1963, Bung Karno ke Mahasiswa Unhas: Ilmu Harus Membakar Semangat, Kalian adalah Masa Depan Negeri ini..!!!

FOTO: Prof. Arnold Mononutu, Rektor Universitas Hasanuddin (Kanan) promotor penganugerahan gelar Doctor Honoris Causa dalam bidang Ilmu Politik Hubungan Antar-Negara kepada Presiden Republik Indonesia Soekarno. (Properti via UnhasTV)
FOTO: Prof. Arnold Mononutu, Rektor Universitas Hasanuddin (Kanan) promotor penganugerahan gelar Doctor Honoris Causa dalam bidang Ilmu Politik Hubungan Antar-Negara kepada Presiden Republik Indonesia Soekarno. (Properti via UnhasTV)

LEGIONNEWS.COM – MAKASSAR, Waktu itu di bulan Mei 1954, Presiden RI pertama Ir. Soekarno datang ke Makassar. Sang Proklamator itu berdiri di mimbar menyampaikan pidatonya dihadapan masyarakat dan tokoh-tokoh lokal, Bahwa ia menyampaikan dukungannya terhadap pendirian sebuah universitas negeri ini.

Bahkan sang proklamator itu yang langsung mengusulkan nama: “Hasanuddin”—mengambil dari Sultan Gowa yang dijuluki Ayam Jantan dari Timur.

Sultan Hasanuddin merupakan raja Gowa ke 16, Dia terlahir dengan nama Muhammad Bakir I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape. Yang gagah berani melawan penjajah saat itu. Untuk itu bung Karno menyematkan nama raja Gowa itu di Universitas terbesar yang akan hadir di indonesia timur nantinya.

“Sebuah nama yang mengandung semangat,” kata bung Karno di Mei 1954.

Advertisement

“Untuk membentuk manusia-manusia berani dan berpikir merdeka.” sambung Presiden RI ke 1 itu.

Usul bung Karno itu bukan hanya sekadar retorika. Dua tahun kemudian, pada 10 September 1956, Universitas Hasanuddin (Unhas) diresmikan.

Sayangnya sang proklamator tak menghadiri peresmian universitas terbesar di Indonesia bagian timur itu.

Bung Karno tak hadir, tapi jejaknya tertanam dalam sejarah berdirinya kampus ini. Ia adalah salah satu penggagas, sekaligus pemberi napas ideologis pertama bagi universitas yang kelak menjadi simbol kecerdasan Indonesia Timur.

Sembilan tahun kemudian, Tepatnya di hari Senin, 29 April 1963, Bung Karno kembali datang ke Makassar. Saat itu Universitas Hasanuddin menganugerahkan gelar Doctor Honoris Causa dalam bidang Ilmu Politik Hubungan Antar-Negara kepada Presiden Republik Indonesia Ir Soekarno.

Di gedung rektorat, Bung Karno menatap lurus ke depan. Di belakangnya, dinding-dinding aula kampus Universitas Hasanuddin didekorasi sederhana: bendera merah putih, lambang negara, dan logo ayam jantan bertaji emas.

Di hadapannya, ratusan orang mahasiswa, dosen, pejabat sipil dan militer berdiri menyimak, sebagian mencatat. Suasana Makassar pagi itu panas, tapi tak seorang pun bergeming ketika suara sang orator menggema dari podium.

“Ilmu pengetahuan,” kata Soekarno, “tidak boleh hanya hidup di laboratorium dan perpustakaan. Ia harus menyala dalam dada setiap pejuang kemerdekaan. Menjadi obor dalam revolusi!”

Sebuah peristiwa yang tidak hanya monumental bagi kampus di ujung timur nusantara ini, tapi juga menegaskan posisi Unhas sebagai pusat pemikiran strategis dari luar Jawa.

Soekarno kembali ke Makassar di Mei 1963, Bukan sebagai penggagas, melainkan sebagai penerima penghargaan dari institusi yang ia bantu lahirkan.

Di hari itulah, Universitas Hasanuddin memberi gelar Doctor Honoris Causa kepada orang yang pertama kali menyebut namanya di ruang publik.

Adalah Prof. Arnold Mononutu yang berdiri di samping Bung Karno hari itu.

Rektor Universitas Hasanuddin yang juga mantan Menteri Penerangan ini menjadi promotor penganugerahan gelar.

Pilihan atas Mononutu datang langsung dari Soekarno sendiri. Ia menolak promotor dari Jawa.

