagian dari mekanisme tata kelola yang sah dan rasional.

“Jakarta adalah ruang yang netral, sekaligus memudahkan kehadiran seluruh anggota Majelis Wali Amanat (MWA), termasuk unsur kementerian dan masyarakat. Dalam konteks ini, legitimasi prosedural justru semakin diperkuat,” ujarnya.

Asratillah menambahkan, tahapan akhir Pilrek UNHAS bukan sekadar formalitas administratif, melainkan fase krusial yang akan menentukan kesinambungan kebijakan, stabilitas institusi, dan daya saing universitas di tingkat nasional maupun global.

“Rektor bukan hanya simbol kepemimpinan, tetapi penentu arah institusi. Keputusan pada tahap akhir ini akan berdampak langsung pada keberlanjutan program, reputasi akademik, dan posisi UNHAS dalam peta pendidikan tinggi dunia,” jelasnya.

Dalam konteks tersebut, Asratillah melihat posisi Prof Jamaluddin Jompa sebagai petahana memiliki bobot tersendiri.

Selama masa kepemimpinannya, UNHAS mencatat sejumlah capaian penting yang bersifat struktural dan strategis. Di antaranya yakni peningkatan signifikan peringkat internasional, termasuk masuk dalam jajaran kampus elit dunia versi Times Higher Education World University Rankings (peringkat 951–1000 dunia dan 201 Asia), penguatan riset kelautan dan lingkungan yang berorientasi global, serta perluasan jejaring internasional dengan berbagai mitra akademik dan industri.

“Prestasi ini bukan sekadar angka peringkat, tetapi refleksi dari sistem yang bekerja, dalam hal ini tata kelola yang lebih modern, budaya riset yang menguat, dan orientasi internasional yang konsisten. Ini adalah modal institusional yang sangat berharga dan perlu dijaga kesinambungannya,” kata Asratillah.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa seluruh calon rektor UNHAS patut diapresiasi.

Menurutnya, keberanian para kandidat untuk menyampaikan gagasan, visi, dan kertas kerja di ruang publik akademik merupakan bagian penting dari literasi kepemimpinan kampus.

“Pilrek seharusnya menjadi ajang adu gagasan, bukan arena saling menegasikan. Setiap calon membawa perspektif dan pengalaman yang berkontribusi bagi diskursus pengembangan UNHAS,” ujarnya.

Menutup pernyataannya, Asratillah menekankan pentingnya menjaga suasana kondusif menjelang keputusan akhir MWA. Tahap akhir Pilrek UNHAS, menurutnya, harus dipahami sebagai momentum konsolidasi, bukan polarisasi.

“Yang dipertaruhkan bukan hanya siapa yang terpilih, tetapi masa depan institusi. Karena itu, pilihan rasional adalah pilihan yang mampu menjaga keberlanjutan prestasi, stabilitas kepemimpinan, dan martabat akademik UNHAS,” pungkasnya. (*)

Advertisement