“Saya ingin yang dari luar Jawa. Biar Indonesia tahu bahwa ilmu tidak terpusat,” begitu kira-kira arah pikirannya.

Mononutu sempat menghadapi keberatan. Ia belum bergelar profesor. Tapi dorongan dari Fakultas Hukum—serta pengakuan luas atas kapasitasnya dalam hukum internasional—membuka jalan.

Ia pun diangkat sebagai profesor khusus untuk dapat menjalankan tugas sebagai promotor.

“Sebuah pengakuan yang tidak datang dari kekuasaan,” kata seorang akademisi muda Unhas kala itu, “tetapi dari rasa hormat.”

Gelar yang diberikan pun bukan tanpa alasan. Soekarno dinilai berjasa besar dalam diplomasi internasional, terutama dalam perjuangan pengembalian Irian Barat ke pangkuan Indonesia.

Gelar itu menjadi peneguhan bahwa politik luar negeri Indonesia di masa awal kemerdekaan bukan hanya soal manuver kekuasaan, tapi juga strategi diplomasi berlandaskan hukum internasional.

Dalam pidato ilmiahnya yang berjudul Politik dan Revolusi, Soekarno tak berbicara tentang gelar atau penghargaan. Ia berbicara tentang arah. Bahwa revolusi bukan hanya soal senjata dan semangat, tetapi juga soal pikiran.

Bahwa politik adalah sarana luhur untuk menciptakan tatanan yang adil. Dan bahwa universitas, yang kerap terjebak dalam menara gading, seharusnya menjadi dapur ide-ide besar bangsa.

“Ilmu harus membakar semangat,” ucapnya, penuh tekanan. “Ilmu harus menjadi obor perjuangan.”

Para mahasiswa menyimak dengan mata berbinar. Sebagian mencatat dengan terburu-buru. Di deretan depan, para dosen—kebanyakan lulusan luar negeri yang baru pulang membawa semangat pembangunan—mengangguk dalam diam.

Seusai pidato, Bung Karno tidak langsung meninggalkan podium. Ia menatap aula sesaat, seolah sedang mematri wajah-wajah muda itu ke dalam ingatannya.

“Kalian adalah masa depan negeri ini,” katanya pelan. Lalu ia melangkah turun.

Pemberian gelar kepada presiden yang sedang menjabat tentu saja tak luput dari perdebatan. Tapi di Universitas Hasanuddin, gelar itu diberikan bukan karena kekuasaan. Tapi karena ketokohan, karena gagasan, karena kemampuan menerjemahkan cita-cita menjadi program dan gerakan.

Bagi kampus yang baru berdiri tujuh tahun itu, peristiwa ini adalah penegasan jati diri: bahwa dari Makassar pun bisa lahir pengakuan terhadap pemimpin bangsa.

Gaung penganugerahan gelar itu menyebar luas. Surat kabar di Jakarta, Surabaya, hingga Medan memuat berita itu.

Di kalangan akademisi, momen ini menjadi semacam legitimasi bahwa Universitas Hasanuddin bukan kampus pinggiran. Mahasiswa merasa bangga.

Dosen-dosen muda merasa diperhitungkan. Jumlah pendaftar meningkat. Dan, yang paling penting, kepercayaan publik terhadap Unhas menguat.

Lambang Ayam Jantan dari Timur yang terpampang di dinding aula hari itu terasa lebih hidup. Ia bukan lagi sekadar penghormatan kepada Sultan Hasanuddin. Ia menjadi simbol keberanian intelektual dari kawasan timur Indonesia.

Kini, lebih dari enam dekade kemudian, pidato Politik dan Revolusi masih dibacakan di ruang-ruang kuliah. Sebagian menjadi kutipan dalam skripsi, sebagian dibacakan ulang dalam upacara Dies Natalis. Tapi yang lebih penting: semangatnya tetap hidup.

Universitas Hasanuddin, yang kini tumbuh sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka di negeri ini, terus membawa obor yang dulu diserahkan Bung Karno di Makassar. Obor yang mengajarkan bahwa ilmu dan revolusi tidak bisa dipisahkan. Dan bahwa penghargaan sejati bukan soal jabatan, tapi soal keberanian memberi arah.

Sumber: Sejarah Berdirinya Universitas Hasanuddin: Buku Peringatan Dies Natalis ke-65 Universitas Hasanuddin, 2021.
Pidato Soekarno “Politik dan Revolusi”, disampaikan saat menerima gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Hasanuddin, 29 April 1963.

Advertisement